SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Brahmavihara – Dharma Keluhuran

BRAHMAVIHARA – DHARMA KELUHURAN


Latihan pengembangan diri lebih lanjut dalam Buddhisme yang merupakan suatu pengembangan Kebajikan Luhur Tidak Terbatas atau Tidak terukur, dalam bahasa Sanskerta disebut Apramanaya [Appamanna] atau sering disebut juga Cara Bertingkah Laku Yang Luhur, sebagaimana Sikap Kediaman Brahma [Brahmavihara]. Terdapat empat sifat luhur yang harus dikembangkan dan dipancarkan kepada semua makhluk tanpa batas atau perbedaan. Kebajikan luhur ini yang mana merupakan pencerminan sifat seorang Bodhisattva, merupakan keadaan yang telah terbebaskan dari kemarahan, kebencian, kekejaman, iri-hati dan perbedaan.

Keempat Sifat Luhur tersebut terdiri dari Cinta Kasih, Kasih Sayang, Simpati dan Keseimbangan.

Cinta Kasih [Maitri/Metta]

Sifat Cinta Kasih merupakan sifat luhur yang memuliakan seseorang karena telah terbebas dari kebencian, kemarahan, dan nafsu keinginan. Cinta Kasih ini tidaklah terbatas pada makhluk hidup tertentu saja, tetapi sifat ini haruslah dipancarkan kepada semua makhluk hidup tanpa adanya suatu batasan.

Dengan sifat Cinta Kasih yang dipancarkan setiap saat kepada semua makhluk hidup, maka seseorang itu akan bergembira dalam kebaikan sehingga kemanapun dia melangkah tidak akan memiliki musuh baik yang kelihatan ataupun tidak kelihatan.

Sang Buddha bersabda, “Bagi orang yang penuh perhatian murni, selalu ada kebaikan. Bagi orang yang penuh perhatian murni, kebahagiaannya bertambah. Bagi orang yang penuh perhatian murni, segala sesuatunya menjadi lebih baik, meskipun ia belum bebas dari para musuh. Tetapi ia yang siang dan malam bergembira di dalam kebaikan, membagi Cinta Kasih kepada semua makhuk hidup, orang demikian tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun.” (Samyutta Nikaya I, 208).

Seseorang yang telah berhasil mengembangkan sifat Cinta Kasih ini akan menunjukkan kebajikan sebagai sifat utamanya dimana senantiasa tertarik untuk memajukan kesejahteraan orang lain tanpa melihat kejelekan orang tersebut. Pengembangan Cinta Kasih yang berkelanjutan akan menghasilkan berkah, antara lain:

Tidur dengan bahagia tanpa gelisah dan mimpi buruk

Bangun tidur dengan kesegaran dan wajah yang berseri

Selalu dicintai juga oleh orang lain.

Tidak pernah disakiti oleh makhluk apapun juga.

Selalu dilindungi oleh para Dewa.

Cepat larut dalam meditasi yang mendalam [samadhi].

Aura wajah yang memancarkan sinar yang memikat.

Tidak ada api, racun dan senjata yang dapat melukainya.

Mampu memancarkan suatu pengaruh daya tarik yang baik bagi orang lain walaupun dalam jarak yang jauh.

Pada saat meninggal dapat dilakukan dengan tenang dan bahagia dan yang mana akan dilahirkan di alam yang bahagia.

Untuk melatih sifat Cinta Kasih ini dapat dilakukan dengan cara selalu mengkonsentrasikan pikiran secara positif, suatu kondisi pikiran yang penuh kedamaian dan kebahagiaan dimana telah terbebaskan dari segala bentuk penderitaan, kebencian, kesusahan, dan kemarahan, sehingga seseorang itu senantiasa tenang, sabar dan bahagia. Penting sekali diperhatikan bahwa pada awalnya pelatihan sifat Cinta Kasih itu harus dikembangkan dalam diri sendiri dulu, dengan berkonsentrasi pada, misalnya, “Semoga saya berbahagia dan terbebas dari penderitaan” atau “Semoga saya terhindar dari permusuhan, kesakitan dan kekhawatiran; serta hidup berbahagia”. Pengembangan diri sendiri ini penting untuk dilakukan karena konsepsi pikiran kita terhadap orang lain adalah mencerminkan bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Sang Buddha bersabda, “Ketika menjelajahi segenap penjuru dengan pikiran; Orang tak menemukan seorang pun lebih disayang dari dirinya sendiri; Begitu pula setiap orang memandang dirinya sendiri yang tersayang; Karena itu ia yang mencintai dirinya sendiri sebaiknya tak mencelakai orang lain.” (Samyutta Nikaya i, 75; Udana 47)

Setelah memperoleh sifat Cinta Kasih tersebut dalam diri kita, maka kita akan mampu mematahkan semua bentuk permusuhan dan pikiran negatif yang muncul. Berdasarkan pikiran yang positif dalam diri kita sendiri tersebut, selanjutnya kita pancarkan sifat Cinta Kasih kepada orang-orang yang dekat dengan kita dengan mengingat segala kebaikan yang pernah dibuatnya, kemudian kepada orang-orang jauh dari kita, teman ataupun musuh dan seterusnya kepada semua makhluk tanpa perbedaan.

“Dengan cara yang sama, hendaknya engkau mengembangkan pikiran Cinta Kasih kepada teman dan lawan tanpa perbedaan. Setelah mencapai kesempurnaan dalam Cinta Kasih, engkau akan mencapai pencerahan.” (Jataka Nidanakatha, 169)

“Memancarkan ke satu jurusan dengan hati penuh Cinta Kasih, …, ke atas, ke bawah dan ke sekeliling; semua tempat dan secara merata ia memancarkan ke seluruh dunia dengan hati yang penuh cinta kasih, melimpah, agung, tak terukur, bebas dari permusuhan, dan bebas dari kesakitan” (Digha Nikaya , i,250).

Sesudah kita dapat mengembangkan sifat Cinta Kasih tersebut, maka latihan tersebut haruslah senantiasa diulang hingga tercapai keadaan tanpa perbedaan terhadap diri sendiri, orang yang dikasihi, orang yang netral dan musuh. Ciri dari seseorang yang telah mencapai sifat Cinta Kasih ini dapat digambarkan pada cerita berikut ini.

Tidak Seorangpun Yang Boleh Dibawa

Seandainya dia sedang duduk di sebuah tempat bersama orang yang disayangi, netral, musuh dan dirinya sendiri sebagai orang keempat, kemudian bandit-bandit datang kepadanya dan berkata, “Tuan, berikan salah seorang dari kalian”, dan ketika ditanya mengapa, mereka menjawab, “Agar kita dapat membunuhnya dan menggunakan darah dari tenggorokannya sebagai persembahan”, dan bila dia berpikir, “Biarlah mereka membawa orang ini, atau orang itu”, dia belum menghancurkan penghalang. Dan juga bila dia berpikir, “Biarlah mereka membawa saya dan bukan ketiga orang lainnya”, dia juga belum menghilangkan penghalang. Mengapa? Karena dia mencari celaka dirinya sendiri yang dia harapkan untuk dibawa dan mencari keselamatan dari hanya orang-orang lain. Namun ketika dia tidak melihat seorang pun di antara keempat orang tersebut untuk diberikan kepada bandit, maka dia telah mengarahkan pikirannya secara tidak memihak terhadap dirinya dan ketiga orang lainnya, dan dia telah menghancurkan penghalang.

Bagi orang yang belum menghilangkan diskriminasi terhadap keempat orang ini maka dia hanya dijuluki “Ramah terhadap Makhluk-makhluk”, namun bagi yang telah menghilangkannya maka dia dijuluki “Mahir” atau “Mempunyai Rasa Persahabatan Sekehendaknya”

“Sifat mulia dari Cinta Kasih harus direnungkan seperti ini, ‘Seseorang yang hanya menaruh perhatian pada kesejahteraan dirinya, tanpa menaruh perhatian pada kesejahteraan orang lain, tidak akan dapat mencapai keberhasilan di dunia ini ataupun kebahagiaan di masa mendatang. Lalu bagaimanakah seseorang yang ingin menolong semua makhluk tetapi tidak memiliki Cinta Kasih pada dirinya berhasil mencapai Nibbana? Dan bila engkau ingin memimpin semua makhluk ke Nibbana, engkau seharusnya mulai dengan mengharapkan kesejahteraan duniawi bagi mereka di sini dan sekarang.’.

Orang seharusnya merenung, ‘Aku tidak dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi makhluk lain hanya dengan mengharapkannya. Aku harus melakukan suatu upaya untuk mencapainya.’

Orang seharusnya merenung, ‘Sekarang aku menyokong mereka dengan meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka, dan nanti mereka akan menjadi sahabatku dalam Dhamma.’

Lalu orang seharusnya merenung, ‘Tanpa makhluk-makhluk ini, aku tidak dapat mengumpulkan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai Penerangan Sempurna. Karena mereka merupakan alasan untuk mempraktekkan dan menyempurnakan seluruh kemampuan seorang Buddha, makhluk-makhluk ini bagiku merupakan ladang keuntungan terbesar, landasan yang tiada taranya untuk menanamkan akar-akar yang bermanfaat, dan dengan demikian, merupakan obyek akhir dari kemuliaan.’

Jadi, seseorang seharusnya membangkitkan suatu kecenderungan yang kuat yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan semua makhluk.

Dan mengapa Cinta Kasih terhadap semua makhluk seharusnya dikembangkan? Karena hal itu merupakan landasan dari Kasih Sayang. Karena ketika seseorang bergembira dalam mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi makhluk lain dengan batin yang tidak terikat, maka keinginan untuk melenyapkan kesusahan dan penderitaan mereka menjadi terbentuk secara kuat dan tetap. Dan Kasih Sayang merupakan sifat yang sangat unggul dalam Kebuddhaan, merupakan dasar, pijakan, akar, kepala dan pimpimpin Kebuddhaan.” (Cariyapitaka Atthakatha 292)

Kasih Sayang [Karuna]

Kasih Sayang merupakan suatu perasaan kasihan dimana sampai tergetar hati seseorang apabila pihak lain terkena penderitaan sehingga timbul niat untuk membantu menghilangkan atau meringankan penderitaan tersebut.

Salah satu contoh yang telah diberikan sebelumnya yaitu pengorbanan Bodhisattva yang mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan harimau betina dan anak-anaknya adalah merupakan sifat Kasih Sayang seorang Bodhisattva yang senantiasa berkehendak meringankan penderitaan orang lain. Pada jaman seperti saat ini tentunya hal demikian dapat juga kita lakukan dengan melakukan donor darah secara teratur dimana akan disumbangkan kemudian untuk pihak-pihak yang sangat membutuhkannya karena sedang menderita kekurangan darah.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa sifat Kasih Sayang ini merupakan satu-satunya hal yang perlu dikembangkan oleh seorang Bodhisattva dimana akan menuju kemahiran dalam semua prinsip dan sifat keBuddhaan. Seseorang yang telah diliputi sifat Kasih Sayang yang sejati , tidak akan lagi mementingkan diri sendiri tetapi senantiasa mencari kesempatan untuk membantu pihak lain tanpa mengharapkan suatu balas jasa ataupun ucapan terima kasih. Bilamana seseorang yang telah melatih diri dengan selalu bersikap tanpa perbedaan terhadap orang lain sebagaimana terhadap dirinya sendiri, maka dia telah menunjukkan sifat Kasih Sayang yang sempurna. Sang Buddha juga telah menunjukkan sifat Kasih Sayang ini terhadap pelacur Ambapali dan pembunuh Angulimala yang mana setelah disadarkan olehNya kemudian mereka berdua menjadi pengikut Beliau yang setia dan mencapai pencerahan.

Walaupun adakalanya terdapat orang yang secara kentara menjadikan dirinya sendiri ataupun orang lain merana, tapi tetap saja pada akhirnya dia akan merasakan penderitaan itu sendiri. Seringkali karena kebiasaan dan kebodohan batinnya sendiri sehingga dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Seekor ular berbisa tetap akan mengeluarkan bisanya kepada setiap orang yang mendekatinya dengan tujuan untuk melindungi dirinya sendiri tanpa menyadari apakah orang itu akan menganggunya ataupun tidak. Hal ini karena kebiasaan dan kebodohan ular itu sendiri. Manusia yang dibekali logika yang sempurna, tidaklah perlu bertindak demikian, yaitu dengan bersikap egois dan mencelakai orang lain.

Kita dapat mengetahui dari sejarah hidup para Guru Agung terdahulu ataupun masa kini yang mengabdikan hidup Mereka sepenuhnya untuk kebahagiaan orang lain, senantiasa mencurahkan sifat Kasih Sayang kepada setiap orang sebagai sahabat lama, sebagaimana Y.M. Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso mengatakan, “Saya selalu berusaha untuk memperlakukan siapa saja yang saya jumpai sebagai seorang sahabat lama. Hal ini memberi saya suatu kebahagiaan yang sejati. Ini adalah cara untuk mempraktekkan Kasih Sayang.”

Seperti sifat Cinta Kasih, demikian juga sifat Kasih Sayang haruslah kita pancarkan tanpa batas kepada seluruh makhluk yang menderita dan tak berdaya termasuk hewan yang bisu dan telur yang dibuahi. Berpesta pora dengan daging hewan yang dibunuh atau yang menyebabkan mereka untuk dibunuh demi kepuasan makan semata-mata bukanlah merupakan Kasih Sayang manusia. Menyebarkan kerusuhan sehingga terjadi tindak kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa adalah hal yang tidak manusiawi dan kejam. Perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia hanya karena perbedaan suku, bangsa, ras dan agama sehingga menghancurkan berjuta-juta makhluk hidup, tempat tinggal, ladang pertanian dan lahan perekonomian suatu negara yang menyebabkan penderitaan jutaan anak-anak dan orang tua yang kehilangan tempat berteduh dan harus mengungsi tanpa tujuan, adalah tanpa peri kemanusiaan dan sama sekali tanpa Kasih Sayang. Kasih Sayang adalah dengan merangkul semua makhluk yang tertimpa kemalangan, sedangkan Cinta Kasih mencakup semua makhluk hidup yang berbahagia ataupun berduka.

Salah satu cara yang dapat melengkapi latihan Cinta Kasih dan Kasih Sayang ini adalah dengan senantiasa berusaha mengurangi penderitaan makhluk hidup baik langsung ataupun tidak langsung yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari kita baik dari pikiran, ucapan, maupun perbuatan kita. Perbuatan disini termasuk cara makan kita yaitu dengan berusaha semaksimal mungkin untuk mulai mengurangi makanan hewani dengan memakan lebih banyak makanan non-hewani atau nabati (vegetarian). Penjelasan lebih lanjut mengenai cara vegetarian dan manfaatnya telah diuraikan pada bab terdahulu.

Sang Buddha senantiasa mencurahkan Kasih Sayang yang tidak terbatas kepada seluruh dunia, demikian juga para siswaNya dimana ketika mereka hidup di dunia ini, mereka selalu berbuat untuk kebaikan dan kebahagiaan seluruh makhluk, yang timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia

Sang Buddha bersabda, “Ketika Sang Tathagata atau para siswaNya hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebahagiaan banyak makhuk, timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia.

Dan siapakah Sang Tathagata itu? Mengenai hal ini, seorang Tathagata muncul di dunia, Buddha Yang Maha Mulia, Buddha Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan perbuatanNya, sempurna menempuh jalan (ke Nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing umat manusia yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan.

Dan siapakah siswa Sang Tathagata itu? Dia adalah seorang yang mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah pula di akhirnya, baik dalam kata-kata maupun maknanya. Dia membuat kehidupan suci menjadi jelas, sempurna, dan tak ternoda.

Inilah Sang Tathagata dan para siswaNya, dan ketika mereka hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebaikan banyak makhluk, untuk kebahagiaan banyak makhluk, timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia.” (Anguttara Nikaya II, 146)

Simpati [Mudita]

Sifat luhur Simpati merupakan suatu perasaan atau perhatian atas kegembiraan atau kesedihan orang lain tanpa adanya keirihatian, dendam, bermuka dua, ataupun kemauan jahat lainnya. Ciri utama dari orang yang telah memiliki sifat luhur Simpati adalah berbahagia atas kesejahteraan dan keberhasilan orang lain [Anumodana], kepercayaan, dan bebas dari kemurungan dan patah semangat, idaman, kecemburuan, bermuka-dua atau tidak jujur, dan permusuhan.

Sering kita menyaksikan adanya orang yang bergembira atas kegagalan orang yang tidak disenanginya dan berkeluh kesah atas keberhasilan orang tersebut. Demikian juga tidak jarang kita saksikan adanya sifat irihati dan dengki antara keluarga dekat kita, tetangga, perusahaan, sekolah, pemerintahan, agama, suku, bangsa sampai negara dengan negara lainnya. Sifat irihati ini sering akhirnya memuncak sehingga menyebabkan perdebatan, perkelahian, kecurangan, pembunuhan, sampai perang yang pada akhirnya hanya akan menyebabkan penderitaan kepada semua pihak. Dengan alasan inilah maka sangatlah penting adanya setiap pribadi ataupun suatu kelompok tertentu dapat mempraktekkan sifat Simpati dengan cara saling menghargai keberhasilan masing-masing pihak dengan memuliakan dan berbahagia setulusnya. Dengan sikap demikian maka kita akan cenderung mengurangi ketidaksenangan atau irihati [Arati] terhadap orang lain yang kita nilai lebih berhasil.

Kekuatan Simpati dapat kita bina dengan selalu bermurah hati, berbicara ramah, berbuat kebajikan dan tidak memperlakukan pembedaan atau diskriminasi.

Sang Buddha bersabda, “Dan apakah yang merupakan kekuatan simpati? Ada empat pokok simpati : murah hati, berbicara ramah, berbuat kebajikan dan memperlakukan semua secara sama rata. Murah hati yang terbaik adalah murah hati dengan Dharma. Berbicara ramah yang terbaik adalah membabarkan Dharma berulang-ulang kepada pendengar yang baik dan penuh perhatian. Kebajikan terbaik adalah membujuk, mendorong, dan membangun keyakinan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan, kebajikan pada mereka yang tidak berkebajikan, kemurahan hati pada mereka yang kikir, dan kebijaksanaan pada mereka yang bodoh. Perlakuan yang sama yang terbaik adalah persamaan antara orang yang telah memasuki arus [Sotapanna] dengan orang yang telah memasuki arus, antara orang yang hanya dilahirkan sekali lagi [Sakadagami] dengan orang yang hanya dilahirkan sekali lagi, antara orang yang tidak dilahirkan lagi [Anagami] dengan orang yang tidak dilahirkan lagi, dan antara yang mahamulia [Arahat] dengan yang mahamulia. Inilah yang dinamakan kekuatan Simpati.” (Anguttara Nikaya, IV 362)

Keseimbangan [Upeksa/Upekkha]

Sifat luhur Keseimbangan adalah suatu perasaan netral, pikiran yang tenang dalam keadaan apapun atau memandang dengan bijaksana, melihat tanpa adanya perbedaan yaitu tanpa kemelekatan atau keengganan atau melihat dengan benar dan sadar tanpa kesenangan ataupun ketidak-senangan. Sifat luhur Keseimbangan ini adalah merupakan yang paling sulit dan yang terpenting untuk dicapai dibandingkan dengan ketiga sifat luhur sebelumnya.

Bagi kita yang menjalani kehidupan sebagai umat awam, tentunya senantiasa mengalami berbagai gejolak kehidupan yang adakalanya menyeret kita ke dalam arus kebencian, kesenangan, keputus-asahan, ataupun kepuasan yang mana tanpa kita sadari sering menyebabkan kita melekat pada kondisi yang muncul tersebut. Sungguh sulit untuk dapat mempertahankan suatu batin yang seimbang, dimana pada saat untung kita tidak perlu berlebih-lebihan dengan menghamburkan uang untuk menikmati keuntungan tersebut, ataupun pada saat rugi kita tidak menjadi terlarut dalam kesedihan yang mendalam karena kerugian tersebut. Terdapat delapan kondisi duniawi yang sulit untuk kita hindari [Atthalokadhamma], yaitu untung [labha] dan rugi [alabha], terkenal [yasa] dan tidak dikenal [ayasa], dipuji [pasamsa] dan dicela [ninda], bahagia [sukha] dan menderita [dukkha].

Kehidupan seorang pengusaha senantiasa dipenuhi berbagai perhitungan yang memperlihatkan keuntungan dan kerugian dari hasil usahanya. Tetapi apabila kita sadari, maka keuntungan ataupun kerugian yang timbul dari kegiatan usaha tersebut pada dasarnya adalah merupakan suatu resiko yang memang harus kita tanggulangi. Tiada usaha yang tanpa resiko. Bagaimana kita mempersiapkan diri dan batin kita untuk menghadapi resiko yang muncul itulah diperlukan sikap Keseimbangan batin. Timbulnya keuntungan tidak membuat kita menjadi sombong, dan sebaliknya timbulnya kerugian juga tidak akan membuat kita menjadi gelisah.

Pengusaha Yang Bangkrut

Penyusun mengenal seorang pengusaha yang sempat sukses dan menjadi salah seorang Konglomerat di negara ini. Walaupun latar belakang pengusaha ini tidaklah begitu mendukung karena berasal dari keluarga yang miskin, namun berkat kegigihan, ketangguhan, dan kepintarannya dalam memajukan usahanya, sehingga dia memperoleh kepercayaan dari berbagai lembaga keuangan yang memberikannya pinjaman dalam berusaha.

Setelah sekian lama melakukan ekspansi usaha yang tidak didukung oleh perencanaan dan misi yang terfokus pada pokok usahanya, akhirnya pengusaha ini mengalami masa-masa sulit yang tidak mungkin dapat dihindarinya, dimana pabrik, mesin, tanah dan segala fasilitas yang dijadikan jaminan kredit tersebut harus disita oleh bank karena sudah tidak mampu membayar kembali bunga dan pokok pinjamannya.

Setelah bangkrut dan hidup secara sederhana, suatu hari penyusun bertemu bekas Konglomerat tersebut yang saat ini sudah menikmati masa pensiunnya, namun sama sekali tidak terbesit adanya keluh kesah ataupun rasa penyelesalan dalam dirinya atas segala kegagalan usaha yang ditekuninya. Satu kalimat yang sangat membekas dari bekas pengusaha sukses ini adalah, “Kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa, demikian juga nanti pada saat kita kembali juga tanpa membawa apa-apa . Usaha saya yang mulai dari nol tanpa modal sepeserpun, akhirnya kembali juga menjadi nol. Paling tidak saya masih memiliki keluarga dan anak-anak yang masih menyayangi saya.”

Kehidupan para Guru Agung selalu mengalami berbagai kritikan, kecaman, penghinaan, cercaan, makian, tuduhan palsu, tipuan, yang mana semuanya harus dihadapi dengan sifat luhur Keseimbangan yang mendalam. Tidaklah mengherankan apabila kehidupan Buddha Gautama sering mendapatkan kecaman yang tidak beralasan, misalnya dituduh menghamilkan anak gadis, merampas anak lelaki dari para ibu, suami dari para istri sampai tuduhan menghalangi kemajuan bangsa. Saudara sepupuNya sendiri, Devadatta berusaha membunuh Beliau dengan menggulingkan sebongkah karang dari atas bukit. Tetapi semua itu dapat dihadapi Beliau dengan Keseimbangan batin yang mendalam. Sokrates , filsuf Yunani kuno yang terkenal akan ungkapannya, ‘Kenalilah dirimu!’ [Gnothi seauton!] dituduh menyebarkan ajaran yang menyesatkan, dimana akhirnya meninggal karena keracunan minuman. Namun pada detik terakhir ajalnya, Sokrates masih sempat menenangkan murid-muridnya dengan berkata, “Maut itu ibarat tidur nyenyak yang abadi tanpa terganggu sekalipun oleh mimpi. Kini tibalah saatnya untuk berpisah; aku menyambut kematian dan kalian menempuh kehidupan; mana yang lebih baik, hanya Yang Maha Kuasa yang tahu.Yesus Kristus yang penuh Kasih, harus menjalani kehidupan yang sengsara dengan berbagai tuduhan dan makian dimana oleh penguasa saat itu kemudian Beliau disalib bersama penjahat lainnya. Mahatma Gandhi yang terkenal arief dan bijaksana harus ditembak mati. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa memang sulit sekali untuk dapat menjadi orang baik, pemaaf, pemurah hati yang senantiasa terjaga Keseimbangan batinnya. Namun seorang Guru Agung senantiasa tidak pernah membalas berbagai hinaan dan cacian yang diterimanya, melainkan dengan sopan menyadarkan kepada lawannya atas kekhilafan dirinya.

Tidak Menerima Undangan

Dalam memenuhi suatu undangan untuk menerima dana dari seorang Brahmin, Sang Buddha mendapatkan cacian ‘babi’, ‘orang biadab’, ‘kerbau’ dan kata-kata kotor lainnya. Tetapi Beliau sama sekali tidak terganggu. Beliau tidak membalas, malah justru dengan sopan, Sang Buddha bertanya kepada tuan rumah,

“Apakah para tamu berkunjung ke rumahmu brahmin yang baik?”

“Ya”, jawabnya.

“Apa yang kamu lakukan ketika mereka datang?”

“Oh, kami menyiapkan jamuan yang mewah.”

“Bagaimana seandainya mereka lupa datang, sehingga apa yang akan engkau lakukan dengan jamuan yang telah dipersiapkan tersebut?”

“Mengapa, dengan senang hati kami sendiri akan memakannya.”

“Baik, brahmin yang baik, kamu telah mengundangku untuk menerima dan dan menjamuku dengan caci-maki. Aku tidak menerima apapun. Silahkan mengambilnya kembali.”

Celaan tampaknya merupakan suatu warisan budaya manusia yang selalu langgeng dari waktu ke waktu. Bagaimana dapat bersikap dengan tenang dan bijaksana dalam berbagai situasi dicela dan dimaki akan mampu melatih diri kita dalam Keseimbangan. Ingatlah selalu pepatah yang mengatakan bahwa, “Biarlah anjing menggonggong, tetapi kafilah tetap berlalu”, atau “Tong kosong nyaring bunyinya”.

Sang Buddha bersabda :

Pelajarilah hal ini dari air;

di lembah-lembah dan jurang-jurang,

mengalir dengan gemuruh anak sungai,

tetapi sungai besar mengalir dengan tenang.

Tong kosong nyaring bunyinya,

yang penuh selalu tenang.

Orang bodoh adalah seperti tong yang setengah terisi,

orang bijaksana adalah seperti kolam dalam yang tenang.

(Sutta Nipata, 720-721)

Sering kita merasakan ataupun melihat penderitaan orang lain yang terpisah dari orang yang dikasihinya karena meninggal dunia. Tentunya kejadian ini akan menimbulkan kepedihan batin yang mendalam. Namun kita harus juga menyadari bahwa tidak terdapat di dunia fana ini sesuatu yang selamanya kekal. Setiap orang akan mengalami kematian, baik mati di waktu sebelum lahir, sesudah lahir, pada usia muda, karena sakit ataupun karena usia tua.

Menghidupkan Yang Mati

Kisa Gotami kehilangan bayi tunggalnya, dan ia pergi mencari obat untuk menghidupkan bayi lelakinya yang telah mati. Dengan menggendong jenasahnya, dia menghadap Sang Buddha dan meminta obat.

Sang Buddha setelah mengetahui persoalannya, dengan tenang berkata,

“Baik, saudari, dapatkah kamu membawa sedikit biji lada?”

“Tentu, Bhante!”

“Tetapi, saudari, biji lada tersebut haruslah berasal dari satu rumah dimana tidak seorangpun sanak keluarganya yang pernah mati.”

Gotami pun berangkat dari mencari serta mengetuk ke hampir seluruh seluruh rumah di desa tersebut. Semua rumah yang didatanginya menyimpan biji lada, namun tidak ada satupun penghuni rumah yang dikunjunginya tersebut yang tidak pernah kehilangan sanak keluarganya karena kematian.

Akhirnya Kisa Gotami memahami sifat kehidupan.

Akhirnya sikap Keseimbangan ini sangat ditentukan oleh bagaimana kita dapat menjaga batin yang seimbang di antara untung dan rugi, dikenal dan tidak dikenal, dipuji dan dicela, bahagia dan menderita.

Untung dan rugi, dikenal dan tidak dikenal, dipuji dan dicela, bahagia dan menderita, kedelapan kondisi ini adalah merupakan sumber kemelekatan duniawi yang menyebabkan gejolak batin, yang sering juga disebut delapan sumber mata angin.

Puisi Bau Kentut

Seorang cendekiawan, Zhou Zi, yang telah mempelajari konsep Buddhisme dari gurunya, seorang Mahabhikshu Zen, pada suatu hari membuat suatu puisi yang menurutnya merupakan pencerminan keadaan batinnya yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam puisinya tersebut, dilukiskan bagaimana dia telah mencapai keadaan batin yang damai, kokoh, tidak terpengaruh oleh bahkan delapan mata angin sekalipun.

Sungguh bangga sekali Zhou Zi akan puisi barunya tersebut, sehingga dia berniat untuk mengirimkan kepada gurunya yang tinggal di seberang sungai, dengan harapan akan memperoleh pujian. Zhou Zi segera mengirimkan kurir untuk menyampaikan puisinya tersebut, yang diberi judul ‘Hati yang Tiada Tergoyahkan’. Setelah gurunya menerima kiriman puisi tersebut dan membacanya, dimana oleh kurir cendekiawan dimintakan agar gurunya dapat menuliskan kesannya, maka beliau menuliskan sesuatu di balik kertas puisi tersebut dan diserahkannya kembali melalui kurir.

Zhou Zi menunggu kedatangan kurirnya untuk membaca pujian yang disampaikan oleh gurunya, dan segera dibuka sampul berisi kertas puisinya. Betapa marahnya Zhou Zi menemukan tulisan gurunya berupa tinta merah dengan tiga huruf besar, ‘PUISI BAU KENTUT’. Sungguh geram Zhou Zi, dia menilai gurunya benar-benar tidak mengerti ungkapan yang mendalam dari dia akan konsep Buddhisme tentang keseimbangan batinnya. Zhou Zi memutuskan untuk segera ke seberang sungai menemui gurunya.

Sesampainya di tempat gurunya, Zhou Zi menanyakan dengan emosi yang ditahan, “Kenapa suhu mencela puisi saya, apakah suhu tidak bisa menangkap arti kiasan yang begitu mendalam dari puisi ini?” Mahabhikshu Zen tersebut tertawa dan berkata, “Ha…ha..ha…, lihatlah dirimu sendiri muridku, baru terkena satu angin kentut saja, Anda sudah terbirit-birit ke sini…., apalagi kalau diterpa delapan mata angin sekaligus!”

(satu angin yang dimaksud oleh Mahabhikshu Zen tersebut adalah keadaan batin yang dicela).

Sang Buddha bersabda, “Mereka yang telah memotong semua kemelekatannya dan telah mengatasi gejolak batinnya, akan tenang, tentram dan bahagia, karena dia telah mencapai keadaan batin yang damai.” (Samyutta Nikaya I, 212).

Kutipan Buku “Tiga Guru, Satu Ajaran” oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: