SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Lima Sifat Mulia – ala Confucius

Lima Sifat Mulia [ Wu Chang]

Lima Norma Kesopanan [Wu Lun] erat berkaitan dengan Lima Sifat Mulia [Wu Chang], dimana dinyatakan bahwa seorang Budiman [C’un Zi] harus mengolah dirinya sehingga memiliki Lima Sifat Mulia [Wu Chang] untuk dapat menjalin hubungan dalam Wu Lun secara harmonis baik secara pribadi ataupun bagi keseluruhan masyarakat. Wu Chang terdiri dari lima sifat luhur atau mulia berikut :

Jen : sifat mulia pribadi seseorang terhadap moralitas, cinta kasih, kebajikan, kebenaran, tahu diri,

halus budi pekerti, tenggang rasa serta dapat memahami perasaan orang lain, kemanusiaan.

I : sifat mulia pribadi seseorang dalam solidaritas, senasib dan sepenanggungan,

serta senantiasa membela kebenaran.

Li : sifat mulia pribadi seseorang dalam bersusila, bersopan-santun, bertata-krama,

dan berbudi pekerti.

Chih : sifat mulia pribadi seseorang mengenai kebijaksanaan, pengertian, dan kearifan.

Hsin : sifat mulia pribadi seseorang terhadap kepercayaan,dapat dipercaya oleh orang

lain, serta dapat memegang janji dan senantiasa menepati janji.

1. Cinta Kasih [Jen]

Jen merupakan satu sifat mulia yang paling mendasar di antara lima sifat mulia lainnya, yang mana dapat diterjemahkan sebagai suatu sifat kemanusiaan yang paling hakiki berupa cinta kasih, tenggang rasa, ramah tamah, kebajikan, kebenaran, ataupun sifat moralitas manusia yang termulia atau terluhur. Sebelum era Confucius, Jen dipahami sebagai suatu sifat kemuliaan ekslusif dari seorang kaisar terhadap rakyatnya. Dan kemudian makna kata tersebut diperluas sebagai suatu sifat kesusilaan, yang masih merupakan suatu sifat kemuliaan tetapi tidak terbatas penggunaanya oleh kaisar saja. Confucius mengubahnya dan mengkonotasikan dengan kesempurnaan susila atau moralitas, mencakup semua bentuk kesusilaan yang dijalani oleh manusia. Mencius dalam Chung Yung mengatakan bahwa ‘Jen adalah Jen’, yaitu Jen merupakan suatu ciri pembeda khusus manusia. Selama dinasti Han, arti kata Jen pada umumnya diinterpretasikan sebagai cinta kasih, dan oleh Han Yu, seorang cendekiawan semasa dinasti T’ang, ditegaskan maknanya sebagai cinta kasih terhadap sesama manusia.

Karena pengaruh ajaran Buddhisme, dimana sifat cinta kasih mencakup semua makhluk, maka oleh para Neo-Confucianis di era dinasti Sung dan Ming, memperluas pengertian Jen dengan pengertian yang sama dengan Buddhisme, dan menjadikannya suatu kesatuan cinta kasih dengan Yang Maha Esa [Th’ien], dunia, dan seluruh makhluk hidup. Pemikiran ini pada umumnya dikenal dalam sekte Ch’eng Chu yang beraliran rasionalistik dan Lu Wang yang beraliran idealistik. Namun terdapat juga, beberapa cendekiawan Neo-Confunicanis dalam dinasti Sung yang mengartikan Jen sebagai suatu tingkat kesadaran. Chu Hsi menyebutnya sebagai ‘suatu ciri pikiran dan prinsip cinta kasih’, dan Wang Yang Ming menyamakannya dengan ‘ciri yang suci’ dari pengetahuan alami.

Semua itu mencerminkan suatu kedamaian pikiran dan terkesan terlalu Buddhistik untuk para Neo-Confucianis pada abad ke-17 dan ke-18, yang kemudian menarik kembali komentar karya kuno pada awal dinasti Han dimana mendefinisikan Jen sebagai ‘masyarakat yang hidup bersama’. Penekanan baru ini lebih ditujukan kepada suatu kehidupan sosial dan aspek yang aktif dari Jen. Bagaimanapun, para Neo-Confucianis setuju, bahwa Jen atau sifat kemanusiaan merupakan suatu sifat moral yang dianugerahi oleh Yang Maha Esa [Th’ien], dan karena ciri utama dari Yang Maha Esa dan dunia adalah menghasilkan secara berkesinambungan, sehingga Jen dicirikan dengan suatu kegiatan yang berlangsung secara terus menerus, yang dapat diartikan dengan suatu ketegasan kehidupan dan pemberian kehidupan, tidak saja aktif tetapi juga kreatif. Atas pengaruh ilmu pengetahuan Barat di penghujung akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, para Confucianis modern menyamakan sifat Jen dengan suatu sifat dari arus listrik dan eter, suatu kekuatan dinamik dan suatu inti yang menyebar.

Confucius mencirikan seseorang yang memiliki sifat Jen sebagai suatu ciri manusia yang dapat memiliki sifat kasih dan benci.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Hanya orang yang memiliki Jen yang dapat mengasihi seseorang atau membenci seseorang.” (Lun Yu IV/3).

Jen menjadi tolak ukur di dalam tingkah laku dan etika moral para Confucianis. Jen adalah sifat luhur yang bersifat kemanusiaan. Pengertian Jen tidak berpangkal pada kesucian yang semu, tetapi kebaikan yang luhur dari pribadi manusia.

Ketika seseorang bertanya bagaimana pendapat Guru Khung Fu Zi tentang membalas hinaan dengan kebaikan hati ? Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Dengan apa kita membalas kebaikan hati ? Suatu hinaan dibalas dengan sikap jujur, dan kebaikan hati dibalas dengan kebaikan hati.” (Lun Yu XIV/36).

Jen dapat diperoleh apabila kita senantiasa belajar giat, memiliki tekad dan tujuan yang baik, jujur, dan senantiasa merenung diri atau berkonsentrasi ke dalam diri (bermeditasi).

Tentang cara menumbuhkan Jen pada pribadi manusia, salah seorang murid Guru Khung Fu Zi, Zi Hsia pernah berkata demikian : ” Hanya dengan belajar secara giat serta mempunyai tekad dan tujuan yang baik, bertanya dengan sejujurnya dan menunjukkan perenungan diri, maka Jen akan diperoleh.” (Lun Yu XIX/6).

Jen menjadi standar tingkah laku bagi setiap manusia yang bijaksana, sehingga orang yang demikian akan dapat hidup tanpa penderitaan baik dalam kemiskinan, kesukaran ataupun kesenangan. Ketenangan hidup akan diperoleh apabila Jen telah ditanamkan dalam kebijaksanaan seseorang, karena orang tersebut telah terbebas dari keragu-raguan dan ketakutan.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Mereka yang tidak memiliki Jen, tidaklah akan dapat hidup lama, baik dalam kondisi kemiskinan dan kesukaran, maupun dalam kondisi kesenangan. Orang yang memiliki Jen, hidup dengan tenang dalam Jen; orang yang bijaksana menekankan Jen.” (Lun Yu IV/2).

” Orang bijaksana tidak pernah bingung; orang yang memiliki Jen tidak pernah ragu-ragu, dan orang yang berani tidak pernah takut.” (Lun Yu IX/28).

Dalam kehidupan bermasyarakat serta untuk meningkatkan kesejahteraan hidup secara berkecukupan dan memiliki reputasi, pengertian Jen juga ditekankan. Jen merupakan suatu harkat martabat tertinggi dari sifat kemanusian, sehinggi seseorang tidak akan segan-segan untuk mempertahankan nama baiknya demi keutuhan Jen-nya.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Orang-orang terpelajar dan orang-orang yang memiliki Jen tidak akan hidup dengan merusak Jen-nya. Mereka akan mengorbankan dirinya untuk menjaga keutuhan Jen-nya.” (Lun Yu XV/9).

Orang yang memiliki Jen adalah orang yang ideal menurut pandangan Confucius. Dia tidak saja memberikan contoh yang baik kepada orang lain, tetapi juga bertugas untuk membimbing orang lain.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Orang yang memiliki Jen, pada waktu ingin menegakkan dirinya juga berusaha untuk menegakkan orang lain. Pada waktu ingin memajukan dirinya juga berusaha untuk memajukan orang lain, maka dapat dipanggil Jen yang sempurna.” (Lun Yu VI/30).

Seseorang yang telah memiliki kesempurnaan Jen akan senantiasa berusaha menunjukkan lima sifat utama, yaitu memiliki kehormatan, berlapang dada dan berpandangan luas, senantiasa dapat dipercaya, cekatan dan giat dalam bekerja dan selalu menaruh belas kasihan .

Murid Khung Fu Zi, Zi Chang menanyakan mengenai Jen yang sempurna, yang dijawab oleh Guru Khung Fu Zi, ” Kalau seseorang dapat melaksanakan lima hal di manapun di dunia ini dapatlah disebut memiliki Jen yang sempurna.,” kemudian ditanyakan lebih lanjut apa kelima hal tersebut dan dijawab oleh Guru Khung Fu Zi :

“ Kelima hal itu ialah :

rasa hormat (Gravity = Kung),

– lapang dada dan berpandangan jauh (generosity of soul = Khuan),

– dapat dipercaya (Sincerity = Hsin),

– cekatan dan giat bekerja (Earnestness = Min),

– menaruh belas kasihan dan berpengertian (Kindness = Hui).

Orang yang memiliki rasa hormat tidak akan dihina. Orang yang lapang dada, mendapatkan simpati umum. Orang yang dapat dipercaya, mendapat kepercayaan orang. Orang yang cekatan dan giat, berhasil dalam pekerjaannya. Orang yang menaruh belas kasihan, dapat dituruti perintahnya.” (Lun Yu XVII/6).

1. Kebenaran [I]

I (baca ‘i’ atau ‘yi’) mengandung arti solidaritas, senasib sepenanggungan, menjunjung kebenaran, atau memiliki kebenaran sejati. Bila Jen (Cinta Kasih) sudah ditegakkan, maka I (Kebenaran) harus menyertainya.

Guru Meng Zi bersabda : ” Jen adalah tempat yang aman untuk bernaung bagi setiap orang; maka Kebenaran (I) adalah jalan yang lapang bagi setiap manusia. (Meng Zi IV A/10).

Confucius menilai sifat menjunjung tinggi Kebenaran (I) tidak dapat dikalahkan oleh kekayaan ataupun kehormatan duniawi. Bagi Beliau, lebih baik hidup secara sederhana daripada harus mengorbankan Kebenaran.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Tidak makan apa-apa kecuali nasi saja, tidak minum apa-apa kecuali air putih saja. Dengan menggunakan lengan yang dilipat sebagai bantal, saya masih bisa menikmati kesenangan. Kekayaan dan kehormatan yang diperoleh secara tidak menjunjung Kebenaran (I), bagiku adalah seperti awan yang lewat di langit.” (Lun Yu VII/16).

Apabila suatu pembicaraan dilakukan tanpa mengarah kepada suatu Kebenaran, maka pembicaraan demikian akan sia-sia belaka, sehingga sebaiknya dihindari saja.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Pada saat beberapa orang berkumpul seharian tanpa membicarakan sesuatu mengenai Kebenaran Sejati (I), dan mereka terlalu senang dengan saran yang kecil mengenai kepintaran, maka pembicaraan tersebut akan merupakan kasus yang sulit.” (Lun Yu XV/17).

Kebenaran Sejati (I) merupakan pertimbangan utama bagi seorang Budiman [C’un Zi] dalam bertindak, dan hal ini akan dilakukannya secara konsisten dan konsekwen, tanpa ada yang disembunyikan, rendah hati, dan sesuai norma kesusilaan yang berlaku.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Seorang yang Budiman melakukan sesuatu selalu mempertimbangkan Kebenaran sejati sebagai hal yang paling pokok. Dia bertingkah laku sesuai dengan norma kesusilaan. Dia melakukannya secara terus terang dan rendah hati. Dia menyelesaikannya dengan hormat. Inilah yang dinamakan seorang yang Budiman.” (Lun Yu XV/17).

Keberanian yang dilakukan oleh seorang Budiman [C’un Zi] yang tanpa dilandasi oleh Kebenaran Sejati, akan menimbulkan kekacauan. Demikian juga seorang yang bermoral rendah, hanya mengutamakan keberanian, tanpa dilandasi oleh Kebenaran Sejati, maka dia dapat disebut perampok.

Terhadap pertanyaan dari seorang muridnya, Zi Lu mengenai apakah seorang Budiman yang berwatak luhur menghargai keberanian, maka Guru Khung Fu Zi menjawab, ” Seorang Budiman yang berwatak luhur meletakkan Kebenaran Sejati di tempat teratas. Seorang Budiman yang berwatak luhur, bila hanya mengutamakan keberanian tanpa memiliki Kebenaran Sejati akan menimbulkan kekacauan. Seorang yang bermoral rendah, bila hanya mengutamakan keberanian tanpa memiliki Kebenaran Sejati, dapat dinyatakan sebagai perampok.” (Lun Yu XVII/23).

2. Susila [Li]

Li mengandung arti sopan santun, tata krama , budi pekerti, susila. Pada awalnya Li dikaitkan dengan perlakuan yang benar dalam upacara dan ritual keagamaan, kemudian diperluas pengertiannya sampai mencakup adat istiadat, dan tradisi dari suatu masyarakat. Confucius kemudian menerapkannya lebih jauh, dengan mengkaitkannya terhadap hubungan antar manusia, yang menciptakan suatu susunan gambaran terbentuknya Jen dalam diri setiap orang.

Li haruslah dibentuk dari lingkup sosial yang paling sempit, yaitu di rumah sendiri, dimana orangtua kita sendiri haruslah senantiasa dilayani dengan Li, baik sewaktu masih hidup ataupun sesudah meninggal.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Apabila orang tua masih hidup, layanilah mereka dengan Li, apabila mereka telah meninggal makamkanlah dengan Li, dan sembahyangilah dengan Li.” (Lun Yu II/5).

Berbagai sifat baik seperti hormat, berhati-hati, berani dan jujur yang apabila dilakukan tanpa Li akan menimbulkan kerepotan, ketakutan, kekacauan dan kekasaran dalam tindakan.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Menghormat tanpa mengenal Li, akan merupakan pekerjaan yang merepotkan. Berhati-hati tanpa Li, akan menimbulkan perasaan serba takut. Keberanian tanpa Li, akan menimbulkan kekacauan. Kejujuran tanpa Li, akan menimbulkan sifat yang kasar.” (Lun Yu VIII/2).

Jen yang sempurna merupakan suatu aspek pengendalian diri yang dalam, dimana haruslah senantiasa berlandaskan pada Li.

Ketika seorang murid Khung Fu Zi, Yen Yuan menanyakan mengenai Jen yang sempurna, dijawab oleh Guru Khung Fu Zi, ” Mengendalikan diri dan kembali pada Li, itulah Jen yang sempurna. Bila pada suatu hari dapat mengendalikan diri dan kembali kepada Li, dunia akan kembali pada Jen yang sempurna. Yang tidak bersusila janganlah dilihat, didengar, dibicarakan maupun dilakukan ” (Lun Yu XII/1).

Seorang Budiman yang berbudi luhur, selain harus mengenal firman Yang Maha Esa, haruslah juga menguasai Li. Dengan demikian seorang Budiman akan dapat mengembangkan kepribadiaanya.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Tanpa mengenal firman Yang Maha Esa, tidaklah mungkin menjadi seorang Budiman yang berbudi luhur, tanpa menguasai Li, tidaklah mungkin mengembangkan suatu kepribadian, tanpa mengetahui makna kandungan dari kata-kata, tidaklah mungkin dapat mengenal manusia.” (Lun Yu XX/3 = alinea terakhir dari Lun Yu).

3. Kebijaksanaan [Chih]

Setelah seseorang memiliki sifat Cinta Kasih [Jen], Kebenaran [ I ], dan Susila [Li] , maka secara bertahap didalam proses melatih diri, seseorang akan membina munculnya Kebijaksanaan [Chih].

Confucius merangkaikan munculnya Kebijaksanaan seseorang dengan selalu sabar dalam mengambil suatu tindakan, penuh persiapan, melihat jauh ke depan, memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Kesulitan akan timbul apabila kita bertindak ceroboh. Sering suatu masalah yang mudah hanya jadi sulit diselesaikan karena tanpa adanya persiapan yang matang.

Guru Khung Fu Zi bersabda, “Bila seseorang tidak mau berpikir tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi di depan, maka kesulitan telah ada di dekatnya.” (Lun Yu XV/12)

Persiapan yang baik, dapat menghilangkan berbagai kegagalan ataupun kecelakaan yang sering membuat kita menjadi kecewa. Seseorang yang memiliki Kebijaksanaan, tidak akan pernah menyesali diri karena terlambat mengantisipasi suatu kegagalan ataupun kecelakaan.

“Lakukanlah persiapan sebaik-baiknya untuk menghadapi berbagai perkara. Dengan persiapan yang baik, tidak akan ada kegagalan atau kecelakaan.” (Shu Cing, IV:VIII:II:1)

Ambisi untuk mendapatkan keuntungan dengan menyelesaikan suatu pekerjaan secara terburu-buru, hanyalah akan menghasilkan keuntungan kecil saja. Sering karena sifat ambisi tersebut, seseorang malah terperosok dalam kegagalan. Seorang yang bijaksana, akan senantiasa menghilangkan sifat ambisi tersebut, dengan melakukan berbagai persiapan dan perhitungan sebelum bertindak.

Guru Khung Fu Zi bersabda, “Janganlah melakukan sesuatu dengan selalu ingin berhasil dengan cepat, dan janganlah mengutamakan keuntungan yang kecil saja. Kalau Anda ingin cepat berhasil, maka Anda tidak akan pernah maju. Kalau Anda hanya mengutamakan keuntungan kecil saja, maka perkara besar tidak akan pernah Anda selesaikan secara sempurna.” (Lun Yu XIII/17)

Menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak mau kita perlakukan pada diri kita sendiri, merupakan suatu sikap Kebijaksanaan yang harus senantiasa kita tanamkan dalam setiap tindak tanduk perbuatan kita. Adakalanya kita melakukan suatu perbuatan yang dapat merugikan orang lain, tanpa kita sadari. Namun apabila suatu perbuatan, selalu kita pertimbangan dari sisi diri kita sebagai obyeknya, tentulah tindakan yang dilakukan akan jauh berbeda. Itulah sifat munculnya Kebijaksanaan.

Ketika Zi Kung, murid Guru Khung Fu Zi bertanya, ” Apakah ada kata yang bisa dipakai sebagai prinsip dasar tingkah laku sepanjang hidup ?”, dan dijawab oleh Guru Khung Fu Zi, ” Kata itu mungkin menahan diri (SHU). Janganlah memperlakukan orang lain apa yang tidak ingin anda diperlakukan pada diri Anda.” (Lun Yu XV/24).

Sudah sering kita melihat orang yang senantiasa khawatir orang lain tidak memahami dirinya. Orang demikian senantiasa ingin tampil dengan berbagai sifat yang menonjolkan berbagai kesombongan dalam dirinya. Apabila terjadi, orang tersebut tidak diakui, dihina, dan dicela, maka dia akan mengalami kekecewaan. Kebijaksanaan untuk mengerti orang lain, merupakan langkah yang tepat dalam menghindari kekecewaan diri yang tidak perlu timbul tersebut.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Jangan khawatir orang lain tidak mengerti dirimu, khawatirkanlah kalau Anda tidak mengerti orang lain.” (Lun Yu I/16).

Kebijaksanaan berarti kita tidak selalu berprasangka buruk terhadap orang lain, tetapi kita cukup mawas diri bahwa ada sesuatu yang tidak benar.

Guru Khung Fu Zi bersabda, “Jangan berprasangka buruk atas kecurangan seseorang; tidak perlu mencurigai apakah orang tersebut mempercayai dirinya sendiri atau tidak. Tetapi senantiasa bersikap sensitif, kalau ada sesuatu yang tidak benar, inilah kelakuan seseorang yang memiliki Kebijaksanaan.” (Lun Yu XIV/31)

Seseorang yang bijaksana, senantiasa mencontoh Kebijaksanaan orang lain, demikian juga dia akan mengoreksi dirinya sendiri apabila menjumpai seseorang yang tidak memiliki Kebijaksanaan. Demikian juga, kalau dia melakukan kesalahan, maka akan langsung diperbaikinya.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Bila saya berjumpa dengan orang berkemampuan dan bijaksana, saya ingin menjadi seperti dia. Bila saya berjumpa dengan seorang yang tidak mempunyai kemampuan dan tidak bijaksana, saya melihat diri saya sendiri dan bertanya apakah saya juga mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan.” (Lun Yu IV/17).

” Bila melakukan kesalahan, janganlah takut untuk memperbaikinya.” (Lun Yu I/8).

Pengetahuan merupakan sumber Kebijaksanaan. Pengetahuan itu berasal dari pengakuan diri, bahwa kita tidak mengerti. Dengan mengakui kekurangan diri, kita belajar, dan dari belajar timbullah pengetahuan. Pengetahuan menciptakan Kebijaksanaan dalam tindakan.

Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Bila kamu mengerti, katakanlah bahwa kamu mengerti. Jika kamu tidak mengerti, katakanlah kamu tidak mengerti. Itulah asal mulainya pengetahuan.” (Lun Yu II/17).

Kebijaksanaan yang disabdakan oleh Sang Buddha dapatlah disamakan pengertiannya dengan perkataan-perkataan Confucius tersebut di atas, antara lain dapat dihayati dari kutipan berikut ini,

” Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya, seperti orang yang menunjukkan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana.” (Dhammapada, 76).

” Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai, demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.” (Dhammapada, 81).

4. Dapat Dipercaya [Hsin]

Pengertian Hsin dalam ajaran Confucius, tidak hanya berarti bahwa orang percaya pada dirinya sendiri, tetapi juga harus dapat dipercaya oleh orang lain. Dalam era kehidupan saat ini, terdapat begitu banyak orang yang hanya percaya pada dirinya sendiri, tetapi tidak berhasil memperoleh kepercayaan dari orang lain, sehingga terjadi kemerosotan nilai moralitas di dalam kehidupan bermasyarakat.

Kepercayaan dapat diartikan sebagai suatu gandaran dari kendaraan. Suatu kendaraan tentunya tidak bisa dijalankan apabila tidak memilki gandaran. Demikian juga , apabila seseorang telah kehilangan sifat dapat dipercaya oleh orang lain, maka akan sulitlah kehidupannya.

Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada seseorang, bila dia tidak lagi memiliki kepercayaan ? Bagaimana bisa menjalankan sebuah gerobak besar, yang tidak mempunyai gandaran atau sebuah gerobak kecil yang tidak mempunyai gandaran ? ” (Lun Yu II/22).

Suatu pemerintahan harus memiliki legitimasi dan kepercayaan dari rakyatnya. Tanpa kepercayaan rakyat tersebut, maka suatu pemerintahan tidak berarti apa-apa lagi. Kita sering melihat berbagai pemberontakan, gerakan reformasi, gerakan separatisme, dan berbagai gerakan demonstrasi melanda suatu negara, dimana pemerintahnya sudah tidak memiliki kepercayaan ataupun legitimasi pemerintahan dari rakyatnya lagi. Kekuatan rakyat yang tergabung dalam suatu gerakan, merupakan gelombang dasyat yang dapat meruntuhkan berbagai rangkap tembok kekuasaan.

Zi Kung menanyakan mengenai pemerintahan kepada Guru Khung Fu Zi yang dijawab,” Yang diperlukan dalam suatu pemerintahan adalah makanan yang cukup, senjata yang memadai dan kepercayaan rakyat kepada pemerintahannya.” Lalu Zi Kung menanyakan lebih lanjut, bahwa jika terpaksa harus menyerahkan salah satu dari tiga hal tersebut, maka mana yang harus didahulukan ?, yang dijawab oleh Guru Khung Fu Zi,” Serahkan senjatanya.” Kemudian Zi Kung menanyakan lagi, bahwa apabila kita tidak mempunyai pilihan selain menyerahkan yang dua tersisa tersebut, maka mana yang harus didahulukan, dan Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Serahkanlah makanannya. Sejak dulu, kematian tidak bisa dihindarkan, namun bila rakyat tidak mempunyai kepercayaan terhadap pemerintahannya, maka akan tidak ada apa-apa lagi yang bisa dipegang.” (Lun Yu XII/7).

Kutipan Buku “Tiga Guru, Satu Ajaran” oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: