SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Vitamin B12, 3c0) (dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

Vitamin B12, 3c0)

(dalam serial “Bagaimana Cara Terbaik Mengatasi Kebutuhan Nutrisi”)

 

disadur dari “The Vitamin B12 Issue” oleh Dr Gina Shaw, D.Sc, M.A., Dip NH, AIYS (Dip. Irid.).

Dr. Gina adalah konsultan Kesehatan dan Nutrisi serta seorang Doktor dalam Complementary Medicine, ahli indiologi dan penasihat perencanaan puasa dan detoks. Ia banyak membantu orang sembuh dari penyakit plethora yang akut dan berbagai penyakit kronis serta muncul pada majalah The Times atas keberhasilannya menyembuhkan seorang penderita Ulcerative Colitis. Beliau juga sering memberikan ceramah dan kuliah di negaranya. Dia juga pengarang beberapa buku kesehatan  dan menawarkan jasa pengarahan serta retreat puasa dan detoksifikasi di UK dan di Eropa.

http://www.living-foods.com/articles/b12issue.html

lanjutan dari bagian 1 dan 2  “Vitamin B12 oleh Dr Gina Shaw” : http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/637bdc0be5a026f2#

bagian 3:

 

Secara umum, Dr. Douglas Graham membicarakan tentang ‘suplemen’ pada bukunya yang berjudul “Nutrition and Athletic Performance”. Dia mengatakan bahwa pemberian suplemen merupakan metoda yang tidak komplit dan tidak dapat memberikan pasokan nutrisi secara memadai karena para ilmuwan tidak dapat menyamakan dengan perbaikan secara alami. Dia juga mengatakan bahwa karena sekitar 90% dari semua nutrisi masih belum ditemukan, mengapa kita ingin mulai menambahkan nutrisi ke dalam makanan kita ketimbang kita makan makanan yang masih utuh? Sebagian besar nutrisi berinteraksi secara simbiosa dengan sedikitnya 8 nutrisi yang lain dan oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tubuh diperlukan sebuah paket yang kompleks. Bahkan, lebih dari itu, Dr. Douglas Graham menegaskan : “tidak akan pernah bisa mempertahankan kesehatan hewan atau manusia atau juga semua kehidupan dengan menggantungkan semata kepada suplemen”. Jadi, Gina menyimpulkan bawha menggantungkan diri kepada suplemen tanpa mencari akar permasalahannya adalah tidak ideal.

 

Sorang yang bernama Dan-Reeter, pada laboratorium Bio-System di Colorado, menciptakan fasilitas komputer yang paling canggih di dunia untuk percobaan biologi tanah. Dan-Reeter mengatakan bahwa, dari percobaan yang dilakukannya secara ekstensif dan terus menerus, tumbuhan yang dibudidayakan secara benar-benar organik akan menunjukkan kadar tinggi atas vitamin B12 yang bermanfaat bagi tubuh. Dia juga mengatakan bahwa vitamin B12 juga terdapat pada buah-buah liar dan tanaman yang bisa dimakan yang tumbuh liar di halaman rumah.

 

Kadar vitamin B12 pada produk hewani dan produk yang terbuat dari susu sangat rendah karena mereka biasanya dimasak sehingga vitamin yang terdapat pada produk itu menjadi rusak total. Banyak penelitian yang juga menunjukkan bahwa para pemakan daging justru memerlukan vitamin B12 lebih banyak ketimbang mereka yang tidak mengkonsumsi produk hewani. Hal ini terjadi karena pola makan produk hewani mendorong terjadinya gangguan pencernaan. Karena B12 adalah ikatan peptida di dalam produk hewani maka agar B12 itu bisa terserap harus terlebih dahulu dilepaskan dari ikatan peptidanya dengan bantuan enzim. Kalau asam lambung dan sekresi asam lambung itu melemah (karena mengkonsumsi makanan yang dimasak) maka akan menyebabkan ketidakmampuan pencernaan memisahkan B12 dari makanan yang masuk. Sementara itu, para penganut pola makanan segar (mentah dan vegan) dapat memperoleh B12 dengan melakukan penyerapan kembali dari empedu dan juga dari makanan yang masuk.

 

Wolfe berpendapat bahwa mikroba-mikroba tanah alami dan bakteri yang ditemukan pada tanaman liar yang dapat dimakan dan tumbuhan halaman yang tidak dicuci merupakan pasokan yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh atas vitamin B12. Mikroba-mikroba alami dalam tanah itu akan digandakan dan akan memenuhi seluruh pencernaan kita tanpa melalui proses fermentasi atau pembusukan.

 

Bagaimana dengan yang direkomendasikan oleh badan nutrisi Amerika Serikat tentang kebutuhan orang atas vitamin B12 tiap hari? Angka yang dicantumkan pada Recommended Daily Allowances (RDA’s) of Vitamin B12 dibuat berdasarkan rata-rata kebutuhan para pengkonsumsi makanan yang dimasak dan diproses (termasuk daging dan makanan nabati), perokok dan peminum. Kepentingan komersial memang telah membesar-besarkan kebutuhan kita atas berbagai nutrisi. Pelaku vegetarian atau pelaku pola makanan segar tidak memerlukan tambahan apa-apa. Sesungguhnya, sangat-sangatlah sulit menentukan secara tepat kebutuhan seseorang atas vitamin atau nutrisi. Dan terlalu banyak asupan vitamin dan nutrisi justu menciptakan beban yang tak perlu pada tubuh.

 

Faktor-faktor seperti laju metabolisme, stres dst dapat mengubah jumlah dan jenis kebutuhan tubuh. Dr. Victor Herbert dalam American Journal of Clinical (1998, volume 48) melaporkan bahwa tubuh hanya memerlukan sekitar 0.00000035 ons (1 microgram = 1 µg) asupan vitamin B12 per hari. Angka kebutuhan minimum vitamin ini tidak bisa menjelaskan kebutuhan para pelaku pola makanan segar, karena mereka membutuhkan asupan vitamin B12 yang lebih kecil. Pencernaan mereka berfungsi menyerap B12 yang ada dengan lebih baik dan juga memiliki kemampuan tinggi untuk mendaur ulang vitamin B12. (Memasak akan membinasakan mikroba-mikroba itu dan para pelaku vegan yang makan masakan yang sangat steril dan dimasak tak akan dapat memberikan kualitas flora yang bagus dan memadai kepada usus mereka). Laju penyerapan B12 pada individu yang sehat terlihat jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak sehat. Penelitian pada orang-orang vegetarian India yang tinggal di pedesaan menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka yang menunjukkan gejala defisiensi B12, meskipun kadar B12 mereka hanya berkisar dari 0,3 hingga 0,5 µg.

 

Dr. Gina Shaw sangat yakin bahwa defisiensi vitamin B12 biasanya terjadinya karena penyerapan dalam saluran usus tidak berjalan dengan baik dan bukan karena kurangnya vitamin B12 dalam makanan. Annie dan Dr. David Jubb berpendapat bahwa makanan yang didapat dari lingkungan yang steril yang penuh dengan antiseptik dalam jangka lama, tidak akan memberikan organisme simbiotik yang diperlukan tubuh. Mereka mengatakan bahwa dengan sedikit makan tanah maka tubuh dapat mempertahan antibodi-antibodi yang siap untuk mengubah patogen tertentu, sesuai dengan kebutuhan alam – dengan makan sediki debu!

 

Orang-orang yang sehat dan sebagian besar makanannya adalah makanan mentah segar tanpa produk hewani serta juga tidak makan berlebihan, tidak kecapaian, mereka tidak akan mungkin menderita gejala-gejala defisiensi B12. Gejala defisiensi B12 pada umumnya terjadi karena flora usus yang buruk, penyerapan yang buruk, gangguan pencernaan dst serta juga karena kurangnya paparan sinar matahari. Sesungguhnya banyak faktor untuk mendapatkan tingkat B12 yang memadai, misalnya, seperti sudah disebutkan, adalah kecukupan kalsium, vitamin B12, zinc, cobalt, protein dst.

 

Gina Shaw juga memberitahukan bahwa hanya karena makanan nabati organik dan buah liar hanya sedikit mengandung vitamin B12, tidak berarti bahwa dengan hanya mengkonsumsinya menyebabkan terjadinya gejala defisiensi. Hal ini terjadi mungkin karena para pelaku pola makan segar sesungguhnya hanya memerlukannya dalam jumlah yang sangat-sangat sedikit.

 

Para produsen obat akan segera mengatakan bahwa tanah tidak bisa memberikan kecukupan vitamin, tetapi sesuai dengan Diamond dan yang lain, jika sebuah biji tidak mendapat unsur-unsur yang mereka perlukan maka MEREKA TIDAK AKAN TUMBUH (atau tumbuh dengan tidak sehat). Selain itu, tanaman juga mendapat nutrisi dalam jumlah yang lebih banyak dari : matahari, air dan udara. Hanya 1% nutrisi yang didapatkan oleh tanaman diambil dari tanah.

 

Jika kita mengalami gejala defisiensi B12, pengaturan pola makan tertentu perlu dilakukan dan juga ‘puasa’. Dalam hal apapun, sekalipun beralih menuju pola makan yang lebih sehat, baik itu menjadi vegetarian, vegan atau pola makan segar (rawfood, untuk kesehatan optimal), berusahalah kembali ke alam sebanyak dan sebisa mungkin.

Tetapi Dr. Gina Shaw juga menambahkan bahwa dia tidak mengajurkan siapa saja untuk melakukan puasa lebih dari 1,5 hari tanpa pengawasan mereka yang ahli. Lebih dari 1,5 hari harus dilakukan dalam pengawasann mereka yang benar-benar berpengalaman dan ahli dalam bidang ini.

 

Kesimpulan: Sebagian besar gejala defisiensi vitamin B12 yang muncul, sesungguhnya bukan terjadi karena kekurangan asupan vitamin B12 tetapi lebih pada gangguan pencernaan sehingga tubuh tidak memproduksi vitamin B12, tidak mampu menyerap dengan baik atau kondisi flora di dalam usus mereka tidak baik. Pola makan yang tidak benar seperti mengkonsumsi produk hewani, mengkonsumi barang olahan (dimasak) dst merupakan contoh penyebab terjadinya gangguan pencernaan.

 

(selesai)

————————————————————————————————————–

0) bagian 1 terdapat di:http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/81f6adb42b5db02a#

bagian 2 terdapat di : http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_frm/thread/88e26d712d05b0bb#

bagian 3 terdapat di: http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/299c6a675d72f2d9#

bagian 3a terdapat di: http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/637bdc0be5a026f2#

1) Sindrom kelelahan kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS) atau myalgic encephalomyelitis (ME) menyerang jutaan penduduk dunia.  Penyakit ini membuat seseorang mengalami kelelahan fisik yang teramat sangat. Walaupun di Indonesia penyakit ini belum banyak ditemui tetapi di Amerika Serikat terdapat sekitar 1 hingga 4 juta penderita penyakit tersebut dan di Inggris diperkirakan terdapat sekitar 250 ribu. Menurut Kamus Perawatan, edisi ke 17 halaman 289, terjemahan dari Churchill Libingstone’s Dictionary of Nursing, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997: “penyakit myalgic encephalomyelitis (ME) membuat keadaan umum penderita jelek dan sulit didiagnosis serta dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Gejalanya sangat banyak dan mencakup keluhan tidak enak bdan serta mudah lelah, ketidakmampuan berkonsentrasi, problem digestif, gangguan daya ingat serta depresi”.

2) Dr. Virginia Vetrano, D.Sc. , mendapatkan Doctor of Science degree di Natural Hygiene from the City University of L.A, merupakan konsultan Natural Hygiene sejak tahun 1964. http://www.roylretreat.com/vetrano.html

 

 


Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: