SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Vitamin B12, 3b0) (dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

Vitamin B12, 3b0)

(dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

 

disadur dari “The Vitamin B12 Issue” oleh Dr Gina Shaw, D.Sc, M.A., Dip NH, AIYS (Dip. Irid.).

Dr. Gina adalah konsultan Kesehatan dan Nutrisi serta seorang Doktor dalam Complementary Medicine, ahli indiologi dan penasihat perencanaan puasa dan detoks. Ia banyak membantu orang sembuh dari penyakit plethora yang akut dan berbagai penyakit kronis serta muncul pada majalah The Times atas keberhasilannya menyembuhkan seorang penderita Ulcerative Colitis. Beliau juga sering memberikan ceramah dan kuliah di negaranya. Dia juga pengarang beberapa buku kesehatan  dan menawarkan jasa pengarahan serta retreat puasa dan detoksifikasi di UK dan di Eropa.

http://www.living-foods.com/articles/b12issue.html

lanjutan dari bagian 1  “Vitamin B12 oleh Dr Gina Shaw” : http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/637bdc0be5a026f2#
bagian 2:

Banyak orang yang mengkonsumsi antibiotik secara serampangan sehingga membunuh flora di dalam usus. Demikian pula makanan-makanan yang keras seperti ‘bawang bombay, bawang putih, akar-akaran yang menyengat dan makanan yang banyak mengandung minyak mustard (minyak biji sawi pahit’, mereka juga membunuh bakteri berguna di dalam tubuh. Masalah mulai muncul jika kita telah merusak flora usus. Kita menjadi sulit untuk memperbaikinya jika kita tidak melakukan perhatian yang sungguh-sungguh, tidak mendapat pengetahuan yang benar-benar baik dan tidak melakukan pola makan yang benar. Jauh lebih baik memperbaiki masalah flora di usus ketimbang menghabis sisa hidup kita dengan bergantung pada suplemen. Mereka yang memiliki masalah kesehatan sering mengira bahwa mereka tidak mendapatkan kecukupan vitamin B12, padahal sesungguhnya yang sering terjadi adalah karena tubuh mereka tidak bisa melakukan proses pencernaan, penyerapan atau mengasimilasikan makanan dengan baik karena kondisi pencernaannya terganggu. Jika usus mereka sembuh, tubuh akan bisa memproduksi vitamin B12 lagi dan juga bisa menyerapnya dengan baik.


Dr Vetrano tidak setuju pada kesimpulan yang dibuat dari berbagai data hasil penelitian bahwa akar permasalahannya adalah kurangnya asupan B12. Dia menegaskan bahwa terutama bukan asupan vitamin itu kurang, tetapi masalah yang sesungguhnya adalah  kegagalan pencernaan dan penyerapan makanan. Dia juga tidak setuju bawa koenzim vitamin B12 tidak terdapat pada berbagai jenis kacang dan biji serta juga berbagai macam sayur berwarna hijau, buah dan sayuran lain. Jika kita mengkonsumsi 100 gram kacang hijau, beet, wortel dan pea , kita akan mendapatkan separuh dari kebutuhan normal minimum tubuh atas vitamin B12. Dari “The Complete Book of Vitamins” dari Rodale halaman 236, kita dapatkan penjelasan: “Seperti kita ketahui, vitamin B kompleks dikatakan ‘kompleks” karena tidak hanya berupa satu vitamin tunggal, tetapi terdiri atas sejumlah banyak vitamin-vitamin yang saling berkaitan dan biasanya terdapat di dalam makanan yang sama”.

 

Penyebab terjadinya mal-absorpsi biasanya adalah gangguan pencernaan (gastrointestinal) dan hal ini sudah diketahui oleh para pathologi sejak tahun 1800 an. Pada kasus ini, gaya dan cara hidup penderita haruslah diperhatikan agar bisa hidup berbarengan dengan organisme-organisme yang berguna.

 

Menurut Marieb dalam bukunya yang berjudul “Human Anatomy and Physiologi”, vitamin B12 dapat menjadi hancur pada suasana yang sangat asam ataupun yang sangat basa. Dengan demikian B12 pada daging akan mudah hancur karena asam  hidroklorik yang berada dalam lambung selama proses pencernaan daging akan menjadi sangat asam. Itulah mengapa para pemakan daging cenderung mengalami defisiensi B12 meskipun makanan mereka mengandung vitamin B12. Selain itu, seperti sudah disebutkan sebelum ini, masalah yang timbul pada para pemakan daging adalah bahwa pada umumnya di dalam terdapat kandungan antibiotika yang tidak sedikit sehingga akan menghancurkan bakteri-bakteri berguna yang berada pada usus dan membuatnya menjadi busuk selamanya dan bakteri-bakteri yang sudah membusuk, yang secara alami terdapat pada daging, akan menyulitkan sistem pencernaan. Usus yang rusak tak akan bisa befungsi untuk dapat menyerap vitamin B12 dengan baik.

 

Tingkat serum B12 yang rendah tidak harus berarti terjadi defisiensi B12. Itu terjadi hanya karena tingkat B12 di dalam darah rendah, dan tidak berarti bahwa secara keseluruhan tubuh mengalami defisiensi, mungkin saja B12 itu sedang dimanfaatkan oleh sel-sel hidup di dalam tubuh (seperti sistem saraf pusat). Agar lebih teliti, uji coba dan tes yang lebih handal seperti pengukuran kadar homcysteine dan methyl malonic acid perlu dilakukan.

 

Secara komersial, tablet-tablet vitamin B12 dibuat dari bakteri dan bakteri ini difermentasikan dalam waktu lama.  Dalam jangka pendek, suplemen atau injeksi B12 mungkin dapat membantu, yaitu jika kadar B12 turun sangat rendah, tetapi jika tidak terlalu rendah dan dalam jangka panjang, Gina menyarankan agar mereka yang menderita defisiensi B12 untuk berpikir secara mendasar mengapa mereka terus menerus mengalami defisiensi dan mencari nasihat dari ahli kesehatan alami.


Menurut Dr. John Potter PhD dari Fred Hutchinson Cancer Center di Seattle :”Kekuatan magis pada makanan terletak pada ribuan interaksi kompleks dari berlusin-lusin jenis phytochemical yang sulit untuk diciptakan dalam sebuah pil. Sementara terdapat 190 penelitian yang solid membuktikan tentang  manfaat buah dan sayuran, suplemen hanya memiliki segelintir fakta”. Vitamin, mineral, hormon dst tidak bekerja sendiri, tetapi mereka bekerja sama secara simbiosa. Mereka bekerja dengan nutrisi-nutrisi yang lain supaya pekerjaan mereka bisa dimanfaatkan. Jika unsur-unsur yang sangat kompleks ini terganggu, keefektifan mereka secara keseluruhan akan berkurang. Walaupun demikian, nutrisi yang terlalu banyak juga akan menguras energi vital kita sebagai organisme manusia (atau juga bagi bukan manusia) untuk mendorong nutrisi berlebih itu keluar. Jadi, sebenarnya meragukan apakah kita benar-benar mengalami defisiensi B12. Gaya hidup dan pola makan yan lebih sehat dan juga puasa mungkin merupakan solusi untuk memperbaiki masalah yang sesungguhnya.

 

(bersambung)

————————————————————————————————————–

0) bagian 1 terdapat di:http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/81f6adb42b5db02a#

bagian 2 terdapat di : http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/88e26d712d05b0bb#

bagian 3 terdapat di: http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/299c6a675d72f2d9#

bagian 3a terdapat di: http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/637bdc0be5a026f2#

1) Sindrom kelelahan kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS) atau myalgic encephalomyelitis (ME) menyerang jutaan penduduk dunia.  Penyakit ini membuat seseorang mengalami kelelahan fisik yang teramat sangat. Walaupun di Indonesia penyakit ini belum banyak ditemui tetapi di Amerika Serikat terdapat sekitar 1 hingga 4 juta penderita penyakit tersebut dan di Inggris diperkirakan terdapat sekitar 250 ribu. Menurut Kamus Perawatan, edisi ke 17 halaman 289, terjemahan dari Churchill Libingstone’s Dictionary of Nursing, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997: “penyakit myalgic encephalomyelitis (ME) membuat keadaan umum penderita jelek dan sulit didiagnosis serta dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Gejalanya sangat banyak dan mencakup keluhan tidak enak bdan serta mudah lelah, ketidakmampuan berkonsentrasi, problem digestif, gangguan daya ingat serta depresi”.

2) Dr. Virginia Vetrano, D.Sc. , mendapatkan Doctor of Science degree di Natural Hygiene from the City University of L.A, merupakan konsultan Natural Hygiene sejak tahun 1964. http://www.roylretreat.com/vetrano.html

 


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: