SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Rematik (7)

Rematik (7)

Pada bagian sebelumnya, kita mencatat bahwa tepung atau bahan-bahan yang terbuat dari biji-bijian (grains), baik berupa nasi, roti, pasta, mi, bihun merupakan salah satu pencetus rematik. Tapi bukankah sudah kurang lebih 30 ribu tahun yang lalu, sejak jaman Neolithic, manusia terbiasa mengkonsumsi ‘grains’ dan mengembangkan pertanian secara ekstensif?

 

Ini benar, namun juga menyebabkan orang lalu banyak mengurangi porsi buah dan sayuran yang harusnya mereka konsumsi dan sejak itu pula usia manusia hanya sekitar 100 tahun saja. Anatomis dan fisiologis tubuh manusia harus beradaptasi dengan pola makan tinggi tepung. Perjuangan itu untuk melakukan adaptasi itu sendiri melelahkan disamping justru menyebabkan manusia itu cenderung lebih sulit mendapatkan energi, vitamin dan mineral yang sesungguhnya27). Selain itu, ‘grains’ mentah sama sekali tidak membangkitkan selera manusia. Sebagian besar grains memiliki rasa yang tidak enak dan sedikit pahit bahkan ketika mereka sedang atau mulai tumbuh (sprouted). Sebagian besar burung pun, yang merupakan pemakan grain secara alami, tidak menyuapi anak-anaknya dengan grains karena sesungguhnya grains tidak bisa mencukupi kebutuhan nutrisi dan protein24).

 

Tapi, bagaimana tepung atau bahan yang terbuat dari grains juga bisa menyebabkan arthritis?

 

1. Glikasi

Glikasi sering dikatakan sebagai salah satu proses peracunan atau penggerogotan kesehatan. Glikasi merupakan sebuah proses penggumpalan protein atau lemak atau keduanya dengan ‘glucose’. Penggumpalan ini akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga membuat mereka menjadi kaku, tidak lentur dan pengkerutan sehingga menjadikan banyak masalah kesehatan yang lain seperti penuan, masalah kulit, mata serta  juga masalah pada jantung dan  ginjal28).

 

Tepung atau bahan yang terbuat dari grains menyebabkan terjadinya glikasi. Apakah tepung itu berupa “whole wheat’ atau nasi beras merah dst, tetap saja akan membentuk glikasi. Padahal sel-sel tulang rawan (cartilage) sangat rentan terhadap glikasi. Sekalipun sesungguhnya tulang rawan mereka yang berusia 18 tahun dan 60 tahun adalah sama, tetapi karena berbagai hal tulang rawan itu bisa menjadi rusak. Glikasi sering sekali disebut sebagai biang kerok kerusakan protein di dalam  tulang rawan sehingga membuat tulang rawan menjadi kaku, tidak elastis, kehilangan fungsi sebagai pelumas dan rapuh29,30). Kerusakan ini memungkinkan terjadinya kehancuran tulang rawan, peradangan dan akhirnya menjadi rematik.

 

2. Membuat Suasana Lebih Asam


Derajat keasaman (pH) manusia semestinya di atas 7 sampai 9, atau dikatakan sedikit basa. Angka yang makin besar menunjukkan makin basa dan angka makin kecil menunjukkan makin asam. Peradaban manusia yang cenderung makan tepung atau bahan yang terbuat dari grains dalam jumlah banyak (90% terdiri atas tepung) membuat tubuhnya menjadi cenderung asam dengan pH berkisar antara 5 – 7.  Derajat keasaman ini membuat tubuh berjuang untuk menetralkannya dengan mengambil kalsium dari tulang sehingga membuat kelemahan, arthritis dan keretakan tulang.

 

3. Lemak Perut

 

Tepung merupakan pemicu terjadinya lemak perut. Padahal lemak perut sangat sulit dihilangkan dan merupakan lemak yang paling berbahaya karena terletak di sekitar organ-organ tubuh vital. Lemak ini dapat menyebabkan serangan jantung, stroke hingga kematian31). Lemak perut ini tidak hanya melepaskan mediator peradangan seperti “tumor necrosis factor”, tetapi juga membuat peradangan pada dirinya sendiri. Peradangan pada lemak perut ini juga akan memicu terjadinya peradangan pada persendian.

Oleh karena itu,

seperti pernah disebutkan pada pembahasan sebelumnya: //groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/08381d2aef542f28#

orang yang kelebihan berat badan dan banyak makan tepung akan cenderung menderita rematik.

 

Masih ingat bahwa konsumsi grains juga mengurangi penyerapan vitamin D (lihat bagian sebelumnya)? Tidak hanya itu, sekalipun banyak orang mengatakan bahwa grains itu penuh dengan serat tetapi serat pada granis tidak mudah larut dalam air. Serat itu juga tidak mudah menyerap air dan tidak mudah bergerak atau beredar dalam peredaran tubuh. Permukaannya yang kasar, keras serta juga lengket akan mengikis dinding-dinding yang dilaluinya dalam proses pencernaan serta juga menghambat proses pencernaan itu sendiri.

 

Bagaimana dengan bahan-bahan nabati? Apakah lebih baik daripada gluten? Hehehehe…., sama saja, bahkan yang diproduksi oleh pabrik akan jauh lebih buruk, apalagi yang impor. Selain menyebabkan hal-hal seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, produk-produk olahan itu juga sarat dengan hal-hal yang buruk yang lain seperti MSG, HP (Hydrolized Protein) dan pengawet.

 

Untuk mengikuti apa penyebab rematik yang lain [selain kegemukan, lemak perut, lemak, produk hewani, gula olahan termasuk madu, agave, fructose, aspartam dst), kedelai (tempe, tahu, produk dari kedelai dan terutama susu kedelai) dan tepung (bahan yang terbentuk dari grains)] atau gejala-gejala ringan seperti pegal-pegal, kram di tangan, kaki, pergelangan dan bahu, atau bagian tubuh sulit digerakkan, silahkan ikuti pembahasan-pembahasan berikutnya pada bagian selanjutnya…

 

Semoga terbebas dari rematik dan selalu sehat, segar dan bugar serta bahagia!

 

—————————————————— bersambung ————————————————————-

 

1) Keluarga Victoria Buetenko, (pernah dikutip pada diskusi sebelumnya), http://greensmoothiesblog.com/vitamin-k-deficiencies-arthritis/

2) http://www.mirror.co.uk/life-style/dieting/dieting-news/tm_objectid=17024367&metho-d=full&siteid=115875&headline=exclusive–raw-food-diet-has-cured-my-arthritis-name_page.html

3) http://www.care2.com/c2c/share/detail/92623

4)http://rawglow.com/blog/2009/07/08/raw-food-arthritis-testimonial/

5) http://www.beautifulonraw.com/raw-food-blog/rheumatoid-arthritis-helped-with-the-raw-food-diet-mama-we-need-you/

6) http://www.youtube.com/watch?v=z3xOU2tLl7g&feature=player_embedded

7) http://www.youtube.com/watch?v=y7TxqIurs2o&feature=player_embedded

8) http://lightningfitness.org/testimonials_about_healing_with_raw_unprocessed_foods_the_paradise_diet/

9) Vangsness Jr, C.; Spiker, W.; Erickson, J.,  “A review of evidence-based medicine for glucosamine and chondroitin sulfate use in knee osteoarthritis”. Arthroscopy 25 (1): 86–94, 2009.

10) Wandel S, Jüni P, Tendal B, Nüesch E, Villiger PM, Welton NJ, Trelle S, “Effects of glucosamine, chondroitin, or placebo in patients with osteoarthritis of hip or knee: network meta-analysis”British Medical Journal 341 (sep16 2): c4675, “Compared with placebo, glucosamine, chondroitin, and their combination do not reduce joint pain or have an impact on narrowing of joint space”, 2010.

11) Lafontaine-Lacasse M, Dore M, Picard, F, “Hexosamines stimulate apoptosis by altering Sirt1 action and levelsin rodent pancreatic β-cells”. Journal of Endocrinology 208 (1): 41–9, January 2011.

12) Majithia V, Geraci SA , “Rheumatoid arthritis: diagnosis and management”, American Journal of Medicine: volume 120 ( issue 11): 936–939, November 2007.

13) http://arthritis.about.com/od/mortality/a/lifeexpectancy.htm

14)http://www.yourmedicaldetective.com/public/Mayo_Clinic_Finds_that_Rheumatoid_Arthritis_Patients_Have_Higher_Risk_for_Heart_Disease_And_Cardiac_Sudden_Death.cfm

15) Gabriel SE, Crowson CS, “Risk Factors for Cardiovascular in Rheumatoid Arthritis”, UN National Library of Medicine National Institutes of Health, Mennesota, January 2012.

16) http://www.centerforfoodallergies.com/arthritis.htm

17) http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/02/01/tes-alergi-apakah-sudah-memastikan-penyebab-alergi-makanan/

18) Charles P. Lucas Ph. D. and Lawrence Power Ph. D., “Dietary Fat Aggravates Active Rheumatoid Arthritis,” Department of Medicine, Wayne State University, Detroit, Michigan, 1989.

19) http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/6229e9df1cdf099f#

20) Doroty Pattison, “Dietary Factors for The Development of Inflammatory Polyarthritis”, Arthritis & Rheumatisme, December 2004.

21) http://www.dietaryfiberfood.com/purine-and-uric-acid/foods-with-high-or-low-uric-acid-content.php

22) Colloc’h N, Girard E, Dhaussy a, Kahn R, Ascone I, Mezouar M, Fourme R, “High pressure macromolecular crystallography: the 140-MPa resolution of urate oxidase, a 135-kDa tetrameric assembl”, Biochemica et Biophysica Acta – Proteins and Proteomics vol 1764:3., March 2006.

23) Wu XW, Muzny DM, Lee CC, Caskey CT., “Two independent mutational events in the loss of urate oxidase during hominoid evolution”,   J Mol Evol 34(1):78-84, January 1992.

24) Dr. Douglas N. Graham, “Grain Damage: Rethingking the High-Starch Diet”, Food For Thought Publisihing, Florida, USA, March 2005.

25) Hafström IRingertz BSpångberg Avon Zweigbergk LBrannemark SNylander IRönnelid JLaasonen LKlareskog L., “A vegan diet free of gluten improves the signs and symptoms of rheumatoid arthritis: the effects on arthritis correlate with a reduction in antibodies to food antigens”, Rheumatology (Oxford) 40(10):1175-9, Department of Rheumatology, Karolinska Institutet at Huddinge University Hospital, Stockholm, Sweden, October 2001.

26) John McDougall, M.D., Bonnie Bruce Dr. PH., Gene Spiller Ph.D., John Westerdahl M.P.H., R.D., C.N.S., Mary McDougall,  “Effects of a Very Low-Fat, Vegan Diet in Subjects with Rheumatoid Arthritis”, The Journal of Alternative and Complementary Medicine Volume 8 Nomber 1: 71-75, Mary Ann Liebert Inc., 2002.

27) Peter S. Ungar and Mark F. Teaford, “Human Diet: Its Origin and Evolution”,  Greenwood Publishing Group Inc., Wesrtport, USA, 2002.

28) http://livingto150.com/aging-and-longevity-glycation/

29) Verzijl NDeGroot JBen ZCBrau-Benjamin OMaroudas ABank RAMizrahi JSchalkwijk CGThorpe SRBaynes JWBijlsma JWLafeber FPTeKoppele JM, “Crosslinking by Advanced Glycation End Products Increases The Stiffness of The Collagen Network in Human Articular Aartilage: A Possible Mechanism through which Age is a Risk Factor for Osteoarthritis”, Arthritis Rheum.  46(1):114-23, USA, January 2002.

30) DeGroot JVerzijl NWenting-van Wijk MJJacobs KMVan El BVan Roermund PMBank RABijlsma JWTeKoppele JMLafeber FP, “Accumulation of Advanced Glycation End Products as A Molecular Mechanism for Aging as A Risk Factor in Osteoarthritis”, Arthritis Rheum. 50(4):1207-15, USA, April 2004.

31) William Davis M.D., “Wheat Belly: Lose The Wheat, Lose The Weight and Find Yout Path Back to Health”, Rodale Inc., New York, USA, August 2011.

 


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: