SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Empat Sehat Lima Sempurna

Empat Sehat Lima Sempurna

 

Tidak terduga siang itu, dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan salah satu mantan menteri pendidikan Indonesia yang sampai sekarang masih aktif bertekun-tekun mengamati kurikulum pendidikan sekolah. Anehnya, pertemuan itu terjadi di sebuah restoran yang hanya menyediakan makanan nabati (vegan) di Jakarta. Kata beberapa staf restoran itu, bapak mantan menteri itu memang sudah beberapa kali datang.

Serta merta saya langsung menyapa dengan penuh heran, “Bapak seorang vegetarian?” dan beliau menjawab, “ya!”.

“Tetapi, kenapa kurikulum pendidikan menganjurkan perlakuan “empat sehat lima sempurna”?” tanya saya lebih lanjut.

“Ga, ga ada itu, tidak pernah disebutkan tentang empat sehat lima sempurna dalam kurikulum. Coba lihat kurikulum lagi…!” katanya menegaskan.

Oooo, begitu ya? Tetapi mengapa di sekolah masih diajarkan tentang Empat Sehat Lima Sempurna?

“Itu masalah lain, tanya saja ke sekolah masing-masing. Hubungi menteri kesehatan agar segera membenahi semua itu,” kata beliau.

 

Empat Sehat Lima Sempurna memang sebuah paham yang mengakar pada masyarakat dan dunia medis. Banyak orang tidak sadar bahwa slogan ini merupakan produk para produsen dan industrialis yang melupakan lingkungan dan kesehatan tubuh manusia sendiri. Pelajaran-pelajaran kesehatan diberikan dengan sistem peperangan dan perlawanan. Jarang atau hampir tidak pernah ada pendidikan tentang kemampuan tubuh memulihkan sendiri, atau tentang kadar racun yang ada dalam makanan yang beredar.

Sejak semester pertama, mereka dibekali dengan pengetahuan tentang penyakit dan obat, sehingga semua orang, bahkan yang tidak di dunia medis pun, akan selalu bertanya: “Saya sakit ini, apa obatnya?” Mereka selalu ingin cepat-cepat “sembuh” walaupun tanpa sadar mereka mengakumulasikan racun ke dalam tubuh yang lain dan suatu saat akan meledak menjadi penyakit lain yang lebih parah.

Cara berpikir semacam ini juga membuat banyak orang yang belajar menjadi rawfoodist lalu berpikir terlalu banyak tentang “super food” atau “suplemen”, yaitu karena mereka merasa kurang nutrisi atau kekurangan sesuatu. Tidak jarang para ahli makanan mentah juga lalu mengekspos tentang kelebihan suatu makanan (buah atau sayur tertentu) dan mengatakan bahwa makanan itu super dan maha hebat, tetapi sayang sekali makanan itu didapatkannya dalam kemasan, dan belakangan kita tahu, ternyata mereka juga dilatarbelakangi oleh suatu bisnis tertentu.

 

Yang jelas, para pemerhati dan pemula makanan mentah, jangan terlalu risau dengan nutrisi, karena sebenarnya kita sudah mengurangi racun yang masuk ke dalam tubuh kita dalam jumlah yang sangat banyak dan enzim-enzim dalam makanan mentah itu sangat bermanfaat sebagai katalisator dalam penyerapan protein dan berbagai nutrisi berguna bagi tubuh.

Hindari suplemen!

 

 

Susu

 

Sungguh sangat ironis, susu merupakan suplemen pokok pada hampir semua rumah sakit yang ada di dunia. Padahal susu merupakan suatu bentuk “makanan” yang paling sulit dicerna. Kasein, yang membentuk 80% protein yang ada di dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung.

Apalagi susu kaleng, udara bercampur dengan lemak pada waktu kita mengaduknya sehingga lemak itu menjadi teroksidasi dan menghasilkan radikal bebas yang sangat buruk pengaruhnya bagi tubuh.

Kualitas protein pada susu juga berubah akibat pemanasan (pasteurisasi) yang tinggi.

Menurut Prof. Hiromi Shinya, seorang dokter yang sudah memeriksa lambung dan usus lebih dari 300.000 orang dan merupakan Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Center, susu merupakan jenis makanan yang beredar yang paling buruk. Prof Shinya juga mengatakan bahwa jika anak sapi yang baru lahir hanya diberi susu kaleng maka anak sapi itu akan mati dalam empat hingga lima hari.

Beberapa fakta lain tentang susu yang dikemukakan oleh Prof Shinya adalah :

 

–       susu justru menyebabkan osteoporosis

–       wanita hamil yang minum susu akan menyebabkan anak-anak mereka mempunai kecenderungan menderita dermatitis atopik (peradangan kulit)

–       laktobasilus pada yoghourt justru mengacaukan keadaan flora di dalam lambung karena sesungguhnya laktase adalah enzim yang tidak diperlukan oleh orang dewasa bahkan justru akan mengacaukan keadaan tubuhnya. Kalau kita minum yoghourt tiap hari dapat dipastikan bahwa bau kotoran dan gas akan menjadi makin tajam dan lingkungan usus menjadi makin parah.

 

Hapuskan slogan Empat Sehat Lima Sempurna! Lupakan “super food”, hindari “suplemen”!

Marilah kita kembali ke alam! Kembali makan makanan mentah dan berusaha untuk organik!

 

(Makanan mentah yang dimaksud di sini adalah sayur dan buah segar (yang tidak dipanaskan lebih dari 45 0C) serta bijian, kacang-kacang, buah yang segar maupun kering. Daging, telur, ikan dan susu tidak termasuk kelompok makanan mentah sekalipun tidak dipanaskan, karena semuanya itu sudah menjadi “sampah” atau “bangkai

 

 

 

 


Makanan mentah atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: