SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Archive for Peace World

BuddhaZine | Situs Berita Buddhis – Sutra tentang Pare


Cerita tentang Dukkha yang sepahit pare tapi memiliki banyak manfaatnya dalam kehidupan. Demikian juga dukkha itu sendiri,  tidak akan kekal selamanya seperti pare yg dimakan,  akan berubah menjadi manis dan bermanfaat bagi tubuh setelah berada di perut. Cerna tulisan berikut ini dari seorang sahabat lama  http://buddhazine.com/sutra-tentang-pare/

Sutra tentang Pare
Nyanabhadra | Rabu, 3 Februari 2016 19.03 PM Column

Sutra tentang Pare
Oleh: Bhante Nyanabhadra

Demikianlah yang belum pernah saya dengar…

Familiar kan dengan kalimat di atas? Iya benar, itulah kalimat pembuka dari Kitab Pali dan juga Kitab Mahayana, hanya mengalami perubahan kecil.

Belum pernah dengar Sutra Tentang Pare (苦瓜經, Pinyin: Kǔguā jīng) kan? Jangan coba-coba cari di Pali Pitaka atau 大藏經 (Pinyin: Dazang Jing), apalagi Tibet Pitaka (བཀའ་འགྱུར baca: Kangyur Wylie: bKa’ ‘Gyur). Walaupun tidak ada di dalam Tripitaka, namun apabila Anda jeli, maka bisa menemukan kisi-kisinya di sana-sini. Buddha juga merenungkan fenomena yang hadir di sekitarnya, tampaknya pahit menjadi satu bagian renungan itu.

Kita pasti tahu rasanya pare. Yes, pahit. Saya waktu kecil pernah coba pare, rasanya tidak keruan, dan langsung saya buang, kakak saya langsung ngomel, “Sudah dibilang pahit, tapi tidak percaya”. Mulai saat itu saya tidak pernah mau mencicipi pare lagi, alasannya simpel, pahit!

Karakter Mandarin dari pahit adalah Kǔ (苦), dan ternyata dalam konteks dukkha juga menggunakan istilah yang sama. Dukkha dalam bahasa sehari-hari adalah duka, istilah ini sudah cukup jelas maknanya, walaupun kadang disebut sebagai suatu ketidakpuasan. Orang Tiongkok menyebutkan bahwa pahit adalah duka.

Pernah minum obat herbal yang digodok dengan 5 gelas air menjadi 1 gelas? Nah itu juga pahitnya minta ampun. Anak-anak pada umumnya tidak suka, namun sang ibu selalu punya trik untuk membuat mereka minum. Pahit itu mungkin tidak sedap di mulut, namun ketika obat itu sudah masuk ke dalam sistem pencernaan, manfaatnya ternyata besar, bahkan menyembuhkan berbagai penyakit tanpa banyak menimbulkan efek samping. Sesuai peribahasanya 良藥苦口 (Pinyin: Liángyào kǔkǒu), obat menyembuhkan namun pahit rasanya.

Pare itu pahit, namun menyehatkan, tahukan kalau pare bisa menurunkan kadar gula dalam darah? Pare itu ternyata megandung vitamin C yang sangat banyak, antioksidan, dan beberapa varian vitamin B, terakhir pare bisa membantu mengurangi gangguan pencernaan dan sembelit. Nah banyak juga manfaat pare dari hasil penelitian.

Pengalaman menjadi anak indekos memang berkah yang tak pernah saya lupakan, saya mulai makan apa adanya, terutama waktu di Bandung, warteg (baca: warung Tegal) adalah tempat yang sering saya kunjungi. Awalnya saya tidak suka pare, namun pelan-pelan telah berubah menjadi makanan favorit, karena semua menu sudah pernah saya coba, muter sana sini sayur itu-itu saja, akhirnya coba makan pare, ternyata not too bad!

Sehebat apa pun sang koki memasak, pare tetap saja pahit, tampaknya tak ada cara untuk mengelak dari rasa pahit. Se-bahagia apa pun manusia hidup di dunia ini tetap tidak bisa menghindari pahitnya kehidupan, bukan tujuan kita menghindarinya tapi tugas kita merubahnya, mentransformasikannya menjadi sesuatu yg bermanfaat daripada dibuang begitu saja.

Pare, Kǔguā (苦瓜), Pahit, Kǔ (苦), merupakan suplemen bagi kesehatan dan kebahagiaan, demikian juga Bhante Thich Nhat Hanh pernah berkisah tentang pengalaman makan pare, pahit di mulut tapi manis di perut. Beliau juga sering menggunakan perumpamaan lain seperti lumpur dan teratai. Manusia hanya mau teratainya saja dan kalau bisa semua lumpur dibuang. Teratai tidak bisa tumbuh di atas batu, ketika Anda membuang semua lumpur (baca: pahit atau derita) maka teratai (baca: manis atau kebahagiaan) akan mati. Semua orang butuh dosis pahit secukupnya agar dia bisa mengerti kontrasnya, asal jangan overdosis saja!

Ingat, kawan! Ada perumpaan dokter yang memberikan diagnosa kepada pasien atas penyakitnya, setelah itu dokter akan memberikan resep yang harus ditebus di apotek. Ikutilah instruksi makan dan dosis yang ditentukan. Jika engkau tidak sabar ingin segera sembuh dengan cara meneguk semua obat itu, maka mudarat sudah di depan pintu.

Hidup di dunia ini, janganlah berharap untuk membuang semua derita, hidup di dunia ini janganlah hanya berharap meraup semua kebahagiaan saja. Dua kutub ini sama-sama mendatangkan ketidakpuasan, kekecewaan, bahkan frustrasi. Bukan demikian sikap yang diajarkan oleh Buddha. Ketika pahit datang maka kita makan dengan ketegaran agar pahit ini menjadi obat bagi mental dan badan jasmani, demikian juga manis yang menjadi kekuatan.

Ingatlah prinsip sesuai dosis. Kehidupan manusia sudah banyak sekali kesulitan-kesulitan, Anda tidak perlu dengan sengaja menciptakan pahit yang tidak diperlukan. Kesulitan akan datang sesuai dengan kondisi-kondisi, kemudian kesulitan ini akan bersama kita sejenak kemudian pergi. Setelah itu datanglah kebahagiaan yang juga memiliki prinsip serupa, dia datang, bersama kita sejenak dan dia akhirnya tetap harus pergi meninggalkan kita. Dua kutub ini akan terus datang dan pergi silih berganti, Anda tidak bisa berharap satu saja. Ketika Anda berharap satu kutub saja, maka kutub berlawan arah juga ikut bersamanya, seperti Anda berharap naik maka turun langsung mengikuti, karena mereka satu paket.

Ketika pahit datang, maka rasakanlah, jangan lupa bahwa “pahit” selalu ada sebabnya. Kabar gembiranya adalah pahit itu juga terimbas impermanen dan bisa ditransformasi, cara transformasinya lewat latihan, yaitu konsentrasi dan pengertian.

Mereka yang sudah terbiasa dengan rasa pahit, maka sudah tidak takut lagi, tiada rasa takut, tiada rasa penolakan, tiada rasa tidak nyaman, mereka terbebas dari penghakiman sepihak tentang rasa apa pun. Mereka bisa menerima dengan lapang dada.

Setelah Anda selesai membaca sutra ini, pikiran menjadi jernih, hati menjadi terbuka untuk menerima hal-hal yang pahit, Anda bahkan bisa senyum kepada pahit dan tiba-tiba berubah menjadi manis. Anda senyum kepada manis dan sudah siap untuk menerima kedatangan pahit.

Demikianlah Sutra tentang Pare telah selesai disampaikan.

WorldVeganWorldPeace

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal


http://print.kompas.com/baca/2015/09/06/Perjalanan-Spiritual-lewat-Musikal

image

Kutipan dari Harian Kompas 6 September 2015

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal Cetak | 6 September 2015 

Seandainya aku tahu di mana kau berada

Aku akan berlari mencarimu

Tapi sayang, aku terlahir buta

Tak bisa mendaki ke puncak tertinggi aku

Lebih parah lagi, sebagai orang bisu dan tuli

Aku tak bisa memanggil, atau mendengar suaramu… Tuhan….

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS)Salah satu adegan di gerbong kereta api.

Begitu kira-kira terjemahan lagu dari musikal Loving the Silent Tears. Libreto diangkat dari puisi karya Maha Guru Ching Hai, tokoh spiritual asal Vietnam yang pengikutnya tersebar di sejumlah negara. Pentas Loving the Silent Tears digelar perdana di Shrine Auditorium, Los Angeles, pada 27 Oktober 2012. Videonya kemudian beredar ke seluruh dunia. Pada Minggu (30/8) musikal itu diputar di Jakarta oleh komunitas vegan.

Di belakang musikal ini ada orang- orang hebat. Mereka adalah sutradara Vincent Paterson yang pernah menggarap konser dunia Michael Jackson dan Madonna. Ada Jorge Calandrelli, komposer, penata musik, peraih enam kali penghargaan Grammy yang pernah menggarap musik untuk Placido Domingo, Barbra Streisand, Andrea Bocelli, Tony Bennett, Celine Dion, dan Madonna. Orkestrasi dan konduktor Doug Katsaros. Koreografi dan tari ditangani Lula Washington Dance Theatre.

Musikal melibatkan penyanyi terkenal Jon Secada, Jody Watley, kelompok reggae Black Uhuru. Plus belasan penyanyi pendukung dari Perancis, Arabia, Italia, Vietnam, Irlandia, Korea, Tiongkok, dan lainnya.

Menarik bagaimana menikmati puisi karya tokoh spiritual itu diadaptasi menjadi libreto dan lagu. Seperti kita tahu, libreto merupakan bagian dari elemen penting musikal. Adaptasi digarap dengan pendekatan nge-pop, layaknya lirik lagu pop. Musik digarap melibatkan berbagai genre, seperti pop, rock, jazz, klasik, danreggae.

Koreografi digarap dengan kaidah- kaidah tontonan panggung musikal yang penuh gebyar, cerah. Ada beragam elemen tari, mulai dari gaya kabaret, tari rakyat Rusia, hingga tak kurang dari 16 kultur global. Hasilnya, Loving the Silent Tears ternikmati sebagai musikal segar, menghibur, lewat musik dan tari, tanpa kehilangan spiritualitasnya.

 Indah, mengalir

 Di tengah tontonan musikal yang meriah gemerlap itu, penonton diajak merenung tentang kesejatian hidup. Tentang upaya mencari kedamaian jiwa dan makna cinta. Tokoh-tokoh dalam musikal ini menyebut diri sebagai orang dengan poor soul, jiwa miskin. Mereka berada dalam perjalanan mencari kesejatian itu. While I am athirst in the desert of existence/ You’re drinking nectar somewhere in the heavenly abode…. Ketika aku haus di gurun kehidupan/Kau minum madu di rumah surgawi.

 

Loving the Silent Tears dibangun dengan struktur naratif yang diolah dari puisi. Narasi menyatu dengan komposisi (score) sebagai satu kesatuan ucap. Narasi tidak menjadi pengantar, seperti yang sering dijumpai pada musikal-musikal murahan. Atau dengan kata lain bisa dikatakan, komposisi terintegrasi dengan struktur naratif, dan bukan terpenggal-penggal sebagai medley.

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Penampilan Patti Cohenour

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Harmoni tiga penyanyi dari Israel, Arab, dan Iran.

 Semua elemen dalam musikal tersebut, termasuk koreografi, digunakan untuk bercerita tentang kebahagiaan lahir batin yang bisa diraih setiap orang. Kebahagiaan yang dibangun dengan cinta, hati damai, kebaikan, dan saling memaafkan.

Musikal disodorkan dengan cerita yang jernih, ringan mengalir. Tokoh utama ”cuma” tiga, yaitu kondektur, dan dua penumpang kereta api, tetapi mereka mewakili tipe-tipe manusia. Setting”cuma” sebuah gerbong kereta, dalam perjalanan semalam, tetapi, kereta menjelajah melintas ke segala penjuru dunia, dan bertemu dengan orang dari berbagai sudut bumi. Ada metafora universalitas persoalan manusia.

Dalam kereta itu ada Conductor yang diperankan aktor Junior Case dan Joy (Patti Cohenour), perempuan yang menulis buku harian tentang kematian putranya dan membawa duka sepanjang hidupnya. Lantas ada Pete (Luke Eberl), pemuda yang menganggap bahwa sukses hidup adalah uang. Sampai-sampai ia berpandangan, ”And who needs God when you have money—siapa yang butuh Tuhan kalau Anda punya uang.”

Ketiganya melakukan perjalanan kereta. Lagi-lagi ini metafor sebuah perjalanan spiritual mencari pencerahan. Seiring perjalanan, mereka saling belajar. Bahwa manusia memerlukan ”asuransi spiritual”, bukan asuransi properti. Termasuk ketika mereka bertiga terlempar dari kereta, dan terdampar di padang gurun. Kala kereta datang kembali mereka telah sampai pada salah satu stasiun pemahaman tentang hidup.

”Semua saling mencinta, semua peduli, dan semua saling memaafkan. Semua menyayangi ciptaan. Ada ruang yang luas di surga di atas sana….”

Seluruh persoalan hidup, permenungan, dan pencerahan itu terjelmakan dalam lagu dan terintegrasi dengan narasi secara mulus dan rapi. Tidak terasa ada sandungan yang memberi kesan bahwa lagu itu hanya ilustrasi.

Seluruh koreografi terancang menyatu dengan narasi. Begitu beragam gerak tarinya, mulai dari samba, tarian persia, skotlandia, hingga rusia. Musik dan tari cukup berimbang dengan narasi. Tidak terasa ada dialog yang panjang, atau musik dan tari yang terlalu panjang. Serba terukur dan seimbang.

Penonton Loving the Silent Tears diajak menikmati perjalanan spiritual lewat musik, nyanyi, dan tari. (XAR)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 September 2015, di halaman 32 dengan judul “Perjalanan Spiritual Lewat Musikal”.

 

Happy Vegan CNY


Happy Vegan CNY. May the Year of the Horse brings you a lot of fortune, excellent health, good luck, abundance of wealth and prosperity, and most important zillion tons of love and compassion toward all sentient beings.Chinese New Year of the Horse 0-2 0-3 0-4 0-5 0-6 0-7 0-8 0-9 0-10 0-10_1

I want happiness


Be Vegan Make Peace

Forgive NOT because they deserve forgiveness BUT because YOU deserve PEACE


Be Vegan Make Peace

A complete teleconference of SMCH and staff SMTV can be watched on http://www.suprememastertv.com


Be Vegan Make Peace

Slaughterhouse workers are more likely to be violent, study shows


Slaughterhouse workers are more likely to be violent, study shows

  • by: Tory Shepherd
  • From: news.com.au
  • January 23, 2013 1:10PM
  • Meatworkers are as prone to violence as prisoners
  • Women have higher levels of aggression than men
  • But farmers are more laidback than the general population
Indonesia animal cruelty

Reseachers say more work needs to be done to find why abattoir workers are cruel to animals. AFP PHOTO / Juni KRISWANTO Source: AFP

MEATWORKERS are more prone to violence – and women are the worst, according to a new study.

People who work in abattoirs are more likely to be desensitised to suffering, which in turn could make them more likely to be violent towards humans, the research published in the Society and Animals journal found.

Overseas research has found that towns with abattoirs have higher rates of domestic violence and violent crimes including murder and rape, which prompted the Australian team to investigate the situation here.

Flinders University senior sociology lecturer Dr Nik Taylor said it had been established that the more positive a person’s attitude to animals, the lower their aggression levels, and that the reverse is also true – if you’re cruel to animals, you’re more likely to be violent to humans.

She found that meatworkers’ aggression levels were “so high they’re similar to the scores… for incarcerated populations”.

“They’re a pretty angry bunch and that anger shows,” she said, adding that one of their “jawdropping” findings was that women in the meatworking industry were even more aggressive than the men.

“We’ve got some very, very angry women. Maybe they need to prove themselves by being more macho,” she said.

The study included meatworkers and farmers, and they found that while farmers had “utilitarian” attitudes towards animals they were less aggressive than the general community – and meat and dairy farmers had better attitudes towards animals than wheat farmers.

The authors used a “propensity for aggression” scale.

“This study essentially showed that farmers are a pretty nice lot,” Dr Taylor said.

“They take care of their animals, they’re laidback and not at all aggressive.

“For the meatworkers, on the other hand, it wasn’t so positive.”

Dr Taylor said while their sample size was small – comprising 41 farmers and 26 meatworkers – it builds on existing research that has established a link between working in a slaughterhouse and being more aggressive and violence prone.

A 2010 study by Canadian criminologist Amy Fitzgerald found violent crimes including sexual assault and rape increase in towns once an abattoir moves in.

The University of Windsor professor compared statistics from 581 US counties to prove the link, and says labourers become desensitised to violence. She ruled out factors such as the influx of young men and immigrants, whom communities sometimes blamed.

Prof Fitzgerald said it wasn’t the nature of repetitive and dangerous work, but the act of slaughtering an animal that was to blame for the increase in violence.

“The unique thing about (abattoirs) is that (workers are) not dealing with inanimate objects, but instead dealing with live animals coming in and then killing them, and processing what’s left of them,” she said.

Dr Taylor said the Australian findings showed more work needed to be done to assess the effect of working in abattoirs on both employees and the community.

News.com.au has contacted the Australasian Meat Industry Employees Union.

12 comments on this story

Share:

 3

Follow:

Find news.com.au on Facebook
@newscomauHQ on Twitter
%d bloggers like this: