SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Apakah Pelaku Makanan Segar Memerlukan Dokter, Obat atau Suplemen?

Apakah Pelaku Makanan Segar Memerlukan Dokter, Obat atau Suplemen?

Dari http://www.eoearth.org/article/Toxicology  , kita tahu bahwa yang disebut racun adalah sesuatu yang dapat membuat keadaan tubuh menjadi kurang baik, sesuatu bisa berupa unsur kimiawi, fisikawi atau biologis. Yang kimiawi misalnya : sianida, yang fisikawi : radiasi, dan yang biologis misalnya : racun ular. Bapak Toksikologi, Paracelsus, bahkan mengatakan bahawa : “Segala sesuatu adalah racun dan tidak ada yang tanpa racun”

 

Mungkin atas dasar itulah, para pelaku makanan segar selalu mengatakan bahwa obat dan suplemen juga merupakan bentuk racun yang lain. Mereka hanya minum obat bila keadaan sudah memaksa, karena apapun, sekalipun sudah mendapat ujian klinis melalui perbagai eksperimen, dipublikasikan dalam jurnal-jurnal terpercaya di dunia, tidak ada satupun yang tidak punya efek sampingan.

 

Tidak sedikit dokter, praktisi kesehatan dan pemerhati kesehatan, ilmuwan, entah yang belajar dari barat atau dari timur atau, tidak peduli dari mana asal mereka,  yang menjadi rawfoodist atau menjadi simpatisan pada pola makan makanan segar.  Mereka, para rawfoodist dan simpatisannya itu, tahu benar bahwa segala sesuatu itu adalah racun bahkan termasuk makanan segar itu sendiri juga merupakan racun. Mereka hanya berusaha meminimalisasi jumlah racun yang mereka konsumsi belaka.

 

Mereka juga beranggapan bahwa kalau hasil tes lab sudah menunjukkan sesuatu yang buruk, itu sudah terlambat, karena sementara mereka mengurangi racun yang mengakibatkan hasil tes itu buruk mereka juga harus mengkonsumsi sesuatu yang lain (obat kimiawi atau herbal atau apapun) yang tentu juga punya efek sampingan. Tetapi itu adalah sebuah pilihan agar kita tetap bisa bertahan hidup lebih baik pada masa mendatang.

 

Para pemakan segar  toh juga tetap makan, tetap mengkonsumsi racun dari makanan segar yang mereka konsumsi, walaupun tentu dengan penuh kesadaran bahwa apapun yang mereka makan dan konsumsi tentu mengandung racun, sedikit atau banyak.

 

Makanan segar atau”living food” merupakan pilihan mereka agar mereka sesedikit mungkin mengkonsumsi racun, mereka ingin menjaga jangan sampai hasil tes lab menunjukkan indikasi yang begitu buruk. Biasanya mereka sudah memperhatikan gejala-gejala ringan yang terjadi pada tubuhnya yang bisa menunjukkan indikasi bahwa ada sesuatu racun berlebih yang masuk ke dalam tubuh, baik dari hal kejiwaan maupun psikis, misalnya : gampang marah, mudah tersinggung, cepat capai, pusing atau pening, menstruasi tidak teratur, mudah kesemutan, sering pegal-pegal, ngilu persendian, rambut rontok atau cepat berminyak, kulit kering, napas pendek atau cepat terengah bila menaiki tangga, kencing tidak lancar atau tidak jernih, muka pucat, cepat lelah, dan seterusnya. Dari tanda-tanda itu mereka akan berusaha makin memperbaiki pola makan mereka.

 

Tetapi, kalau keadaan sudah makin memburuk, bahkan hingga hasil tes lab atau tes klinis menyatakan bahwa ada suatu gangguan, mereka tentu tidak hanya akan mengandalkan “living food”, mereka tentu juga tidak segan pergi ke dokter yang baik, yang tidak sekedar cepat-cepat memberikan obat, untuk mendapat penanganan yang baik. Kalau ada dokter yang mendukung pola makanan segar tentu mereka akan memilih pergi ke sana.

 

Sekalipun suplemen-suplemen herbal merupakan makanan nabati, tetapi para pemerhati pola makanan segar tentu juga tahu bahwa suplemen herbal bukanlah “makanan segar”. Mereka biasanya punya kesadaran penuh untuk menghindari suplemen dan obat, kecuali keadaan sudah memaksa. Mereka cenderung untuk mengajak semua orang untuk mengurangi asupan racun ke dalam tubuh mereka dengan memperbaiki pola makan, dan berusaha sebaik mungkin jangan sampai keadaan menjadi memaksa.

 

Banyak juga para pemerhati makanan segar yang sakit dan minum obat atau suplemen yaitu biasanya mereka yang tidak disiplin, yang secara sadar tetap mengkonsumsi makanan yang sarat dengan racun, yang baru beberapa lama melakukan pola makan “rawfood”, atau yang stres berkepanjangan dan sedang dalam proses berlatih melakukan pola makan makanan segar.

 

Mereka tahu bahwa “makanan mentah” atau “raw food” atau “living food” bukanlah obat, tetapi hanya sesuatu yang  mereka konsumsi yang kadar racunnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang lain.

 

Terima kasih dan semoga berguna untuk siapa saja.

 

 

 


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: