SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Vitamin B12, 2 (dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

Vitamin B12, 2

(dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

 

Sekalipun mudah dideteksi dan diobati, lebih dari 40% orang Amerika Serikat menderita ‘kekurangan atau defisiensi’ B12. Gejala defisiensi B12 ini sangat menyerupai berbagai penyakit lain yang sering membuat diagnosa para praktisi kesehatan menjadi salah arah. Gejala defisiensi B12 dapat serupa dengan penyakit dimensia, MS (multiple sclerosis), parkinson, diabetic neruophaty4)  atau gejala-gejala sindrom kelelahan. Gejala ini juga dapat menyebabkan kemandulan pada pria dan wanita dewasa atau juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan anak-anak.

 

Sally M. Pacholok RN dan Jeffrey J Stuart DO, dalam bukunya yang berjudul “Could it Be B12, An Epidemic of MisDiagnoses?” 5) :

 

“Seorang teman wanita kami, sekalipun kelihatan sehat, tetapi pada suatu hari tiba-tiba betisnya sangat sakit dan dokter tidak dapat mendiagnosa dengan baik atas penyakitnya itu. Setelah berbulan-bulan menderita dan tidak sembuh dari berbagai pengobatan , dia mencoba penyuntikan injeksi vitamin B12 dan lalu rasa sakitnya menghilang. Penyakit itu berkali-kali datang dan tiap kali pula dia harus melakukan penyuntikan B12. Penyuntikan itu dilakukan dua kali dalam seminggu tepat di bawah permukaan kulit. Dia memang mengalami defisiensi B12, tetapi mengapa selalu kekurangan? Mengapa tidak semua orang bisa sembuh seperti dia sekalipun sudah mengkonsumsi banyak vitamin B12?”

 

 

 

 

Karena B12 adalah sebuah molekul yang sangat besar maka untuk bisa menyerapnya dengan baik diperlukan beberapa faktor yang menunjang. Tanpa faktor penunjang tersebut maka sangatlah mungkin orang akan menderita defisiensi B12 sekalipun dia mengkonsumsi B12 dalam jumlah banyak.

 

Salah satu contoh penunjang penyerapan vitamin B12 itu adalah asam lambung  (gastric acid). Oleh karena segala sesuatu yang mengurangi asam lambung akan dapat menyebabkan defisiensi B12, misalnya: bedah lambung, artophic gastritis dan obat-obat antacid. Begitu juga dengan berbagai pil sepreti prevacid, protonix, zantac, nexium, aciphex, zantec, tagamet, pepcid, maalox, mylanta juga akan mengurangi asam lambung, sehingga membatasi penyerapan B12 dan akhirnya mengakibatkan defisiensi B12. Obat-obat seperti Metformin dan obat diabetes yang lain juga menyebabkan defisinesi B12. Obat anastesis, NO2 atau gas ketawa yang digunakann pada pembedahan gigi juga menyebabkan terjadinya defisiensi B12.

 

…meskipun hanya membutuhkan sangat sedikit vitamin B12 per hari (sekitar 2 hingga 4 mikrogram), tetapi ternyata sangatlah mudah kita menderita kekurangan nutrisi ini.  Mereka yang sudah mengkonsumsi tambahan B12 tetapi tetap selalu mengalamai defisiensi adalah karena tubuhnya tidak mampu menyerap B12 dengan baik.

 

Sally M mengatakan juga bahwa proses penyerapan B12 adalah sangat kompleks, jauh lebih kompleks daripada penyerapan vitamin yang lain. Gangguan sedikit saja yang terjadi akan menghambat penyerapan B12.

 

Jika sumber B12 itu adalah daging maka diperlukan proses tambahan yang lebih kompleks, yaitu karena tubuh harus terlebih dahulu memisahkan B12 dari protein daging yang mengikatnya.  Ini adalah salah satu kemungkinan yang bisa menerangkan mengapa para pemakan daging yang katanya banyak vitamin B12 nya tetap harus berjuang untuk mendapatkan asupan tambahan B12.

 

Selain itu, masih ada faktor lain yang menunjang penyerapan B12. Lambung juga mengeluarkan intrinsic factor (IF) yaitu sebuah protein (dikenal sebagai glycoprotein) yang diperlukan usus halus agar dapat menyerap vitamin B12 secara efisien. Kalau tidak cukup memproduksi IF, tubuh tidak akan dapat menyerap semua B12 yang kita konsumsi dan menyebabkan terjadinya perncious anemia (suatu kondisi anemia atau kurang darah merah karena tubuh tidak bisa menyerap B12 dengan baik dari pencernaannya).

 

Banyak faktor yang bisa menyebabkan tubuh tidak bisa memproduksi IF, misalnya merokok, minum alkohol, berbagai obat, daging, biji yang sudah diproses, makanan beku, penggunaan produk detoks colon atau detoksifikasi dst.

 

Ringkas cerita, defisiensi B12 cenderung terjadi lebih banyak karena penyerapan yang tidak sempurna dan bukannya karena kekurangan asupan B12.

 

Walaupun demikian, kita toh membutuhkan vitamin B12 bukan? Dari mana kita mendapatkannya?  Adakah efek samping jika B12 terlalu banyak (berlebihan)? Apa yang harus kita lakukan bila ternyata kita mengalami defisiensi B12?

Ikuti diskusi yang segera akan datang …

 

dan semoga makin sehat dan bugar …

 

(bersambung)

 

1) Finally, so-called pseudo-B12 refers to B12-like substances which are found in certain organisms, including Spirulina (acyanobacterium) and some algae. These substances are active in tests of B12 activity by highly sensitive antibody-binding serum assay tests, which measure levels of B12 and B12-like compounds in blood. However, these substances do not have B12 biological activity for humans, a fact which may pose a danger to vegans and others on diets who may not ingest sufficient quantities of B12producing bacteria, but who nevertheless may show normal “B12” levels in the standard immunoassay which has become the normal medical method for testing for B12 deficiency http://www.beyondveg.com/billings-t/comp-anat/comp-anat-7c.shtml

2) Victor Herbert MD, JD, “Vitamin B-12: plant sources, requirements, and assay”, American Journal of Clinical Nutrition 48: 852-8, 1988.

3) Katherine Tucker Ph.D., American Journal of Clinical Nutrition, 2000. //enews.tufts.edu/stories/1263/2001/09/10/GettingEnoughB12

4) diabetic neruophaty merupakan kerusakan syaraf akibat diabetes, seperti mati rasa, tidak bisa berereksi, otot lemah, sulit menelan, tidak bisa orgasme, kencing tidak terkontrol  dst, http://en.wikipedia.org/wiki/Diabetic_neuropathy

5) Sally M. Pacholok, RN, BSN and Jeffrey J. Stuart, DO, “Could It Be B12> An Epidemic of Misdiagones”, Linden Publishing, 2005.

6) Antony AC, Hoffman R, Benz EJ, Shattil SS, et al., “Hematology: Basic Principles and Practice”, 5th edition chapter 39,  Philadelphia, 2008.


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: