SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Rematik (3)

Rematik (3)


Arthritis rematik juga merupakan ‘penyakit peradangan sistemik’, yaitu tidak hanya pada satu sendi saja yang menderita tetapi juga pada bagian lain. Jika bagian pinggul menderita, bagian lain juga terkena pengaruhnya. Biasanya dimulai pada sendi-sendi kecil di tangan atau kaki, tetapi akan merambat ke pergelangan tangan atau kaki, siku atau lutut, pinggul dan tulang belakang. Pada awalnya, gejalanya tidak begitu terasa, kadang-kadang nyeri dan sering sekali terasa tidak ada apa-apa. Tetapi akhirnya rasa nyeri itu bisa menjadi permanen dan menyangat. Tidak hanya berupa peradangan, tetapi kemudian bisa mengikis tulang rawan dan akhirnya juga ke tulang serta merusak jaringan pelindung (artricular cartilage). Pada kondisi lanjut, jaringan fibrosa dan tulang saling melekat sehingga persendian tak dapat lagi digerakkan12). Bahkan, penyebaran arthritis rematik juga bisa mencapai selaput paru-paru (pleura), selaput sekitar jantung (pericardium), putih mata (sclera), ginjal, kulit dst.

 

Bahkan, arthritis rematik juga menurunkan tingkat harapan hidup hingga 5 sampai 10 tahun. Pada sebuah penelitian panjang dan lama (puluhan tahun) di daerah Minnesota oleh Dr. Sherine Gabriel dkk. dan dipublikasikan oleh Mayo Clinic pada tahun 2005, penderita arthritis rematik memiliki resiko 2 hingga 5 kali lipat terkena penyakit jantung, diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan kelebihan berat badan13). Bahkan, dalam penelitian lain, Mayo Clinic juga menyebutkan bahwa arthritis rematik ini juga bisa menyebabkan serangan jantung dan kematian mendadak14, 15).

 

Secara teori, penyebab terjadinya arthritis rematik ini belum diketahui dengan pasti. Tetapi karena terdapat banyak sekali data yang menunjukkan bahwa ‘sistem kekebalan tubuh’ (immune system) sangat berperan pada perkembangan dan makin parahnya penderitaan, arthritis rematik juga sering disebut sebagai penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh bereaksi melindungi tubuh menghadapi serangan penyakit, kuman, virus dst. Sel darah putih akan melepaskan cairan untuk menangkis atau menangkal apa yang dianggapnya sebagai suatu serangan asing. Tetapi sayangnya terkadang hal ini juga terjadi sekalipun sesungguhnya bahaya nyata tak hadir, dan akhirnya justru membuat bagian itu menjadi sakit.

 

Mungkin bermula dengan cedera pada jaringan di daerah persendian yang terjadinya akibat regangan (strain) yang terlalu sering atau terlalu kuat ketika berolah raga, atau karena terkilir, atau juga karena otot terjepit, lalu sel-sel darah putih mengirimkan suatu cairan langsung ke bagian yang cedera sebagai usaha untuk menyembuhkannya. Menumpuknya cairan tersebut pada persendian, saraf, darah dan jaringan akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga menyebabkan peradangan, nyeri dan iritasi.

 

Biasanya respon imunitas bisa terjadi bila ada bakteria, virus atau parasit yang memicunya, tetapi makanan yang tidak cocok untuk tubuh juga akan membuat tubuh melakukan respon imunitas. Masih ingat bagaimana terjadinya penyakit diabetes tipe 1 bukan?

(lihat : http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/1b36716d70ac7fc1# )

 

Reaksi akibat alergi pada makanan juga dapat merangsang terjadinya respon imunitas yang akhirnya menimbulkan peradangan pada persendian. Bahkan anak-anak pun dapat menderita gejala penyakit ini, seperti pembengkakan persendian dan kaku-kaku, kelemahan otot, lambatnya pertumbuhan tulang hingga kelumpuhan.

 

Sebagai contoh makanan yang merasang terjadinya autoimun itu adalah produk susu hewani. Jika mengkonsumsi produk susu hewani, apakah itu susu, keju, yogurt, permen coklat, ice cream, krimer (walaupun dikatakan nabati), cake atau produk-produk lain yang mengandung bahan dari susu seperti ‘caseine’ dan ‘whey’ maka tubuh akan mendapat resiko lebih besar untuk menderita gejala alergi yang menyebabkan penyakit arthritis16). Terkadang gejala ini bisa terlihat dalam beberapa jam, sehari, atau bahkan beberapa lama setelah akumulasi makanan yang tidak cocok itu terserap dalam peredaran darah kita.

Sayangnya tes alergi makanan yang sering dilakukan, seperti tes pada kulit dan berbagai macam tes darah, tidak dapat menemukan penyebab gejala ini karena alergi pada kasus ini tidak berlangsung cepat. Hanya tes darah ‘IgE dan IgG antibodies’ saja yang mungkin dapat mendeteksinya lebih akurat, dan ini pun masih penuh pertentangan dari para ilmuwan karena manfaatnya masih kecil dan biayanya terlalu tinggi. Diperkirakan sekurangnya 350 ribu rupiah untuk satu jenis makanan17). Lalu, berapa besar yang harus kita keluarkan untuk mengetahui makanan apa saja yang membuat alergi pada kasus arthritis?

Tidak semua mengalami derita atas kasus alergi yang sama, banyak faktor yang membuat dan memicu semua itu muncul. Para ilmuwan pun sampai sekarang belum bisa menjelaskan dengan baik mengapa dan bagaimana seseorang membuat autoimun atau auto-antibodi dan mengapa auto-antibodi ini dapat menyebabkan penyakit. Yang jelas, daripada menunggu hasil penelitian yang tak kunjung selesai, daripada menunggu waktu lama atas hasil tes alergi yang belum tentu benar dan cocok, mengapa kita tidak menghindari mengkonsumsi susu dan produk yang terbuat dari bahan susu?

Kalau alergi  tidak terlihat, bukan berarti kita cocok pada makanan itu, siapa tahu bakal terjadi kemudian. Kalau terlihat tidak cocok pada sejumlah orang, bisa juga kita simpulkan bahwa hal itu mestinya juga tak cocok untuk untuk kita. Kalau toh kita tidak menunjukkan gejala yang langsung ada, tetapi kita mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya pada kemudian hari.

Jadi, gampangnya, untuk menghindarinya, jangan mengkonsumsi susu dan produk yang terbuat dari bahan susu hewani serta juga ‘casein’ dan ‘whey’. Lalu, apa lagi? Apakah hanya itu? Bagaimana dengan vaksinasi?

Ikuti pembahasan berikutnya pada bab-bab sesudah ini..

Selamat makin sehat dan bugar…

—————————————————- bersambung —————————————————————

1) Keluarga Victoria Buetenko, (pernah dikutip pada diskusi sebelumnya), http://greensmoothiesblog.com/vitamin-k-deficiencies-arthritis/

2) http://www.mirror.co.uk/life-style/dieting/dieting-news/tm_objectid=17024367&method=full&siteid=115875&headline=exclusive–raw-food-diet-has-cured-my-arthritis-name_page.html

3) http://www.care2.com/c2c/share/detail/92623

4)http://rawglow.com/blog/2009/07/08/raw-food-arthritis-testimonial/

5) http://www.beautifulonraw.com/raw-food-blog/rheumatoid-arthritis-helped-with-the-raw-food-diet-mama-we-need-you/

6) http://www.youtube.com/watch?v=z3xOU2tLl7g&feature=player_embedded

7) http://www.youtube.com/watch?v=y7TxqIurs2o&feature=player_embedded

8) http://lightningfitness.org/testimonials_about_healing_with_raw_unprocessed_foods_the_paradise_diet/

9) Vangsness Jr, C.; Spiker, W.; Erickson, J.,  “A review of evidence-based medicine for glucosamine and chondroitin sulfate use in knee osteoarthritis”. Arthroscopy 25 (1): 86–94, 2009.

10) Wandel S, Jüni P, Tendal B, Nüesch E, Villiger PM, Welton NJ, Trelle S, “Effects of glucosamine, chondroitin, or placebo in patients with osteoarthritis of hip or knee: network meta-analysis”British Medical Journal 341 (sep16 2): c4675, “Compared with placebo, glucosamine, chondroitin, and their combination do not reduce joint pain or have an impact on narrowing of joint space”, 2010.

11) Lafontaine-Lacasse M, Dore M, Picard, F, “Hexosamines stimulate apoptosis by altering Sirt1 action and levelsin rodent pancreatic β-cells”. Journal of Endocrinology 208 (1): 41–9, January 2011.

12) Majithia V, Geraci SA , “Rheumatoid arthritis: diagnosis and management”, American Journal of Medicine: volume 120 ( issue 11): 936–939, November 2007.

13) http://arthritis.about.com/od/mortality/a/lifeexpectancy.htm

14)http://www.yourmedicaldetective.com/public/Mayo_Clinic_Finds_that_Rheumatoid_Arthritis_Patients_Have_Higher_Risk_for_Heart_Disease_And_Cardiac_Sudden_Death.cfm

15) Gabriel SE, Crowson CS, “Risk Factors for Cardiovascular in Rheumatoid Arthritis”, UN National Library of Medicine National Institutes of Health, Mennesota, January 2012.


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: