SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Archive for September, 2015

Mountain bike always beats a good day in the office


image

WorldVeganWorldPeace

Rumah Hutan Cidampit


image

https://m.youtube.com/watch?v=zlFQIMRaKfs&feature=youtu.be

Sabtu lalu, akhirnya terkabul juga keinginan untuk menjelajahi kembali bukit Cidampit di daerah Serang, Banten. Setelah sebelumnya, di musim penghujan yang lalu, dengan bermandikan lumpur dan peluh merasakan perjuangan penuh hasrat melewati kubangan2 liar dan licinnya akar kayu di dalam hutan yang mengurat karena berlalunya usia.

image

image

image

Kali ini, kami terdiri dari 39 MTB bikers ditemani 4 marshal setempat, berhasil menyelesaikan single trek di bukit Cidampit dan memasuki Rumah Hutan yang terkenal itu sekitar jam 10.30 pagi. Kurang lebih dua setengah jam perjalanan dari start pertama setelah di drop dengan truk dari kantor Bupati Serang menuju lokasi dekat kebun karet.
image

image

image

image

image

image

Sesampai di Rumah Kayu, kelapa muda yang kelihatannya baru dipetik dari pohon, sudah berjejer di hadapan seorang ibu setengah baya yang dengan sigap membelah setiap kelapa untuk disajikan buat kami, cukup melarutkan dahaga.
image

image

Kalau lagi musim duren, bisa juga menikmati duren yang tumbuh di sekitar sana. Sayangnya, kami hanya bisa menatap sendu pohon duren tanpa buah yang menjulang tinggi ke langit dan ikut merasakan nestapanya dalam menghadapi musim kemarau ini. 😥

Banyak kata-kata petuah yang mengandung moral tinggi dibingkai dan digantung di sekitar Rumah Hutan. Tidak jelas siapa yang menurunkan petuah tsb namun semuanya mencerminkan kalau petuah tsb diturunkan oleh Tetua desa di sana yang sudah memiliki tingkat pemahaman terhadap akhlak kehidupan yang baik, termasuk etika menjaga kelanggengan berumahtangga.

image

Di Rumah Kayu, kami disajikan makanan alam beralaskan daun pisang. Menyadari bahwa saya satu-satunya Vegan, juru masak Mang Wawan yang berewokan sangat peduli dan dengan telaten memasak spesial jamur tiram oseng buat saya, selain tentunya bihun yg digoreng dengan jamur juga untuk dimakan bersama. Walau pun saya sudah membekali diri dengan beberapa makanan vegan yang saya persiapkan dari rumah, osengan jamur tsb terasa gurih sekali. Barulah saya tahu resepnya dari Mang Wawan yang juga bertindak sebagai salah satu Marshal atau penunjuk jalan, bahwa setelah jamur dibersihkan dengan air, agar direndam dulu menggunakan air kelapa selama beberapa jam. Setelah itu baru dibumbui dan dioseng.

image

image

image

image

Setelah beristirahat cukup selama hampir satu jam lebih di Rumah Hutan, akhirnya kami melanjutkan trek terakhir melintasi sungai yang pada saat kemarau ini dangkalnya hanya setumit. Setelah melewati sungai, kami masih harus mendorong sepeda naik ke atas bukit. Anak-anak desa yang polos di sana agak terlambat menyadari kehadiran kami, setelah hampir separuh dari kelompok kami sudah bersusah payah memanjat ke atas bukit, segerombolan bocah desa yang masih kecil menyerbu keluar dari rumah mereka, tanpa beralaskan kaki,  berlari  dengan riang dan tergopoh2 menuruni bukit untuk menawarkan jasa joki mengangkat sepeda, melewati sungai dan membopong naik sepeda ke atas bukit. Upah sepuluh ribu per sepeda yang diperoleh tentunya sangat berarti buat para bocah ini yang pasti masih duduk di bangku sekolah SD, untuk sekedar menambah uang jajan selama berminggu minggu, atau bahkan menambah lauk buat seisi rumah yang kemungkinan orangtua mereka juga sedang mengalami kesulitan beras karena kemarau panjang yang meretakkan ladang sawah para petani.

image

image

Sesampai di Kantor Bupati tempat kami memarkir mobil sekitar jam dua lewat sore hari itu, dan seusai menyiramkan diri dengan air yang bersih di kamar mandi umum Kantor Bupati, terasa seluruh peluh dan penat ikut mengalir turun terbasuh.

Sungguh menyenangkan perjalanan kali ini, meskipun sempat terguling dua kali dalam kesadaran penuh termasuk salah satunya berguling ala Aikido (😆 he he tidak sia2 juga membekali diri dengan Aikido), kita semua akhirnya kembali ke rumah dengan sehat walafiat.

Jakarta, akhir minggu kedua September 2015

WorldVeganWorldPeace

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal


http://print.kompas.com/baca/2015/09/06/Perjalanan-Spiritual-lewat-Musikal

image

Kutipan dari Harian Kompas 6 September 2015

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal Cetak | 6 September 2015 

Seandainya aku tahu di mana kau berada

Aku akan berlari mencarimu

Tapi sayang, aku terlahir buta

Tak bisa mendaki ke puncak tertinggi aku

Lebih parah lagi, sebagai orang bisu dan tuli

Aku tak bisa memanggil, atau mendengar suaramu… Tuhan….

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS)Salah satu adegan di gerbong kereta api.

Begitu kira-kira terjemahan lagu dari musikal Loving the Silent Tears. Libreto diangkat dari puisi karya Maha Guru Ching Hai, tokoh spiritual asal Vietnam yang pengikutnya tersebar di sejumlah negara. Pentas Loving the Silent Tears digelar perdana di Shrine Auditorium, Los Angeles, pada 27 Oktober 2012. Videonya kemudian beredar ke seluruh dunia. Pada Minggu (30/8) musikal itu diputar di Jakarta oleh komunitas vegan.

Di belakang musikal ini ada orang- orang hebat. Mereka adalah sutradara Vincent Paterson yang pernah menggarap konser dunia Michael Jackson dan Madonna. Ada Jorge Calandrelli, komposer, penata musik, peraih enam kali penghargaan Grammy yang pernah menggarap musik untuk Placido Domingo, Barbra Streisand, Andrea Bocelli, Tony Bennett, Celine Dion, dan Madonna. Orkestrasi dan konduktor Doug Katsaros. Koreografi dan tari ditangani Lula Washington Dance Theatre.

Musikal melibatkan penyanyi terkenal Jon Secada, Jody Watley, kelompok reggae Black Uhuru. Plus belasan penyanyi pendukung dari Perancis, Arabia, Italia, Vietnam, Irlandia, Korea, Tiongkok, dan lainnya.

Menarik bagaimana menikmati puisi karya tokoh spiritual itu diadaptasi menjadi libreto dan lagu. Seperti kita tahu, libreto merupakan bagian dari elemen penting musikal. Adaptasi digarap dengan pendekatan nge-pop, layaknya lirik lagu pop. Musik digarap melibatkan berbagai genre, seperti pop, rock, jazz, klasik, danreggae.

Koreografi digarap dengan kaidah- kaidah tontonan panggung musikal yang penuh gebyar, cerah. Ada beragam elemen tari, mulai dari gaya kabaret, tari rakyat Rusia, hingga tak kurang dari 16 kultur global. Hasilnya, Loving the Silent Tears ternikmati sebagai musikal segar, menghibur, lewat musik dan tari, tanpa kehilangan spiritualitasnya.

 Indah, mengalir

 Di tengah tontonan musikal yang meriah gemerlap itu, penonton diajak merenung tentang kesejatian hidup. Tentang upaya mencari kedamaian jiwa dan makna cinta. Tokoh-tokoh dalam musikal ini menyebut diri sebagai orang dengan poor soul, jiwa miskin. Mereka berada dalam perjalanan mencari kesejatian itu. While I am athirst in the desert of existence/ You’re drinking nectar somewhere in the heavenly abode…. Ketika aku haus di gurun kehidupan/Kau minum madu di rumah surgawi.

 

Loving the Silent Tears dibangun dengan struktur naratif yang diolah dari puisi. Narasi menyatu dengan komposisi (score) sebagai satu kesatuan ucap. Narasi tidak menjadi pengantar, seperti yang sering dijumpai pada musikal-musikal murahan. Atau dengan kata lain bisa dikatakan, komposisi terintegrasi dengan struktur naratif, dan bukan terpenggal-penggal sebagai medley.

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Penampilan Patti Cohenour

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Harmoni tiga penyanyi dari Israel, Arab, dan Iran.

 Semua elemen dalam musikal tersebut, termasuk koreografi, digunakan untuk bercerita tentang kebahagiaan lahir batin yang bisa diraih setiap orang. Kebahagiaan yang dibangun dengan cinta, hati damai, kebaikan, dan saling memaafkan.

Musikal disodorkan dengan cerita yang jernih, ringan mengalir. Tokoh utama ”cuma” tiga, yaitu kondektur, dan dua penumpang kereta api, tetapi mereka mewakili tipe-tipe manusia. Setting”cuma” sebuah gerbong kereta, dalam perjalanan semalam, tetapi, kereta menjelajah melintas ke segala penjuru dunia, dan bertemu dengan orang dari berbagai sudut bumi. Ada metafora universalitas persoalan manusia.

Dalam kereta itu ada Conductor yang diperankan aktor Junior Case dan Joy (Patti Cohenour), perempuan yang menulis buku harian tentang kematian putranya dan membawa duka sepanjang hidupnya. Lantas ada Pete (Luke Eberl), pemuda yang menganggap bahwa sukses hidup adalah uang. Sampai-sampai ia berpandangan, ”And who needs God when you have money—siapa yang butuh Tuhan kalau Anda punya uang.”

Ketiganya melakukan perjalanan kereta. Lagi-lagi ini metafor sebuah perjalanan spiritual mencari pencerahan. Seiring perjalanan, mereka saling belajar. Bahwa manusia memerlukan ”asuransi spiritual”, bukan asuransi properti. Termasuk ketika mereka bertiga terlempar dari kereta, dan terdampar di padang gurun. Kala kereta datang kembali mereka telah sampai pada salah satu stasiun pemahaman tentang hidup.

”Semua saling mencinta, semua peduli, dan semua saling memaafkan. Semua menyayangi ciptaan. Ada ruang yang luas di surga di atas sana….”

Seluruh persoalan hidup, permenungan, dan pencerahan itu terjelmakan dalam lagu dan terintegrasi dengan narasi secara mulus dan rapi. Tidak terasa ada sandungan yang memberi kesan bahwa lagu itu hanya ilustrasi.

Seluruh koreografi terancang menyatu dengan narasi. Begitu beragam gerak tarinya, mulai dari samba, tarian persia, skotlandia, hingga rusia. Musik dan tari cukup berimbang dengan narasi. Tidak terasa ada dialog yang panjang, atau musik dan tari yang terlalu panjang. Serba terukur dan seimbang.

Penonton Loving the Silent Tears diajak menikmati perjalanan spiritual lewat musik, nyanyi, dan tari. (XAR)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 September 2015, di halaman 32 dengan judul “Perjalanan Spiritual Lewat Musikal”.

 

Spiritual Journey Thru Musical


Kompas has it’s special comment on Loving the Silent Tears entitled “Spiritual Journey Thru Musical” on today newspaper, 6 Sept 2015.

http://print.kompas.com/galeri/foto/detail/2015/09/06/Perjalanan-Spiritual-lewat-Musikal

image

WorldVeganWorldPeace

%d bloggers like this: