SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Lebih Sehat dengan Tidak Minum Susu

MENGAPA SAYA PERCAYA bahwa TIDAK minum SUSU MERUPAKAN PETUNJUK UNTUK MELAWAN kanker payudara”

Saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati atau menemukan obat untuk menyembuhkan diri saya sendiri. Saya seorang ilmuwan, oleh karena itu berpikir bahwa tentunya ada penjelasan yang masuk akal bagi penyakit mematikan yang menyerang satu dari 12 wanita di Inggris ini.

Saya telah merasakan penderitaan karena kehilangan satu payudara dan telah menjalani radioterapi. Sekarang saja menerima kemoterapi yang menyakitkan dan saya juga telah diperiksa oleh beberapa ahli spesialis yang paling terkemuka di negeri ini. Tetapi jauh di dalam hati saya, saya merasa yakin bahwa saya menghadapi maut. Saya mempunyai suami yang mencintai saja, rumah yang indah dan dua anak kecil yang memerlukan bimbingan saya. Saya sungguh ingin hidup.

Untunglah, keinginan hidup ini mendorong saya untuk menggali fakta-fakta, yang baru sedikit diketahui oleh sejumlah kecil ilmuwan
pada waktu itu. Setiap orang yang berhubungan dengan kanker payudara akan tahu bahwa beberapa faktor resiko – seperti usia tua, mens terlalu dini, menopause terlambat dan sejarah keluarga dengan kanker payudara, sungguh-sungguh tidak dapat kita cegah. Tetapi ada banyak faktor resiko lainnya yang dapat kita kontrol dengan baik.

Faktor-faktor resiko yang ‘terkontrol’ ini dengan mudah terwujud dalam perubahan-perubahan sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk mencegah atau mengobati kanker payudara.
Petunjuk pertama dalam memahami penyebab berkembangnya kanker payudara saya datang pada saat suami saya Peter, yang juga ilmuwan, pulang ke tanah air setelah bekerja di Cina, ketika saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi.

Ia membawa kartu-kartu dan surat-surat, serta juga beberapa ramuan dari tumbuh-tumbuhan, yang diberikan oleh teman-teman dan ilmuwan-ilmuwan mitra saya di Cina.

Ramuan-ramuan itu dikirimkan kepada saya untuk menyembuhkan kanker payudara itu. Meskipun kami menghadapi keadaan yang menyedihkan pada saat itu, kami dapat tertawa lepas, dan saya ingat telah mencetuskan perkataan bahwa ramuan ini merupakan pengobatan bagi kanker payudara di Cina, dan tidak mengherankan bahwa wanita-wanita di Cina berusaha menghindar dari penyakit ini.

Kata-kata itu selalu teringat di benak saya. “Mengapa wanita-wanita di Cina tidak terkena kanker payudara?” Saya pernah bekerja sama dengan mitra-mitra Cina dalam penelitian tentang hubungan antara kimia tanah dan penyakit, dan mengingat beberapa statistik yang telah dibuat.

Penyakit ini boleh dikatakan tidak terdapat di seluruh negeri Cina.
Hanya 10.000 wanita di Cina wafat karena penyakit ini, dibandingkan dengan persentase menakutkan bahwa satu di antara 12 wanita di Inggris meninggal dunia karena penyakit ini, dan bahkan angka ini lebih mengerikan lagi menjadi rata-rata satu di antara 10 wanita di sebagian besar negara-negara Barat. Hal ini bukanlah karena Cina merupakan negeri yang lebih bersifat pedesaan, dan tidak banyak terkena polusi perkotaan.
Di daerah Hong Kong yang padat, persentase meningkat menjadi 34 di antara 10.000 wanita, namun toh masih jauh lebih sedikit daripada di Barat.

Kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang juga memiliki persentase yang hampir sama dengan Cina. Padahal kedua kota ini telah diserang dengan senjata nuklir, sehingga selain kanker yang berhubungan dengan polusi, kita dapat memperkirakan adanya kasus-kasus kanker yang terkait dengan radiasi.

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari statistik ini sungguh mengejutkan. Apabila seorang wanita Barat pindah ke kota industri Hiroshima yang terkena radiasi, resiko terkena kanker payudara ini dapat menjadi satu berbanding dua. Tentu saja hal ini tidak masuk akal. Saya merasa yakin bahwa ada sebuah faktor gaya hidup yang bukan terkait dengan polusi, urbanisasi atau lingkungan hidup yang nyata-nyata telah meningkatkan kemungkinan wanita Barat terkena kanker payudara.

Saya kemudian menemukan bahwa penyebab perbedaan besar dalam persentase kanker payudara antara negara-negara Timur dan Barat bukanlah karena faktor genetika. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa apabila orang Cina atau Jepang pindah ke Barat, dalam satu atau dua generasi persentase kanker payudara mereka mendekati persentase dari penduduk negara di mana mereka tinggal.

Hal yang sama terjadi apabila orang-orang Timur sepenuhnya meniru gaya hidup Barat di Hong Kong. Sesungguhnya, nama populer yang disebutkan orang di Cina bagi kanker payudara adalah ‘Penyakit Wanita Kaya’. Ini disebabkan bahwa di Cina, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati apa yang disebut sebagai ‘Makanan Hong Kong.’

Orang-orang Cina menggambarkan semua makanan Barat, termasuk semua kudapan dari es krim dan coklat sampai spaghetti dan keju, sebagai ‘Makanan Hong Kong’ karena hanya terdapat di bekas koloni Inggris dan dulu jarang ada di daratan Cina.

Jadi sungguh masuk akal bagi saya bahwa apa yang menyebabkan kanker payudara saya ini dan banyaknya penderita penyakit tersebut di negara saya hampir dipastikan berasal dari sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup Barat kita, dari kalangan menengah yang lebih baik. Angka ini juga besar bagi para pria di sini. Saya telah mengamati dalam penelitian saya bahwa banyak data tentang kanker prostat juga sampai pada kesimpulan yang sama.

Menurut angka dari WHO, jumlah pria yang terkena kanker prostat di Cina pedesaan hampir tidak ada, hanya 0,5 pria di antara 100.000. Namun demikian di Inggris, Skotlandia dan Wales, angka ini 70 kali lebih tinggi. Seperti kanker payudara, penyakit ini merupakan penyakit kalangan menengah dan terutama menyerang kelompok-kelompok sosial yang lebih kaya dan mempunyai kehidupan sosial-ekonomi yang lebih tinggi, yaitu mereka yang dapat menikmati makanan yang bergizi tinggi. Saya teringat berkata kepada suami saya, “Ayo Peter, kamu baru saja pulang dari Cina. Apa sih gaya hidup Cina yang sangat berbeda dengan kita?”
“Mengapa mereka tidak terkena kanker payudara?”

Kami memutuskan untuk menggunakan latar belakang ilmu kami bersama-sama dan melakukan pendekatan dengan logika. Kami memeriksa data ilmiah yang mengarahkan kami pada kandungan lemak dalam makanan. Para peneliti pada tahun 1980-an telah menemukan bahwa hanya 14% kalori di hidangan Cina terdiri atas lemak, dibandingkan dengan hampir 36% di Barat.

Tetapi makanan yang telah saya makan selama bertahun-tahun sebelum terkena kanker payudara ini sangat rendah lemak dan berserat tinggi. Selain itu, sebagai ilmuwan saya tahu bahwa asupan lemak pada orang dewasa tidak menunjukkan peningkatan resiko kanker payudara dalam sebagian besar investigasi yang telah dilakukan pada kelompok-kelompok besar wanita selama dua belas tahun.

Lalu pada suatu hari sesuatu yang agak istimewa terjadi. Peter dan saya telah bekerja sama begitu erat selama bertahun-tahun lamanya sehingga saya tidak yakin siapa di antara kami berdua yang berkata terlebih dahulu: “Orang-orang Cina tidak makan produk dari susu!”

Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang bukan ilmuwan terjadinya ‘dentingan’ pikiran dan perasaan yang mendadak ketika menyadari bahwa pikiran kita terbuka pada sesuatu hal yang penting. Rasanya seperti ada banyak potongan gambar di dalam otak kita dan tiba-tiba, dalam beberapa detik, semua teka-teki ini terangkai dengan baik sehingga membentuk gambar yang jelas.

Tiba-tiba saya teringat kembali betapa banyak orang Cina yang tidak dapat mencernakan susu dengan baik, betapa orang-orang Cina yang bekerja dengan saya selalu berkata bahwa susu hanya untuk bayi, dan bagaimana salah seorang sahabat karib saya, yang keturunan Cina, dengan sopan selalu menolak keju pada saat jamuan malam.

Saya tahu bahwa tak ada orang Cina yang hidup secara tradisional, yang menggunakan susu sapi atau produk dari susu untuk memberi makan kepada bayinya. Dalam adat istiadat mereka, mereka menggunakan inang untuk menyusui tetapi tidak pernah produk dari susu.

Secara budaya, orang-orang Cina menganggap gaya Barat kita yang sangat menyukai susu dan produk dari susu sebagai sesuatu yang sangat aneh. Saya teringat ketika menjamu sebuah delegasi besar ilmuwan Cina tidak lama setelah berakhirnya Revolusi Budaya di Cina pada tahun 1980-an.

Atas nasihat Biro Luar Negeri, kami telah meminta kepada perusahaan jasa boga untuk menyediakan puding yang mengandung banyak es krim. Setelah menanyakan dari apa puding itu dibuat, semua ilmuwan Cina itu, termasuk interpreter, dengan sopan namun tegas menolak untuk memakannya, dan mereka tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikiran mereka. Pada waktu itu kami semua senang dan menikmati porsi tambahan!

Saya menemukan bahwa susu adalah salah satu penyebab umum alergi makanan. Sekitar 70% penduduk dunia tidak dapat mencernakan gula susu, Laktosa, sehingga para ahli gizi berpendapat bahwa kondisi ini normal bagi orang dewasa, dan bukan merupakan sebuah Deficiency (kekurangan). Mungkin alam berusaha mengatakan kepada kita bahwa kita telah mengkonsumsi makanan yang salah.

Sebelum saya terkena kanker payudara untuk pertama kali, saya telah makan banyak produk dari susu, seperti susu tanpa lemak, keju rendah lemak dan yoghurt. Saya menggunakannya sebagai sumber protein saya yang utama. Saya juga makan daging cincang sapi yang tidak berlemak, yang sekarang baru saya sadari mungkin sering berasal dari sapi perah.

Agar dapat mengatasi kemoterapi untuk tonjolan kanker saya yang kelima ini, saya telah makan yoghurt organik agar alat-alat pencernaan saya dapat pulih kembali dan mengembalikan bakteri-bakteri ‘yang baik’ ke dalam usus saya.

Baru-baru ini, saya menemukan bahwa pada tahun 1989 yang lalu, yoghurt telah terlibat dalam kanker ovarium (indung telur). Dr. Daniel Cramer dari University of Harvard telah meneliti ratusan wanita penderita kanker indung telur dan telah mencatat dengan rinci apa yang biasa mereka makan. Coba saya tahu tentang hal ini ketika ia pertama kali menemukannya.

Mengikuti nasihat Peter dan pendapat saya tentang makanan Cina, saya memutuskan untuk tidak saja menghentikan yoghurt tetapi semua produk dari susu, saat ini juga. Keju, mentega dan yoghurt serta semua makanan yang mengandung susu saya buang ke sampah.
Betapa mengherankan bahwa begitu banyak produk termasuk sup buatan, biskuit dan kue mengandung susu. Bahkan banyak merek margarin yang dijual dengan bahan dari minyak kedelai, minyak bunga matahari atau minyak zaitun dapat mengandung produk susu.

Oleh karena itu saya kemudian membaca semua kandungan yang tercetak di label-label makanan.

Sampai saat itu, saya setia mengukur perkembangan tonjolan kanker saya yang kelima ini dengan alat pengukur dan mencatat hasilnya. Meskipun para dokter dan suster banyak memberi semangat dan berkata positif kepada saya, pengamatan saya sendiri mengungkapkan kenyataan yang pahit.
Seri kemoterapi saya yang pertama untuk tonjolan kelima ini tidak berhasil – tonjolan itu tetap sama. Kemudian saya menghapuskan produk-produk dari susu. Beberapa hari kemudian tonjolan itu mulai mengecil.

Sekitar dua minggu setelah seri kemoterapi saya yang kedua dan seminggu setelah tidak mengkonsumsi produk dari susu, tonjolan di leher saya mulai terasa gatal. Kemudian tonjolan itu melunak dan mengecil. Garis di alat pengukur, yang tadinya tidak menunjukkan perubahan, sekarang menunjuk ke bawah setelah tumor itu menjadi kecil dan mengecil lagi.

Dan secara signifikan, saya mencatat bahwa daripada menurun secara perlahan-lahan (membentuk curve yang halus) seperti biasanya terjadi pada kanker, tumor yang mengecil ini digambarkan seperti garis lurus yang menuju ke bagian bawah alat pengukur, yang menggambarkan penyembuhan, bukan pembasmian (atau pengurangan) tumor.

Pada hari Sabtu siang sekitar enam minggu setelah tidak mengkonsumsi produk-produk susu ini, saya melakukan meditasi selama sejam kemudian meraba apa yang yang masih tersisa dari tonjolan saya. Saya tidak menemukannya lagi. Padahal saya sangat berpengalaman dalam mendeteksi tonjolan kanker, karena saya menemukan kelima tonjolan kanker saja itu sendiri. Saya turun ke tingkat bawah rumah dan meminta suami saya meraba leher saya. Ia pun tidak menemukan tonjolan apapun juga.

Hari Kamis berikutnya saja harus memeriksakan diri saya pada dokter spesialis kanker saya di Cross Hospital London. Ia memeriksa saya dengan teliti, terutama leher saya di mana sebelumnya ada tumor. Tadinya ia tercengang dan kemudian gembira ketika berkata, “Saya tidak menemukannya.”

Ternyata tidak seorangpun dari dokter-dokter saya yang memperkirakan bahwa seseorang dengan jenis dan stadium kanker saya (yang jelas-jelas sudah menyebar ke sistem getah bening) dapat bertahan hidup, apalagi begitu sehat dan gembira.

Dokter spesialis saya merasa sangat bahagia seperti saya. Tadinya ketika saya membicarakan gagasan saya dengannya, ia dapat memahami tetapi bersikap skeptis. Tetapi saya tahu bahwa sekarang ia menggunakan peta yang menunjukkan persentase kanker di Cina di dalam kuliah-kuliah yang diberikannya, dan menganjurkan makanan tanpa produk susu bagi pasien-pasien penderita kanker.

Saya sekarang meyakini adanya kesamaan dalam pertalian antara produk dari susu dan kanker payudara dengan merokok dan kanker paru-paru. Saya percaya bahwa dengan mengidentifikasi pertalian antara kanker payudara dan produk susu dan kemudian mengembangkan makanan yang khusus ditujukan untuk mempertahankan kesehatan dari payudara dan sistem hormon saya, telah menyembuhkan saya.

Sangat sulit bagi saya, dan mungkin juga bagi anda, untuk menerima bahwa sebuah zat yang begitu ‘alami’ seperti susu dapat berdampak begitu mencelakakan bagi kesehatan. Tetapi saya merupakan bukti hidup bahwa hal itu benar-benar terjadi dan mulai besok saya akan mengungkapkan rahasia kegiatan saya yang mengubah semuanya ini.

Dikutip dari buku “Your Life in Your Hands” karangan Professor Jane Plant, Ph.D, CBE.


Anggapan Keliru Susu Sapi Baik untuk Osteoporosis

Dokter dan ahli gizi pada umumnya menyarankan pasiennya yang menderita osteoporosis untuk mengonsumsi lebih banyak susu sapi dan produk susu lainnya karena mengandung kalsium tinggi. Kedengarannya cukup masuk diakal, tetapi tidak akan berhasil.

Orang Amerika dan Eropa Utara mengonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih menderita osteoporosis daripada orang Asia dan Afrika yang mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari.

Penyebab utama osteopororis adalah terlalu banyak mengonsumsi zat asam (acidic) yang berasal dari daging, gula dan bahan-bahan yang mengandung kimia. Untuk menetralisir kadar keasaman (acidity) tersebut, tubuh mengambil kalsium (alkalin) dari tulang.

Sehingga masalah osteoporosis bukanlah bahwa seseorang itu tidak cukup mengasup kalsium. Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan demikian, mengasup lebih banyak kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya, karena Anda bisa kehilangan lebih banyak daripada yang Anda asup (misalnya dengan tetap memakan daging, gula, dan bahan-bahan kimia lainnya).

Apabila ektra kalsium ini berasal dari makanan yang mengandung protein tinggi seperti susu, keju dan es krim, itu akan memperburuk keadaan. karena makanan ini adalah pembentuk asam (acid). Makanan-makanan ini menyebabkan tubuh kehilangan banyak kalsium.

Solusi utama adalah membuat tubuh menjadi alkalin. Dengan memakan lebih banyak sayuran dan menghindari makanan pembentuk asam seperti daging, gula dan bahan-bahan kimia.

Kelihatannya, dokter, ahli gizi dan perusahaan susu adalah keliru bila mereka mengatakan bahwa susu adalah sumber terbaik untuk kalsium. Kandungan kalsium lebih banyak bisa ditemukan di biji-bijian (khususnya biji wijen = sesame seeds) dan rumput laut (jenis hijiki). Biji-bijian ini mengandung 14 kali lebih banyak kalsium dari susu. Selain itu, biji-bijian ini juga pembentuk alkalin, makanan ini menyediakan kalsium tanpa membentuk asam yang menghilangkan kalsium dari tulang.

sumber penulisan di link berikut ini:

http://www.natural-cancer-cures.com/acidic-condition.html

untuk mengetahui makanan apa saja yang mengandung alkalin dan asam (acid) dapat dibaca di link ini

http://www.essense-of-life.com/info/foodchart.htm

Sebar luaskan artikel ini untuk membantu orang-orang yang Anda kasihi agar mulai menghentikan minum susu sapi karena itu akan memperparah penderita osteoporosis. Anak sapi dewasa saja tidak minum susu induk sapinya, dan tidak pernah sapi itu menderita osteoporosis.

--------------------------------------------------------------

Manfaat Susu Kacang Kedelai Atau Susu Soya

Susu Kacang Kedelai merupakan makanan yang penuh dengan Protein Nabati, mengandung 8 Asam Amino yang terkenal sebagai Zat yang sangat baik untuk tubuh. kandungan protein yang terdapat didalamnya 40% lebih tinggi daripada tumbuhan yang belum diproses dan makanan berdaging.

Kacang Kedelai adalah makanan berprotein tinggi, mengandung serat, saponin, asam lemak tak jenuh, Isoflavon, Lesitin, Zat Besi dan 8 jenis Asam Amino yang bermanfaat bagi tubuh juga vitamin B1, B2, niasin, riboflavin, piridoksin dan golongan vitamin B lainnya yang tinggi, serta vitamin E dan K.


Khasiat Susu Kedelai :
1. Menurunkan kadar kolesterol
Lesitin Soya dan Isoflavon pada kedelai berperan memperbaiki profil lipid yang bisa menurunkan kolesterol dan trigliserida.

2. Menurunkan kadar gula dalam darah
Isoflavon kedelai juga memberikan efek homeostasis glukosa, sekresi insulin dan metabolisme lipid yang mampu mengendalikan glukosa darah pada penderita diabetes.

3. Berperan sebagai antioksidan
Ini karena dalam kedelai mengandung senyawa yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas penyebab kanker dan penuaan dini. Radikal bebas beroksidasi dengan kolesterol jahat mengakibatkan tumbuhnya plak (lemak) dalam jaringan pembuluh darah.

4. Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit
Kandungan peptida (rangkaian asam amino) pada kedelai bisa meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan berbagai serangan penyakit, alergi dll.

5. Mengatasi berbagai masalah pencernaan
Kandungan serat yang cukup tinggi pada kedelai terbukti bisa membantu mengatasi masalah pencernaan seperti maag, radang saluran pencernaan, susah buang air besar, dll.

6. Meningkatkan massa tulang dan atasi osteoporosis
Isoflavon dan Calsium tinggi pada kedelai mempunyai fungsi meningkatkan kepekaan dan kepadatan tulang, serta pengaruh protein kedelai yang mampu mengurangi pengeluaran calsium pada saat buang air besar. Hal ini bagus bagi yang berusia 40 tahun ke atas terutama wanita yang menopause untuk mengurangi atau mengatasi osteoporosis.

7. Mengurangi keluhan saat menopause
Hal ini diperkuat oleh penelitian
Dr. Herman Adlercreutz, seorang peneliti bidang fitoestrogen yang menemukan fakta bahwa kandungan Isoflavon kedelai dapat mengurangi keluhan wanita menopause.

8. Mengatasi masalah kegemukan / obesitas
Kedelai merupakan sumber protein diet yang tepat karena kedelai sangat kaya akan kandungan fitoestrogen seperti Isoflavon dan lignan yang berpengaruh pada metabolisme energi.

9. Mengurangi resiko kanker prostat dan payudara
Peran genistin pada kedelai membantu mengontrol keseimbangan hormonal. Mekanisme penurunan resiko kanker prostat oleh kedelai melalui penghambatan proliferasi sel dan menunda bahkan menghentikan proses pertumbuhan sel kanker.

10. Membantu mengurangi resiko sakit ginjal

Ini terjadi karena kandungan protein kedelai lebih mudah diterima ginjal, sehingga dapat meringankan kerja ginjal, yang jangka panjangnya akan sangat membantu dalam mengurangi kerusakan ginjal.

Manfaat Susu Kacang Kedelai atau Susu Soya bagi BALITA

Sangat cocok untuk bayi yang alergi terhadap susu sapi, dan sangat baik di konsumsi bagi mereka yang mengalami obesitas, karena tidak mengandung kolesterol, serta kandungan Flavanoidnya sangat baik untuk melindungi jantung.

Kebaikan mengonsumsi susu soya :

Dapat meningkatkan daya ingat, menguatkan tulang dan sistem imun, bebas kolesterol, menghasilkan tenaga, melindungi jantung, merangsang metabolisme, mengontrol kadar gula dalam darah dan menurunkan tekanan darah. Selain itu susu kedelai juga dapat mencegah beberapa penyakit lainnya apabila dikonsumsi secara rutin.

Alergi susu sapi sering terjadi pada bayi dan anak-anak.

Sebenarnya yang menyebabkan reaksi alergi pada susu sapi adalah proteinnya.

Susu sapi terdiri dari protein, karbohidrat atau gula, lemak, vitamin, mineral, dan air. Protein susu sapi merupakan protein asing yang pertamakali dikenal bayi.

Sehingga alergi susu sapi (ASS) sering diderita pada bayi usia dini.

Alergi susu sapi dapat juga terjadi pada bayi atau anak-anak yang mengonsumsi susu sapi formula. Alergi susu sapi memang merupakan alergi terhadap makanan yang sering terjadi pada bayi atau anak-anak.

Pengobatan yang paling penting pada alergi susu sapi adalah eliminasi atau menghindarinya, termasuk dengan memberikan susu kedelai atau soya.

Tidak hanya susu saja yang harus mendapat perhatian, namun jenis makanan lain yang mengandung susu sapi juga harus dihindari, dan ini yang biasanya terlupakan.

Jadi hindari juga konsumsi makanan yang mengandung protein dari susu sapi, seperti biscuit, roti, ice cream dll.

Pemberian ASI eksklusif mungkin bisa menjadi salah satu alternatif, karena dilaporkan dapat mencegah penyakit atopik serta alergi makanan, namun harus diperhatikan bahwa ibu yang menyusui juga harus menghindari minum susu sapi.

————————————————————————————-

Cara membuat susu kacang kedelai

Kacang kedelai dipilah-pilah dari kacang yang rusak atau busuk, batu dan sampah2 lainnya.

  1. Setelah itu dicuci bersih, kemudian direndam dengan air bersih selama 4 – 5 jam.
  2. Kemudian diremas-remas untuk melepaskan kulitnya, lalu kulit kacang tsb dibuang dengan cara membilas-bilas dengan air.
  3. Setelah bersih dari kulitnya, lalu di blender. Pada saat blender harus dikasih air agar encer dan memudahkan untuk di blender sehingga menjadi bubur kacang.
  4. Bubur kacang tersebut dicampur air lagi agar memundahkan untuk disaring dengan menggunakan kain kasa atau kain lainnya, hasilnya adalah susu kacang mentah.
  5. Susu kacang mentah tersebut dimasak sampai mendidih, lalu tambahkan gula secukupnya, maka jadilah susu kacang kedelai atau susu soya yang siap untuk di konsumsi.

Catatan :

  1. Perbandingan kacang dan air ; 1 ons kacang = 1,5 liter air. (Atau menurut selera).
  2. Waktu memasak susu kacang tersebut harus di aduk-aduk terus sampai mendidih, maksudnya agar tidak gosong.
  3. Untuk menambah aroma, waktu dimasak boleh ditambahakan daun pandan atau panili atau menurut selera.
  4. Untuk memperoleh redemen yang tinggi, penyaringan boleh dilakukan berulang-ulang atau seperti menyaring santan kelapa.
  5. Proses yang lebih gampang adalah dengan menggunakan blender yang bisa langsung menyaring .
  6. Untuk produksi home industri bisa menggunakan mesin instant, kapasitas 25 kg / jam dengan harga sekitar Rp.1.500.000,-
--------------------------------------------------------------
Susu Kedelai bukan Sekedar Pengganti Susu Sapi
Food: Wednesday, 7 Jul 2004 14:50:58 WIB
   
Susu kedelai kini sudah tak asing lagi bagi banyak orang. Bagi mereka yang
lactose intolerance (yaitu orang yang pencernaannya tidak mampu mencerna
laktosa, karbohidrat pada susu sapi), produk ini bisa menjadi pengganti susu
sapi. Apalagi susu kedelai juga kaya zat-zat gizi maupun non gizi yang
bermanfaat bagi kesehatan tubuh.Jika Anda tidak termasuk lactose
intolerance, mengkonsumsi susu kedelai pun bermanfaat untuk mencegah
berbagai penyakit. Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kedelai
bisa menurunkan risiko terkena penyakit kronis seperti jantung, diabetes,
dan ginjal. Juga membantu mengatasi tekanan darah tinggi serta menurunkan
kolesterol. Bagi wanita dan pria, mengkonsumsi susu kedelai ternyata
sama-sama besar manfaatnya.
 
Mengapa? Kedelai mengandung isoflavon 
Pada pria, kedelai telah terbukti bisa mencegah kanker prostat, penyakit yang banyak menyerang pria berusia di atas 40 tahun. Ini disebabkan kedelai banyak mengandung fitokimia (zat kimia nabati) yang disebut isoflavon. Jenis isoflavon utama yang ditemukan dalam kedelai adalah genistein dan daidzein.
 
Berdasarkan penelitian, genestein mampu menghambat pertumbuhan sel-sel
kanker prostat serta menghambat penyebarannya.Sedangkan pada wanita,
manfaatnya lebih banyak lagi. Kedelai bisa membantu mencegah kanker payudara dan osteoporosis. Umumnya wanita yang lebih banyak terpapar estrogen, seperti wanita yang menstruasi lebih dini, tidak memiliki anak, atau yang terkena kanker payudara. Namun, anehnya, meski isoflavon dalam kedelai ini merupakan fitoestrogen (suatu bentuk estrogen alami), tetapi di dalam tubuh
justru berefek mencegah kanker payudara. Dan bagi wanita yang telah
mengalami menopause, susu kedelai dapat membantu meredam gejala-gejala
menopause yang disebabkan menurunnya produksi hormon estrogen.
 
Jangan berlebihan. 
Meski pun banyak manfaatnya, tetapi sebaiknya tidak mengkonsumsi kedelai secara berlebihan. Sebab para ahli khawatir bahwa kadar isoflavon
yang terlalu tinggi di dalam tubuh justru akan menimbulkan kanker, khususnya
kanker payudara. Seberapa banyakkah kategori berlebihan tersebut? Menurut
Margo Woods, D.Sc., asisten dosen kedokteran dari Tufts University, Amerika,
yang telah meneliti efek kedelai pada wanita menopause, yang perlu
diwaspadai dalam hal ini adalah konsumsi kedelai dalam bentuk suplemen. Ia
lebih menganjurkan untuk mengkonsumsi kedelai dalam bentuk makanan utuh
seperti tahu, tempe atau pun susu kedelai. Tentunya tetap dalam jumlah yang
wajar, sehingga masih bisa mendapatkan aneka manfaat dari kedelai dan tetap

aman. (N)

(Sumber: Nirmala edisi Juli 2004)

5 Comments»

  Merry Rye wrote @

bukankah susu kedelai termasuk kategori susu? seperti pada artikel dr pasien penderita kanker payudara, ia berusaha utk menyingkirkan apapun makanan dr susu. termasuk susu kedelaikah? jadi kedelai ini aman utk kanker payudara atau sebaliknya?

  suman sutra 苏 宝 龙 wrote @

susu yang dimaksud pasti susu hewani, bukan susu nabati. susu kedelai tergolong susu nabati.

  Japan wrote @

Japan

I discovered your blog web site on google and examine just a few of your early posts. Continue to maintain up the superb operate. I simply extra up your RSS feed to my Yahoo engine. Searching for forward to studying more from you afterward!…

  Vegetarian is My Lifestyle | masyhudiannas wrote @

[…] Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009 bisa juga dibaca di http://sumansutra.wordpress.com/susu-sapi-bukan-untuk-manusia/ artikel tentang manfaat tidak baik susu lainnya bisa dibaca di: http://sumansutra.wordpress.com/anggapan-keliru-susu-baik-untuk-osteoporosis/ […]


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,699 other followers

%d bloggers like this: