SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Perlukah kita minum obat atau suplemen?

Perlukah kita minum obat atau suplemen?

 

Sejak toko obat dan apotik terdapat di seluruh penjuru tanah air dan makin gencarnya usaha ‘suplemen’, makin mudah orang mengkonsumsi obat. Obat dan suplemen menjadi suatu kebutuhan pokok.

 

Walaupun memang pada kondisi tertentu kita memerlukan obat, tetapi mestinya semua obat, baik yang melalui resep ataupun tidak, mempunyai sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan tubuh jangka panjang. Beberapa orang percaya bahwa obat herbal tidak memiliki efek samping dan hanya mempunyai kegunaan saja, tetapi itu tentu juga merupakan paham yang tidak tepat. Bagaimana mungkin sesuatu penyakit dapat diserang dengan obat tepat pada penyakit tersebut tanpa berpengaruh pada sekelilingnya?

 

Pada kenyatannya, baik produk obat pabrik maupun obat herbal tetaplah punya pengaruh buruk terhadap kesehatan tubuh. Makin cepat efek suatu obat terlihat maka makin kuat pula racun yang dikandungnya. Obat-obat yang sangat efektif yang bisa menghilangkan rasa sakit dengan cepat tentu jauh lebih berbahaya bagi tubuh daripada obat-obat yang lain.

 

Obat-obat herbal yang mengklaim dirinya sebagai suplemen sering mengatakan bahwa mereka “tanpa efek samping”.  Hal ini merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan kenyataan yang ada dan hanya memperlihatkan bahwa obat-obat tersebut dibuat tanpa penelitian yang memadai, sekurangnya mereka menutupi atau tidak mau melakukan penelitian memadai tentang “efek samping”nya. Dari logika ini, kita lebih mengerti bahwa obat herbal yang diklaim tanpa ‘efek samping’ cenderung ‘jauh lebih tidak menentu’ dibanding obat farmasi, sekalipun mungkin bisa membuat efek penyembuhan pada berbagai hal.

 

Bahkan obat-obat herbal yang keras justru lebih mengerikan daripada obat farmasi. Obat-obat ini membuat berbagai reaksi yang keras pada tubuh seperti pening luar biasa, ngilu tak tertahankan dan juga mengandung resiko fatal. Tetapi toh banyak orang tak peduli, badan pengawasan obat dan makanan pun tutup mata atau tidak pernah mengetahuinya karena menurut produsen obat herbal tersebut, hal itu adalah proses detoksifikasi. Sekalipun mungkin benar bisa membuat efek detokfikasi, tetapi apakah kita berani melakukan proses detokfikasi tanpa prosedur yang benar (misalnya, di bawah pengawasan dokter atau orang benar-benar ahli) sehingga kondisi tubuh kita bisa dipantau dengan tes laboratorium ‘sebelum’, ‘ketika menjalani’ dan ‘sesudah’ proses itu?

 

Sebagian besar kita menerima resep, membeli obat dan menkonsomsinya, tanpa mengerti akibat sampingan yang akan terjadi berikutnya. Karena semua obat memberikan tekanan kepada tubuh maka itu sangatlah penting kita mengetahui secara pasti resiko apa yang mungkin terjadi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Dr. Hiromi Shinya, MD, seorang guru besar Klinis Pembedahan di Albert Einstein College of Medicine, New York City, yang terkenal itu, dan sekaligus Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Center mengatakan : “Walaupun di Amerika Serikat, efek-efek samping obat harus ditulis secara terperinci, tetapi tetap saja banyak reaksi yang tidak tertulis dalam brosur penjelasan mereka.” Shinya sampai mengorbankan tubuhnya sendiri sebagai laboratorium untuk mengetahui efek samping obat-obat tersebut.

 

Shiya berpesan agar kita berusaha menjaga tubuh memiliki kecukupan enzim, yang merupakan energi untuk hidup dan meningkatkan kekebalan. Hindarilah makanan yang menguras enzim tubuh kita, seperti makanan cepat saji (yang digoreng, produk hewani dst) maka tubuh kita akan tetap sehat.

 

Untuk mendapatkan kecukupan enzim, Shinya juga menambahkan agar kita memproduksinya sendiri di dalam usus, yaitu dengan membiarkan bakteri-bakteri pembentuk enzim itu hidup dan bekerja serta mengkonsumsi makanan yang penuh enzim yang dibuat oleh makhluk hidup yang lain.

 

Makanan mentah yang organik, yang berupa sayuran berwarna hijau, merupakan salah satu contoh makanan yang penuh enzim kehidupan,.

 

Obat tidak pernah dapat menyembuhkan penyakit hingga mendasar. Satu-satunya cara mendasar untuk menyembuhkan penyakit adalah dengan gaya hidup kita sehari-hari, yaitu dengan pola makan yang baik, yang tidak mengakumulasikan racun ke dalam tubuh kita, sehingga pada akhirnya memberikan kesempatan kepada tubuh untuk menyembuhkan dan meregenerasikan semua kerusakan tubuh yang sudah terjadi.

 

Tinggalkan suplemen dan berobatlah hanya bila kita sudah benar-benar memerlukannya, yaitu pada saat sudah tidak ada pilihan lain. Cari dokter atau ahli pengobatan yang baik, yang mengerti dan mau menjelaskan segala jenis obat atau suplemen atau terapi yang diberikannya. Jangan pernah percaya bahwa ada obat atau supelemen, baik herbal maupun farmasi, yang tidak punya efek samping.

 

Selamat menjaga kesehatan!

 

(Makanan mentah yang dimaksud di sini adalah sayur dan buah segar (yang tidak dipanaskan lebih dari 45 0C) serta bijian, kacang-kacang, buah yang segar maupun kering. Daging, telur, ikan dan susu tidak termasuk kelompok makanan mentah sekalipun tidak dipanaskan, karena semuanya itu sudah menjadi “sampah” atau “bangkai”).

 


Makanan mentah atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: