SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Perlukah makan nasi dan roti?

Perlukah makan nasi dan roti?


Gandum merupakan kebutuhan pokok untuk sebagian besar populasi dunia sedangkan beras merupakan kebutuhan primer  atau kebutuhan pokok di beberapa negara termasuk Indonesia. Orang Indonesia tidak merasa kenyang bila belum makan nasi. Sekalipun sudah makan berbagai makanan lain dalam jumlah banyak, mereka merasa belum makan kalau belum makan nasi.Mereka juga tidak mudah tidur bila belum makan nasi atau roti. Bahkan statistik ‘pengukuran kemiskinan atau kelaparan dunia’ diukur berdasarkan pemenuhan kebutuhan makan mereka, terutama beras atau gandum. Menurut catatan mereka, pada saat ini terdapat sekitar 1 milyar orang di dunia (dari 6,7 milyar total populasinya) yang menderita kelaparan.

Tetapi, ada sejumlah orang, terutama para rawfoodist, yang mengatakan bahwa kita bisa hidup bahkan akan menjadi jauh lebih sehat bila hidup tanpa nasi atau roti. Mereka mengatakan bahwa nasi, roti atau bahan tepung yang lain hanya membuat alat pencernaan bekerja terlalu berat. Karbohidrat yang ada di dalamnya tidak mudah terserap dan digunakan dengan baik oleh tubuh karena bahan-bahan tepung itu sudah kehilangan berbagai enzim kehidupan yang berfungsi sebagai katalisator penyerapan. “Kalau benar nasi dan roti memberikan energi bagi tubuh, mengapa sering sekali mereka yang makan banyak roti dan nasi justru mengantuk?”, begitu sanggah mereka.

Seperti juga produk-produk yang terbuat dari bahan susu (dairy products), gandum mengandung peptida opioid yang mempengaruhi reseptor endorphin di dalam otak1). Peptida-peptida itu bersifat adiktif, menyebabkan ketergantungan, asma, kegemukan, apatis dan mati rasa.

Satu molekul protein gluten gandum mengandung 15 jenis  peptida opioid. Bahkan gluten gandum mengandung sejumlah peptida opioid yang sangat kuat dan beberapa molekulnya ada yang 100 kali lipat lebih kuat daripada molekul morfin. 0,5 mg peptida aktif setara dengan 1 nM (nanomole) morfin 2,3,4). 1 nM morfin hanyalah sebuah noktah kecil tetapi sudah cukup berarti untuk mempengaruhi sistem syaraf pusat, setara dengan sejumlah opioid yang bertindak sebagai endorphin yang menciptakan rasa nyaman dan nikmat.

Peptida tersebut dipunyai oleh tanaman sebagai anastesi jika mereka mendapat serangan luar. Para imam pada jaman Mesir kuno menggunakan gandum untuk menghalusinasi. Para penguasa romawi juga menggunakan roti untuk menghibur mereka agar mereka tidak melakukan pemberontakan. Mereka juga menggunakan gandum untuk mengurangi rasa sakit pada luka dengan cara melumurkannya pada luka dan membalutnya. Untuk yang sakit gigi, mereka menyarankan agar mengunyah-ngunyah roti atau nasi selama beberapa menit untuk mengurangi rasa sakit.

Kandungan gula pada sekerat roti atau beberapa sendok nasi sudah dapat memberikan kecukupan energi untuk berbagai aktifitas selama beberapa jam. Selain itu, pada waktu yang sama, roti atau nasi juga memberikan efek penenang selayak opium sehingga memberikan kepuasan bagi para pengkonsumsinya. Pada proses berikutnya, peptida opioid mencapai dinding-dinding intestin dan memperlambat proses pencernaan sehingga menimbulkan perasaan kenyang. Oleh karena itu, tidaklah heran bila orang-orang yang sudah terbiasa makan roti atau nasi akan sulit merasa kenyang bila belum makan roti atau nasi. Roti atau nasi akan merangsang orang untuk makan lebih banyak daripada yang diperlukannya.  Masyarakat juga lalu merasa bahwa roti atau nasi adalah  sebuah kebutuhan hidup.

Daging, telur, ikan dan produk susu (dairy products) juga termasuk bahan-bahan yang mengandung peptida opioid5). Bahkan, jika bahan-bahan itu dibakar, mereka akan melepaskan dua zat beracun yang lain yang biasanya terdapat pada asap rokok,  yaitu “2-amino-9H-pyrido [2,3-b]indole” dan “2-amino-3-methyl-9H-pyrido[2,3-b]indole”.

Guru besar Matsumoto mengatakan bahwa daging yang dibakar akan memproduksi zat-zat adiktif beracun yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan rokok. Kadar racun adiktif pada 100 gram daging panggang setara dengan racun adiktif yang terdapat pada 800 rokok6).

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila daging bakar, seperti pada sate atau steak, merupakan makanan paling memikat sejak manusia mulai belajar memasak.

Hilangkan kecanduan itu dengan lebih banyak makan buah dan sayur organik segar tanpa dimasak. Biasakan untuk mengkonsumsi buah dan sayur segar sebanyak mungkin justru sebelum makan makanan yang lain dan minum. Bila lapar, dan itu biasa terjadi karena efek kecanduan belum hilang, segeralah konsumsi sayur dan buah organik atau minum air. Pada awalnya mungkin kita akan merasa  bingung dan resah karena perut tidak merasa kenyang, tetapi demi kesehatan kita pada masa mendatang, sebaiknya kita mulai mengurangi segala jenis tepung (baik roti, nasi, mi, pasta dst) serta segala jenis daging, telur, ikan dan susu serta produk-produk turunannya (yang terbuat dari itu).

Para penganut pola makan sgar mengatakan bahwa seandainya masyarakat tidak bergantung kepada nasi, roti dan sejenisnya serta produk-produk hewani, tentu kelaparan di dunia tidak ada, perdamaian akan tercapai karena hilangnya atmosfer kebencian dan kepedihan yang dipancarkan oleh hewan-hewan yang tersiksa di dalam peternakan dan ketika mereka akan dibunuh, orang-orang akan menjadi sehat dan berumur benar-benar panjang dalam kondisi terus sehat. Bukannya seperti sekarang, sebagian besar orang yang yang berusia 40 tahun ke atas cenderung tidak sepenuhnya hidup, karena bila tidak memang mereka sudah menderita berbagai penyakit yang sudah terdeteksi secara laboratorium, mereka juga mengakumulasikan begitu banyak penyakit yang siap meledak kapanpun  selayak “hidden tsunami”. Mereka tidak sadar bahwa penyakit mulai mengegerogoti mereka, seperti : nyeri persendian, kaku-kaku, rambut berminyak atau terlalu kering, mudah capai dst dst, dan mereka kira itu semua hanya sekilas tanda bahwa mereka mulai tua. Mereka mengabaikan semua tanda alamiah itu, dan mereka selalu berkata, “Buktinya, makan daging juga tidak mengakibatkan kita langsung sakit”.

“Apakah menunggu sakit lalu kita baru berhenti mengkonsumsi produk-produk beracun itu?”, tanya para penganut pola makan segar

1)        “Opioids In Common Food Products- Addictive Peptides In Meat, Dairy and Grains”, http://www.karlloren.com/diet/p18.htm

2)        Fukudome, S. et al, Gluten exorphin C :” a novel opioid peptide derived from wheat gluten”. FEBS Lett. 1993 / 316 (1) / 17-19. 1993

3)        Fukodome, S. et al, Opioid peptides derived from wheat gluten : their isolation and characterization. FEBS lett. 1992 / 296 (1) / 107-111, 1992.

4)        Huebner, F, “Demosntration of high opioid-like activity in isolated peptides from wheat gluten hydrolysates,” Peptides 5(6):1139-47, 1984. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0196978184901803

5)        Froetschel, M, “Bioactive Peptides in Digesta That Tegulate Gastrointestinal Function and Intake”, Anthen, GA: Department of Animal and Dairy Science, University of Georgia, Athens, USA, 2006.

http://www.ads.uga.edu/personnel/faculty/froetschel.html , http://jas.fass.org/content/74/10/2500.abstract

6)        Matsumoto, T, “Determination of Mutagens, Amino-alpha-carbolines in Grilled Foods and Cigarette Smoke Condensate”, Cancer Letters 12(1-2):105-10,1981. National Library of Medicine National Institutes of Health, USA, 1981 http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7272995 .

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: