SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Rematik (6)

Rematik (6)

Pada pembahasan-pembahasan sebelum ini, kita dapatkan bahwa susu hewani dan lemak dapat merangsang terjadinya respon imunitas yang akhirnya menimbulkan peradangan persendian. Tidak hanya itu, mulai banyak orang tahu tentang keburukan susu hewani bagi tubuh manusia, mulai dari mempertinggi  resiko terjadinya arthritis, oestoporosis, diabetes, obesitas, jerawat hingga kanker sehingga merreka  sadar dan lalu meninggalkan segala macam produk susu hewani. Sayangnya, akibat terobsesi oleh iklan para produsen hewani dan terutama produsen susu, banyak orang dan juga termasuk ahli nutrisi yang mengira bahwa tubuh memerlukan protein begitu besar. Bahkan American Diet Association pun mengatakan bahwa kebutuhan protein tubuh adalah sedikitnya 1,2 gram per kilogram berat badan (kalau berat badan mereka 60 kg, berarti mereka memerlukan 70,8 gram protein sehari). Akibat pengetahuan ini banyak mereka yang meninggalkan susu hewani lalu kebingungan mencari pengganti dan mereka menemukan susu kedelai dan produk kedelai. Kalau dulu mereka menggunakan produk kedelai sebagai lauk atau pelengkap makanan, sekarang mereka menggunakannya sebagai kebutuhan vital. Tak sedikit dari mereka yang lalu minum susu kedelai tiap hari disamping selalu menyertakan produk kedelai dalam jumlah banyak tiap kali mereka makan. Apalagi ketika mereka menemukan berbagai resep makanan baru sebagai pengganti susu, mereka seakan menemukan sebuah perjalanan baru yang sangat menantang dan begitu luas. Mereka menemukan berbagai macam makanan yang tak pernah mereka temui sebelumnya.

 

Namun, setelah beberapa lama, kesehatan mereka justru tidak membaik. Banyak dari mereka yang justru menderita berbagai gejala arthritis awal seperti pegal-pegal, kram, kaku leher, bahu agak sulit digerakkan hingga yang lebih kronis, yaitu menjadi arthritis, kelumpuhan, penyakit jantung dan juga kanker.

 

Sekalipun susu kedelai tetap jauh-jauh lebih baik daripada susu hewani, yaitu karena tidak ditambah dengan bonus ‘pestisida tinggi, hormon pertumbuhan, antibiotika dan memberikan dampak lingkungan yang begitu sangat buruk’, namun tubuh terpaksa harus bekerja keras menguraikan protein tersebut agar bisa menyerap hasil uraian itu dan membuang hasil uraian itu dengan mudah. Sisa-sisa hasil penguraian itu juga memicu autoimun tubuh dan juga menghasilkan senyawa-senyawa beracun seperti hidrogen sulfida, amonia dan asam urat pada proses pembusukannya.

 

Biji dan Tepung

 

Tidak hanya kedelai,  tetapi kacang tanah dan semua biji-biji yang lain serta semua tepung juga mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Semua tepung, termasuk nasi, mi, pasta dan roti tidak tercerna secara efisien. Secara biologis, tubuh tidak bisa mencerna asupan tepung dalam jumlah banyak. Kelenjar ludah (saliva) akan mengeluarkan enzim ptialin untuk mencernakan tepung. Tetapi begitu tepung itu bercampur dengan protein seperti pada nasi, roti, cereal, peanut butter dan susu, kelenjar ludah tidak mengeluarkan enzim tersebut dan terjadilah fermentasi pada perjalanan proses pencernaan tersebut. Begitu juga jika tepung itu sangat banyak dan orang cepat menelannya.

 

Selain itu, tepung (nasi, roti, mi, pasta dst) memiliki indeks glikemik yang tinggi, bersifat asam dan mengurangi penyerapan vitamin D.

 

Gula

 

Tidak hanya protein yang bertindak seperti itu, tetapi juga kombinasi gula dan tepung. Tak ada gula yang dicernakan di mulut dan di lambung. Gula itu bertahan lama di dalam lambung sehingga terjadi fermentasi di sana.

 

Semua gula olahan termasuk gula putih, gula merah, madu, molasses, sirup sebaiknya juga kita hindari dari pola makan kita. Mereka berkontribusi atas terjadinya osteoarthritis, yaitu begitu tulang mengalami degenerasi karenanya. Banyak racun yang dihasilkan sebagai efek samping dari proses pembuatannya. Rasa manis itu justru banyak membuat kepahitan pada kesehatan tubuh kita.

 

Racun yang dihasilkan dari fermentasi tepung dan gula serta pembusukan protein masuk ke dalam peredaran darah. Beberapa bagian dari racun itu dikeluarkan tubuh melalui kencing dan berbagai tempat sekresi yang lain, tetapi tidak sedikit yang disimpan dalam jaringan tubuh seperti jaringan pada persendian dan otot. Pada kondisi ini, penyakit arthritis mulai berkembang.

 

Jadi, biarkanlah burung-burung itu menikmati limpahan biji yang bertebaran di alam. Ambil sesedikit mungkin sekedar untuk variasi makanan. Dapatkanlah kalori dari buah manis tak berlemak. Peroleh vitamin dan mineral dari sayuran hijau segar. Puaskan rasa dengan sedikit biji atau buah kering sebagai sekedar perasa (bumbu, dan sama sekali jangan sampai sebagai lauk atau bahkan makanan utama) ……

dan marilah kita benar-benar terbebas dari rematik.

 

Masih adakah  yang menjadi kontributor terjadinya rematik, selain kegemukan, lemak, gorengan, masakan berlemak, minyak, ‘susu hewani dan produk hewani’, gula olahan termasuk madu, banyak kedelai (tempe, tahu, produk dari kedelai yang lain, susu kedelai dst) atau tepung (nasi, mi, roti, gluten,  atau produk yang terbuat dari biji yang lain)?24)

Lalu, apa yang harus kita makan?

Ikuti pembahasan tentang rematik pada bagian selanjutnya…

 

Semoga makin sehat, segar dan bugar dan bahagia!

 

—————————————————— bersambung ————————————————————-

 

1) Keluarga Victoria Buetenko, (pernah dikutip pada diskusi sebelumnya), http://greensmoothiesblog.com/vitamin-k-deficiencies-arthritis/

2) http://www.mirror.co.uk/life-style/dieting/dieting-news/tm_objectid=17024367&metho-d=full&siteid=115875&headline=exclusive–raw-food-diet-has-cured-my-arthritis-name_page.html

3) http://www.care2.com/c2c/share/detail/92623

4)http://rawglow.com/blog/2009/07/08/raw-food-arthritis-testimonial/

5) http://www.beautifulonraw.com/raw-food-blog/rheumatoid-arthritis-helped-with-the-raw-food-diet-mama-we-need-you/

6) http://www.youtube.com/watch?v=z3xOU2tLl7g&feature=player_embedded

7) http://www.youtube.com/watch?v=y7TxqIurs2o&feature=player_embedded

8) http://lightningfitness.org/testimonials_about_healing_with_raw_unprocessed_foods_the_paradise_diet/

9) Vangsness Jr, C.; Spiker, W.; Erickson, J.,  “A review of evidence-based medicine for glucosamine and chondroitin sulfate use in knee osteoarthritis”. Arthroscopy 25 (1): 86–94, 2009.

10) Wandel S, Jüni P, Tendal B, Nüesch E, Villiger PM, Welton NJ, Trelle S, “Effects of glucosamine, chondroitin, or placebo in patients with osteoarthritis of hip or knee: network meta-analysis”British Medical Journal 341 (sep16 2): c4675, “Compared with placebo, glucosamine, chondroitin, and their combination do not reduce joint pain or have an impact on narrowing of joint space”, 2010.

11) Lafontaine-Lacasse M, Dore M, Picard, F, “Hexosamines stimulate apoptosis by altering Sirt1 action and levelsin rodent pancreatic β-cells”. Journal of Endocrinology 208 (1): 41–9, January 2011.

12) Majithia V, Geraci SA , “Rheumatoid arthritis: diagnosis and management”, American Journal of Medicine: volume 120 ( issue 11): 936–939, November 2007.

13) http://arthritis.about.com/od/mortality/a/lifeexpectancy.htm

14)http://www.yourmedicaldetective.com/public/Mayo_Clinic_Finds_that_Rheumatoid_Arthritis_Patients_Have_Higher_Risk_for_Heart_Disease_And_Cardiac_Sudden_Death.cfm

15) Gabriel SE, Crowson CS, “Risk Factors for Cardiovascular in Rheumatoid Arthritis”, UN National Library of Medicine National Institutes of Health, Mennesota, January 2012.

16) http://www.centerforfoodallergies.com/arthritis.htm

17) http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/02/01/tes-alergi-apakah-sudah-memastikan-penyebab-alergi-makanan/

18) Charles P. Lucas Ph. D. and Lawrence Power Ph. D., “Dietary Fat Aggravates Active Rheumatoid Arthritis,” Department of Medicine, Wayne State University, Detroit, Michigan, 1989.

19) http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/6229e9df1cdf099f#

20) Doroty Pattison, “Dietary Factors for The Development of Inflammatory Polyarthritis”, Arthritis & Rheumatisme, December 2004.

21) http://www.dietaryfiberfood.com/purine-and-uric-acid/foods-with-high-or-low-uric-acid-content.php

22) Colloc’h N, Girard E, Dhaussy a, Kahn R, Ascone I, Mezouar M, Fourme R, “High pressure macromolecular crystallography: the 140-MPa resolution of urate oxidase, a 135-kDa tetrameric assembl”, Biochemica et Biophysica Acta – Proteins and Proteomics vol 1764:3., March 2006.

23) Wu XW, Muzny DM, Lee CC, Caskey CT., “Two independent mutational events in the loss of urate oxidase during hominoid evolution”,   J Mol Evol 34(1):78-84, January 1992.

24) Dr. Douglas N. Graham, “Granin Damage: Rethingkng the Hight-Starch Diet”, Food For Thought Publisihing, Florida, USA, March 2005.


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: