SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Cerita-Cerita Pencerahan

Cerita-cerita pencerahan berikut ini adalah kutipan dari buku “Tiga Guru, Satu Ajaran”  oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

Buddha di Rumah

Fu-hauzi adalah seorang pemuda yang berwatak tidak sopan terhadap ibunya yang sudah tua dan tinggal sendirian bersamanya. Fu-hauzi selain malas juga pemarah sekali, sehingga ibunya yang masih bekerja sendirian tersebut sering menjadi obyek amarahnya. Tetapi ibunya tetap sabar dan mengasihi anak tunggalnya tersebut.

Sampai suatu hari, pemuda ini mendapatkan khabar bahwa di seberang lautan dekat puncak gunung, terdapat seorang Buddha yang sangat sakti dimana setiap permintaan dapat dipenuhinya. Fu-hau-zi yang memang sifatnya malas, berminat untuk bertemu Buddha tersebut agar dapat langsung memperoleh kesaktian sehingga tidak perlu susah bekerja. Maka berangkatlah Fu-hauzi seorang diri yang tentunya tanpa pamit kepada ibunya.

Sampai di gunung seberang, dia bertemu dengan seorang bhikshu tua sederhana yang telah berjenggot, maka diapun bertanya , “Kakek tua, saya ingin bertemu dengan Buddha”. Kakek tua tersebut yang mengetahui pemuda ini, menyahut, “Anak muda, sekarang Buddha itu sedang menunggu di rumahmu. Ciri-cirinya adalah berpakaian terbalik dan sandal yang terbalik yang akan menyambutmu di depan pintu rumahmu. Pergilah menemuinya karena dia telah lama menunggumu.”

Merasa girang bahwa rupanya Buddha telah datang ke rumahnya dan menungguinya, maka Fu-hauzi segera pulang ke rumah sambil berpikir dalam hati, “Sungguh sakti Buddha tersebut, dan sungguh beruntung saya karena telah ditunggui oleh Buddha di rumah”. Sesampai di depan pintu rumahnya, segera Fu-hauzi menggedor pintu dan memanggil nyaring ibunya untuk membukakan pintu. Ibunya yang sedang tidur siang, terkejut dan karena khawatir membuat anaknya marah serta senang juga mendengar anaknya telah kembali setelah pergi sekian lama tanpa permisi ,maka dengan tergopoh-gopoh ibu tua ini memakai baju terbalik dan sandal terbalik. Segera dibukakannya pintu rumah, pemuda ini melihat persis ciri seorang Buddha yang digambarkan oleh bhikshu tua di gunung seberang, yang malah menangis memeluknya. Segera Hauzi berlutut di depan ibunya dan sadar akan tabiat buruknya selama ini. Sejak itu Hauzi menjadi anak yang berbakti dan bekerja dengan rajin.

Ibunda Yang Risau

Terdapat seorang nenek tua yang mempunyai dua anak perempuan yang menopang kehidupan keluarganya dengan masing-masing berjualan payung dan dupa. Anak perempuan pertama selalu mengharapkan hujan agar payungnya lebih laku. Sedangkan anak perempuan kedua mengharapkan matahari bersinar terang supaya dupanya dapat terjemur dengan kering.

Setiap kali hujan turun, ibunya yang sangat menyayangi kedua putrinya tersebut selalu merisaukan putrinya yang berjualan dupa, dan mengharapkan hujan segera berhenti. Sebaliknya kalau matahari bersinar cerah, ibunya juga merisaukan putrinya yang berjualan payung, dan mengharapkan agar segera hujan turun. Demikianlah kerisauan ibunda ini berjalan terus setiap hari, tanpa disadarinya dia telah terlarut dalam kesedihan dan penderitaan yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.

Sampai suatu hari, datanglah seorang mahabhikshu yang melewatinya dan melihatnya sedang berkeluh-kesah. Mahabhikshu tersebut mulai menanyakannya, “Kenapa Anda bersedih sekali, apakah telah terjadi sesuatu yang menimpa keluarga Anda?” Ibu yang sangat menghormati kehidupan bhikshu ini terkejut dengan teguran tersebut dan segera memberikan hormat kepada mahabhikshu, dan menceritakan kejadian yang membuatnya hatinya risau dan sedih. Mahabhikshu yang setelah mengerti duduk perkara yang membuat ibu ini risau, maka menasehatinya, “Ibunda yang baik, mulai sekarang coba Anda memikirkan kebahagiaan putri Anda yang berjualan payung pada saat hujan, sedangkan pada saat matahari bersinar cerah pikirkanlah kebahagiaan putri Anda yang berjualan dupa. Dengan demikian Anda tidak perlu terlarut lagi dalam kesedihan.”

Ibunda tersebut menuruti nasehat mahabhikshu, dan mulai memikirkan kebahagiaan putrinya yang berjualan payung pada saat turun hujan, sedangkan pada saat matahari bersinar cerah dia memikirkan kebahagiaan putrinya yang sedang menjemur dupa. Demikianlah akhirnya ibu ini tidak lagi menderita karena kerisauan pikirannya, tetapi dapat menjalani kehidupannya dengan berbahagia karena sudut pandang positifnya sendiri.

Harta atau Tenggelam

Ada suatu cerita menarik yang dapat menggambarkan situasi ini. Dimana dalam suatu perahu yang sedang akan tenggelam, orang-orang semua berusaha menyelamatkan diri tanpa peduli akan harta bendanya lagi. Namun dalam perahu tersebut terdapat seseorang yang masih sibuk mengikatkan segala harta bendanya ke seluruh badannya tanpa memperdulikan perahu yang akan tenggelam tersebut. Teman-temannya yang sudah sampai ke tepian, berteriak agar dia membuang segala hartanya dan menyelamatkan dirinya. Namun hal itu ditolak mentah-mentah dan dia tetap mementingkan harta emasnya yang berat, sehingga akhirnya menenggelamkan dirinya bersamaan dengan tenggelamnya harta emas yang diikatkan ke seluruh badannya.

Kura-kura dan Ikan

Ada suatu cerita kuno mengenai kura-kura dan ikan. Kura-kura dapat tinggal di darat dan juga di laut, sedangkan ikan hanya tinggal di laut. Pada suatu hari, ketika kura-kura kembali dari perjalanannya di darat, dia menceritakan kepada ikan tentang pengalamannya. Dia menjelaskan, bahwa segala makhluk hidup berjalan dan tidak ada yang berenang. Ikan tersebut menolak untuk percaya bahwa ada jalan yang kering di daratan, karena ikan tidak pernah mengalami hal tersebut.

Meniru Sang Guru

Ada suatu cerita tentang seorang bhikshu muda yang berguru kepada seorang Mahabhikshu Zen yang terkenal telah memperoleh Pencerahan, sehingga dinamakan Yang Tercerahkan. Namun sesudah mengikuti sekian tahun segala tingkah laku gurunya tersebut, mulai dari bangun siang, makan berisik, jalan seenaknya, sampai hal-hal lainnya termasuk cara berteriak dan bicara, tetap saja bhikshu muda ini merasa belum mencapai pencerahan. Akhirnya timbul keraguan dalam dirinya bahwa kemungkinan besar gurunya ini belum mencapai pencerahan sebagaimana julukan yang diberikan kepadanya.

Pagi-pagi berikutnya, si bhikshu muda menemui gurunya dan telah memutuskan untuk pergi dengan berkata, “Guru, saya telah mengikuti guru sekian lama dan telah meniru segala perbuatan guru seperti bangun siang, makan berisik, jalan dan teriak seenaknya sampai kadang-kadang tiga hari tidak mandi juga sebagaimana kebiasan guru, namun saya tetap merasakan belum memperoleh pencerahan. Dan saya sendiri ragu kalau guru telah mencapai pencerahan. Untuk itu saya memutuskan meninggalkan guru!”

Mendengar itu sang Mahabhikshu ketawa, “Ha….ha….ha…., muridku yang malang. Siapa suruh engkau mencari pencerahan di luar dari dirimu sendiri. Masih untung saya tidak bertingkah laku seperti seorang suci yang telah mencapai pencerahan, karena kemungkinan Anda akan nantinya membenci semua orang suci yang engkau temui.” Begitulah akhirnya bhikshu muda itupun menyadari akan suatu Kebenaran Sejati dan langsung tercerahkan, kemudian dia membatalkan keputusan untuk meninggalkan gurunya.

Cendekiawan Meminum Teh

Pada jaman dulu di Tiongkok terdapat seorang cendekiawan yang sangat menguasai segala filsafat kehidupan serta memiliki kedudukan yang tinggi di pemerintahan. Tetapi karena adanya suatu kesalahan dalam keputusannya yang disebabkan oleh sifat kesombongannya, maka raja mengutuskannya untuk bertemu dengan seorang Mahabhikshu Zen.

Setelah bertemu dengan Mahabhikshu tersebut yang duduk tanpa memperdulikannya, demikian juga cendekiawan tersebut yang karena kesombongannya tidak mau memberikan hormat kepada Mahabhikshu tersebut. Maka mereka berdua saling duduk tanpa terucap sepatah katapun, malah saling membuang muka persis seperti orang pacaran yang baru bertengkar hebat.

Setelah sekian lama, Mahabhikshu mulai menuangkan teh ke cawan cendekiawan tersebut. Teh terus dituangkan sampai seluruh cawan itu telah penuh dan air teh meluber keluar. Melihat ini cendekiawan tersebut berteriak, “Kenapa Anda masih menuangkan teh ini terus padahal telah penuh?” Sang Mahabhikshu memberikan suatu jawaban yang ringkas, “Sama seperti pikiran Anda yang telah penuh, sangatlah sulit untuk dapat diisi lagi!” Cendekiawan yang memang pintar ini langsung mengerti dan bersujud memanggil guru kepada Mahabhikshu tersebut.


Kitab Panduan

Pada suatu masa kehidupan dahulu terdapat seorang guru yang kemana-mana selalu memberitakan kebenaran hidup. Semua hal yang telah diberitakan diminta untuk dicatat oleh murid-muridnya. Sehingga kemana-mana kitab kebenaran yang telah dicatat ini selalu menjadi bahan rujukan dalam melakukan segala perbuatan.

Sampai suatu saat, guru dan rombongan muridnya berjalan melintasi jembatan yang di bawahnya melintas arus sungai yang deras. Karena tidak hati-hati, guru tersebut terpeleset dan jatuh ke bawah. Guru tersebut berteriak dengan nyaring meminta pertolongan muridnya, beberapa murid yunior berusaha turun untuk menolong gurunya, namun terdapat beberapa murid senior yang ingat akan wejangan gurunya agar segala perbuatan haruslah merujuk kepada `kitab suci kebenaran’ yang telah tercatat, sehingga seorang murid senior sambil membolak-balik `kitab suci’ tersebut berteriak kepada gurunya yang sudah hampir tenggelam terbawa arus sungai, “Guru…guru…..sabar.., harap jangan tenggelam dulu, biar saya mencarikan bab pertolongan terhadap guru yang sedang tenggelam di sungai yang deras!”

Katak Dalam Sumur

Ada seekor katak yang seumur hidup tinggal di suatu sumur. Katak tersebut sangat menyenangi kehidupannya di lingkungan sumur tersebut. Kalau siang hari yang panas dia berendam di kedalaman sumur, dan di malam hari dia loncat ke luar sumur, bermain di sekeliling pinggiran sumur. Sampai suatu hari datanglah seekor kura-kura dari lautan. Katak tersebut dengan bangganya menceritakan bagaimana senangnya dia menjalani kehidupannya di dalam sumur, dan menawarkan kura-kura tersebut untuk tinggal di sumurnya.

Kura-kura yang melihat kecilnya sumur tersebut tentu saja menolak, dan mengatakan bahwa dia senang tinggal di luar sumur, karena dapat menyelami berbagai lautan dengan berbagai corak kehidupannya. Sang kura-kura menceritakan berbagai hal-hal menarik di luar sumur yang belum pernah dialami oleh sang katak. Namun semua cerita kura-kura tersebut dianggap sebagai dongeng yang tidak masuk akal saja. Sehingga sang katak tidak peduli akan kehidupan di luar sumur, dan tetap memilih tinggal di sumur kecil kebanggaannya.

Mahabhikshu Menggendong Wanita Cantik

Dalam perjalanan menuju kembali ke vihara, seorang Mahabhikshu Zen bersama muridnya seorang bhikshu muda tiba di tepian sungai yang deras. Pada saat itu seorang wanita muda cantik dengan pakaian jaman dulu (panjang sampai ke tumit) berdiri kebingungan di tepian sungai. Melihat Mahabhikshu dan bhikshu muda yang bermaksud menyeberang tersebut, maka wanita muda ini meminta tolong untuk diseberangkan. Dengan spontan Mahabhikshu menawarkan kesediaannya untuk membantu, dan secara sigap mengendong wanita muda tersebut ke seberang. Bhikshu muda yang ikut menyeberang hanya bisa terpelongo menyaksikan pemandangan tersebut yang menurut pikiran dia sangatlah tidak pantas dilakukan oleh gurunya.

Namun sebagai seorang murid yang setia, maka bhikshu muda ini mengurungkan niatnya untuk menegur gurunya. Setelah tiga malam tidak bisa tidur karena selalu memikirkan tingkah laku gurunya tersebut, dimana sampai timbul kebencian yang sangat besar terhadap gurunya. Maka akhirnya bhikshu muda ini memutuskan untuk bertanya kepada gurunya, dimana apabila tidak diperoleh jawaban yang memuaskan maka dia akan berhenti menjadi muridnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan mata yang masih kuyuh, bhikshu muda tersebut menemui gurunya yang sedang duduk minum teh. Mahabhikshu agak kaget juga melihat kemunculan muridnya yang tidak biasanya tersebut. Sesampainya bhikshu muda ini, langsung dia menanyakan, “Guru, ini ada pikiran yang menganggu saya dan sampai saat ini masih belum dapat saya peroleh jawabannya. Untuk itu harap guru mau memberikan penjelasan. Kenapa guru tiga hari yang lalu menggendong wanita muda cantik menyeberang sungai tanpa merasa risih, padahal itukan tidak sopan sama sekali?”

Mahabhikshu tersebut sempat bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud karena kejadian tersebut sudah tidak diingatnya lagi. Setelah dijelaskan lebih detail, dan sesudah Mahabhikshu mengerti duduk persoalannya, maka diapun tertawa sambil berkata, “Ha…ha…ha…, muridku yang malang, guru hanyalah mengendongnya untuk membantu dia menyeberangi sungai yang deras tersebut , tetapi Anda sungguh malang sekali, malah mengendongnya dari tiga hari yang lalu sampai sekarang!”

Pemuda Yang Kehilangan Domba

Yongmae, seorang pemuda yang menggembala domba. Pemuda ini memang terkenal iseng dan suka membuat onar dengan menceritakan hal-hal yang adakalanya tidak masuk di akal sama sekali. Pada hari pertama menggembala domba, terbetik dalam pikirannya untuk membuat onar penduduk kampungnya, maka menjelang tengah hari dengan tergopoh-gopoh dia berlari turun gunung memasuki kampungnya dengan berseru, “Tolong….tolong……., ada gerombolan serigala yang memangsa domba-dombaku.” Mendengar teriakan yang histeris tersebut, maka cukup banyak penduduk yang keluar dengan membawa berbagai perkakas dan berlari ke gunung bermaksud membantu Yongmae mengusir gerombolan serigala tersebut. Sesampainya di gunung, terlihat domba-domba dengan tenang masih merumput, dan menyaksikan ekspresi tersebut, Yongmae melepaskan ketawanya dengan berguling-guling di rumput saking senangnya berhasil membohongi hampir seluruh penduduk kampungnya.

Beberapa minggu kemudian, Yongmae mengulangi kembali aksinya yang dimana juga berhasil mengelabui penduduk kampungnya. Sampai suatu hari pada saat sedang menggembala, terlihatlah dengan mata kepala dia sendiri, serombongan serigala rakus muncul dari semak-semak. Dengan pucat pasi, Yongmae berlari seperti dikejar setan ke kampungnya. Sampai suaranya habis berteriak untuk meminta bantuan, tetapi penduduk kampung yang merasa sudah kapok diberlakukan oleh Yongme, tidak mempercayainya dan hanya menebis dengan mengatakan, “Yongmae…Yongmae …mau aksi apalagi sih…, kami tak mungkin dapat Anda kelabui tiga kali. Sudah sana kembali.” Akhirnya Yongmae sambil menangis kembali ke gerombolan dombanya dimana hampir sebagian besar telah menjadi santapan gerombolan serigala kelaparan tersebut.

Murid Yang Menolong Semut

Guru Hui-gan yang memiliki waskita mata surgawi [divyacakshu/dibbacakkhu] merasa sedih sekali pada suatu hari karena mengetahui bahwa muridnya, Li-chang yang baru berusia 19 tahun harus meninggal satu bulan lagi karena karma buruk masa lalu yang dibuatnya. Beliau tidak menceritakan hasil penglihatannya tersebut agar tidak membuat Li-chang bersedih, melainkan menasehatkan muridnya untuk pulang ke rumah orangtuanya, berkumpul selama 40 hari dengan alasan sudah lama sekali tidak menjenguk orangtuanya. Dengan demikian diharapkan, Li-chang dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama orangtuanya.

Li-chang mematuhi dan melakukan perjalanan menembus hutan yang memakan waktu cukup lama juga. Di tengah perjalanan, Li-chang menemukan satu koloni (berjumlah jutaan) semut terperangkap dalam genangan air dan berada di tengah-tengah batu yang dikelilingi oleh air banjir. Li-chang dengan sigap dan spontan mencari dahan kayu yang banyak dan dibuatkan sebagai jembatan, sehingga seluruh semut berikut telur-telur semut yang belum menetas dapat diseberangkan ke tempat yang kering oleh para semut pekerja. Sesudahnya, dia melanjutkan perjalanan lagi pulang ke rumah orangtuanya.

Setelah melewati masa 40 hari sebagaimana ijin yang diperolehnya dari gurunya, Li-chang kemudian muncul di hadapan gurunya yang terkejut melihat kedatangannya tanpa kekurangan apapun. Guru Hui-gan mencoba melihat kembali dengan mata surgawinya dan mendapatkan bahwa muridnya akan hidup sampai umur 91 tahun. Guru Hui-gan menanyakan apa yang telah dilakukannya selama perjalanan dan juga menjelaskan hasil waskitanya. Li-chang hanya bisa menjawab tidak melakukan apa-apa. Guru Hui-gan mencoba melihat perjalanan muridnya ini, dan kemudian menjadi maklum bahwa muridnya telah menolong jutaan makhluk hidup dengan tulus dan penuh kasih sehingga menggetarkan para Bodhisattva yang diliputi Kasih Sayang , dimana secara tidak langsung telah memperpanjang usianya. Guru Hui-gan berucap terima kasih kepada Bodhisattva.

Kasep Penjaga Kereta

Kasep, seorang penjaga rel kereta api sudah lama melakukan tugasnya dan sangat disukai orang karena sikapnya yang ramah dan sopan. Namun ada satu sifat jelek Kasep yang sulit dihilangkannya, yaitu sering meminum arak untuk menghangatkan tubuhnya pada malam yang dingin. Apabila ada orang yang menegurnya, maka dia akan bilang bahwa dia tetap masih sadar dan tidak perlu khawatir.

Pada suatu malam, hujan turun dengan lebatnya, dan kereta api agak terlambat dari jadwalnya. Untuk menghilangkan kekesalannya menunggu, Kasep mulai mengeluarkan botol araknya sampai, tanpa disadarinya, telah hampir dihabiskannya setengah botol minuman arak tersebut. Walaupun telah ditegur oleh Kepala Peron , tapi Kasep tetap meyakinkan bahwa dia masih sadar dan tidak perlu khawatir.

Tiba-tiba muncullah suara kereta api dari dua arah yang berlawanan, rel harus segera diarahkan. Kepala peron dengan panik segera menuju arah belakang untuk menutup palang kendaraan umum agar tidak melewati jalur kereta api, dan meminta Kasep untuk melakukan tugasnya mengarahkan rel yang di depan. Kasep sambil tertawa berkata, “Tenang saja Pak, tidak perlu tergopoh-gopoh.” Kepala Peron menegaskan kembali agar segera memperhatikan pekerjaannya, dan akhirnya dengan perlahan Kasep mulai bangkit dan menuju tempatnya bekerja.

Kepala Peron dengan cepat berlari ke arah belakang, sedangkan Kasep masih tenang berjalan dan bermaksud meneguk lagi seteguk arak untuk menghangatkan badannya sambil kemudian mengenakan jas hujannya. Dengan santai dia memegang lampu petromak dan berjalan menyusuri rel kereta, namun baru melangkah tiba-tiba terdengar suara pluit kedatangan kereta api. Kasep mulai tergopoh-gopoh berlari ke depan dengan sekuat tenaga, namun semuanya sudah terlambat. Kedua kereta api tersebut saling menghantam gerbong masing-masing seperti dua naga yang sedang bertarung. Berbagai jeritan dan isakan penumpang terdengar histeris bercampur benturan suara keras yang memekakkan telinga.

Sesudah bencana tersebut berakhir, Kasep tidak berhasil ditemukan. Tetapi pada malam berikutnya, orang-orang melihat Kasep duduk di pinggiran kereta api sambil memegang petromak dalam keadaan tidak sadar, sambil melambaikan petromaknya dan berteriak, “Kenapa tidak saya lakukan,…..kenapa tidak saya lakukan, ……kenapa……………….”

Tas Berisi Kotoran

Dalam suatu persamuan yang diketuai oleh seorang Mahabhikshu, tibalah sesi untuk menyampaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh para bhikshu. Seorang bhikshu muda yang bernama Dasa, terkenal sering pindah-pindah vihara karena berbagai alasan, dan kali inipun dia sudah siap dengan permasalahannya untuk menyampaikan kepada Mahabhikshu tersebut, bahwa dia bermaksud pindah ke vihara lain dengan berbagai alasan yang telah dipersiapkannya.

Mahabhikshu tersebut mengetahui muridnya ini, maka permintaan tersebut dikabulkan saja. Begitu bhikshu Dasa mempersiapkan diri dan mengambil tasnya siap untuk memohon ijin berangkat, maka tiba-tiba Mahabhikshu berseru, “Bhikshu Dasa selalu membawa tas yang isinya penuh dengan tai anjing, karenanya selalu mengeluh sekelilingnya bau tai anjing!” Bhikshu Dasa seketika itu juga sadar akan ucapan Mahabhikshu tersebut dan mencapai pencerahan. Diapun membatalkan niatnya untuk pindah vihara dan terus menetap di vihara tersebut.

Meditasi Tanpa Suara

Suatu hari terdapatlah lima orang pemuda yang bermaksud mengadakan retreat selama tujuh hari dengan meditasi di hutan. Selama retreat berlangsung, maka ada satu pantangan yang harus dipatuhi, yaitu dilarang berbicara antar sesama dan konsentrasi hanya pada nafas. Alhasil, masing-masing menggunakan bahasa isyarat tarzan, dimana sepanjang siang hari pertama, dapat dilalui dengan berhasil tanpa sutu patah kata yang keluar dari kelima pemuda tersebut.

Kemudian pada malam harinya, maka masing-masing sudah siap untuk masuk ke gubug tempat mereka tidur yang hanya diterangi satu-satunya api lilin. Menjelang tengah malam, bertiuplah angin yang kencang sehingga memadamkan api lilin tersebut, dan mulailah timbul kegelisahan di antara mereka. Setelah sekian lama dalam keadaan gelap-gulita, maka mulailah pemuda pertama berbisik pada teman di sebelahnya,”Kelihatannya api lilin itu padam!” Pemuda kedua menyahut sambil berbisik pula, “Iya…, sebaiknya ada yang menyalahkannya.” Pemuda ketiga menimpali dan mengingatkan akan janji mereka, “Hei…bukankah kita sepakat untuk tidak berbicara?” Pemuda keempat mengiyakan, “Iya nih,…. koq jadi pada berisik sih…” , dan mereka berempatpun baru mulai menyadari hanya ada satu orang yang berhasil tidak berbicara sama sekali, tetapi belum sampai sedetik kemudian, pemuda kelimapun mulai berseru dan yang paling nyaring, “Ha..ha..ha…, lihatlah hanya saya yang paling hebat karena tidak berbicara sama sekali!”

Pangeran Menyerahkan Semuanya

Visvantara merupakan putra Raja Sanjaya. Beliau telah membagi habis harta miliknya sebagai derma , sampai akhirnya Beliau menyerahkan juga gajah putih milik kerajaan kepada kaum pendeta. Kedermawaannya yang tinggi tersebut menyebabkan ayahnya mengusirnya dari kerajaan untuk dikucilkan di Gunung Vanka.

Visvantara dalam perjalanan ke Gunung Vanka ditemani oleh istrinya dan dua orang anaknya dengan menaiki kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang pendeta yang meminta kuda-kuda mereka dimana diberikan semua oleh Beliau. Pada kesempatan lain, keretanya juga diberikan kepada pendeta lain yang ditemuinya. Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dimana Visvantara menggendong putranya, dan istrinya menggendong putrinya. Sesampainya di tempat tujuan, mereka tinggal di rumah yang terbuat dari daun-daunan.

Pada suatu hari sewaktu istrinya sedang pergi, datanglah seorang brahmana yang meminta kedua orang anaknya untuk dijadikan pelayannya. Visvantara tidak sanggup untuk menolak permintaan seorang brahmana, sehingga diserahkannya kedua anaknya tersebut juga. Kejadian tersebut menggugah Deva Sakra yaitu pemimpin para Deva yang kemudian muncul dalam penyamarannya sebagai seorang pendeta yang miskin dan memohon kepada Visvantara agar dapat menyerahkan istrinya kepadanya. Tentu saja permohonan inipun dikabulkannya, dan atas ketulusan Visvantara kemudian Deva Sakra menjelma kembali ke bentuk aslinya dan memberkahi Visvantara. Brahmana yang membawa kedua anaknya kemudian menyerahkannya kepada kakeknya, Raja Sanjaya .

Kejadian ini membuat Raja Sanjaya dan rakyatnya menjadi terharu sehingga Visvantara dipanggil kembali dan diberikan kedudukan kembali sebagai pangeran kerajaan yang kemudian hari menjadi Raja menggantikan ayahnya.

Bodhisattva Mengorbankan Tubuh

Pada suatu masa yang silam, hiduplah Raja Maharatha bersama tiga putranya, Mahapranada, Mahadeva, dan Mahasattvavan. Pada suatu hari ketiga pangeran berjalan di dalam suatu hutan yang besar dan sunyi, dimana di tengah perjalanan mereka bertiga bertemu dengan seekor harimau betina yang baru beranak lima ekor. Tubuh harimau betina begitu kurus dan lemah karena lapar dan haus. Mereka bertiga membicarakan tentang keadaan harimau tersebut dan membayangkan bagaimana bisa harimau betina yang malang tersebut beserta anak-anaknya dapat bertahan hidup.

Mahasattvavan kemudian meminta agar kedua saudaranya berangkat dulu dengan mengatakan nanti dia akan menyusul ke lembah karena hendak melakukan sesuatu. Setelah ditinggal sendirian, maka Mahasattvavan berucap kepada harimau tersebut, “Saya terharu dan dengan rela memberikan tubuh saya untuk kebaikan dunia dan untuk pencapaian bodhi.” Kemudian dia melemparkan dirinya di hadapan harimau betina tersebut, namun harimau yang lemah tersebut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya. Mahasattvavan akhirnya mengambil sebilah bambu tua yang ditemukannya di sekitar lokasi tersebut dan memotong kerongkongannya sehingga mati terbaring dekat harimau tersebut.

Penyesalan dari Ketidaksabaran

Hsiau-fei adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi akan di wisuda. Dia sangat mendambakan akan mendapatkan hadiah wisuda dari ayahnya, seorang pengusaha kaya yang sangat menyayanginya sebagai anak satu-satunya. Hsiau-fei selama berhari-hari telah membayangkan akan mengendarai mobil BMW idamannya sambil bersenang-senang dengan temannya.

Saat yang ditunggupun tibalah, dimana setelah wisuda dengan langkah penuh keyakinan Hsiau-fei melangkah menemui ayahnya yang tersenyum sambil berlinang air mata menyampaikan betapa dia sangat kagum akan anak satu-satunya dan sungguh dia mencintainya. Ayahnya kemudian mengeluarkan sebuah kado yang dibungkus rapi, dan sungguh hal ini membuat Hsiau-fei terpaku karena bukanlah kunci mobil BMW sebagaimana yang diharapkannya. Dengan perasaan gundah, dibukanya juga kado tersebut dimana berisi kitab Buddha Vacana yang terjilid rapi berlapiskan tulisan emas nama Hsiau-fei di sampul depannya. Hancur sekali hati Hsiau-fei menerima hadiah kitab tersebut, dan dengan marah tanpa dapat terkendalikan, dia membanting kitab tersebut sambil berteriak nyaring, “Apakah ini cara ayah mencintai saya, padahal dengan uang ayah yang banyak tidaklah sulit untuk membelikan hadiah yang memang telah ayah ketahui sudah lama saya idamkan!!” Kemudian Hsiau-fei tanpa melihat reaksi ayahnya lagi, berlari kencang meninggalkannya dan bersumpah tidak akan menemuinya lagi.

Hari , bulan dan tahunpun berganti. Hsiau-fei yang telah pindah tinggal di kota lain akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses karena bermodalkan otaknya yang cemerlang. Selain memiliki rumah dan mobil yang mewah, dia juga telah berkeluarga dan mempunyai tiga anak. Sementara ayahnya sudah pensiun dan semakin tua serta tinggal sendirian. Ayahnya selalu menanti kedatangan Hsiau-fei sejak hari wisuda tersebut dengan satu harapan hanya untuk menyampaikan betapa kasihnya dia kepada Hsiau-fei. Hsiau-fei adakalanya juga rindu kepada ayahnya, namun setiap kali mengingat kejadian hari wisuda tersebut, diapun menjadi marah kembali dan merasa sakit hati atas hadiah kitab dari ayahnya.

Sampai suatu hari, datanglah telegram dari tetangga ayahnya yang memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal dunia, dan sebelum meninggal dia telah meninggalkan surat wasiat kepada Hsiau-fei dimana semua hartanya akan diwariskan kepadanya. Akhirnya Hsiau-fei memutuskan untuk pulang mengurus harta peninggalan ayahnya.

Memasuki halaman rumahnya, timbullah rasa penyesalan yang menyebabkannya sedih sekali memikirkan sikap ketidaksabarannya khususnya pada saat wisuda. Hsiau-fei merasa sangat menyesal telah menolak ayahnya. Dengan langkah berat dia memasuki rumah dan satu per satu perabot diperhatikannya yang mengingatkannya akan semua kenangan indah tinggal bersama ayahnya. Dengan kunci wasiat yang diterimanya, dia membuka brankas besi ayahnya, dan menemukan kitab Buddha Vacana dengan ukiran emas namanya, hadiah hari wisuda. Dia mulai membuka halaman kitab tersebut, dan menemukan tulisan tangan ayahnya di halaman depan, “Dengan segala kejahatan yang telah kamu lakukan selama hidupmu, tetapi kamu tahu memberikan yang terbaik kepada anakmu, sungguh para Buddha dan Bodhisattva akan terguncang dengan perbuatanmu.” Tanpa disengaja, tiba-tiba dari sampul kitab tersebut terjatuh sebuah kunci mobil BMW dan kwitansi pembelian mobil yang tanggalnya persis satu bulan sebelum hari wisuda Hsiau-fei.

Hsiau-fei terpaku tanpa bisa bersuara, berbagai perasaan menghinggapinya. Dengan sisa tenaga yang ada, Hsiau-fei segera berlari ke garasi dan menemukan sebuah mobil BMW yang telah berlapiskan debu tetapi masih jelas bahwa mobil tersebut belum pernah disentuh sama sekali karena jok mobilnya masih terbungkus plastik. Di depan kemudi terpampang foto ayahnya yang tersenyum bangga. Tiba-tiba lemaslah seluruh tubuhnya, dan airmatanya tanpa terasa mengalir terus tanpa dapat ditahannya,……… suatu penyesalan yang mendalam atas ketidaksabarannya sendiri…….., suatu penyesalan yang tak mungkin berakhir……..

Perbedaan Dua Sahabat Berubah Menjadi Persamaan

Terdapat sebuah kisah tentang dua orang bersahabat yang bernama Ayin dan Ayang. Mereka berdua adalah orang yang saleh, berjiwa besar, dan penuh cinta kasih. Ayin mempunyai agama atau kepercayaan yang berbeda dengan Ayang. Walaupun begitu mereka secara teratur bertemu untuk mendiskusikan keyakinan mereka, dengan tujuan mencari suatu persamaan yang mereka tidak ketahui namanya.

Meskipun mereka saling menghormati dan mengajukan argumentasi dengan penuh sopan santun, namun pada setiap akhir pertemuan, mereka tidak pernah merasa puas. Segala cara dan metode diskusi yang diketahui telah mereka tempuh tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa. Sampai mereka merasa putus asa, mereka mulai kehilangan kendali diri, dalam hati masing-masing mulai muncul perasaan “lebih unggul”. Akhirnya tercetus kata-kata Ayin, “Ah, seandainya engkau adalah aku, tentu akan bisa memahami apa yang ingin kusampaikan, dan diskusi ini akan dapat membawa kita lebih mengerti ‘sesuatu’ itu.” Ayang menimpali, “Hei, aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana cara kita bisa saling tukar diri kita masing-masing?”

Karena memang mereka tidak dapat saling tukar diri, maka tak lama kemudian mereka menemukan pemecahan yang disetujui paling tepat. Diputuskan, Ayin akan mempelajari agama atau kepercayaan Ayang dan Ayang akan mempelajari agama atau kepercayaan Ayin. Karena mereka memang menginginkan hasil terbaik dan terbenar, maka mereka berikrar akan mempelajari dengan sepenuh hati, berusaha memahami dengan hati terbuka, tidak malah mencari-cari titik kelemahan yang akan digunakan untuk menyerang lawannya. Akhirnya mereka berikrar, setelah 40 tahun mereka akan bertemu lagi untuk saling berdebat sampai ada yang mengaku kalah.

Konon cerita, 40 tahun kemudian, Ayin dan Ayang yang telah sama-sama tua, memenuhi ikrar mereka untuk saling bertemu pada senja hari di tempat terakhir mereka bertemu. Mereka saling berpandangan, tak sepatah kata pun yang terucapkan. Sinar mata mereka penuh kasih yang menghanyutkan sukma, senyum mereka begitu halus dan tulus. Mereka saling memeluk. Resonansi getaran jiwa mereka pada angin yang membelai, pada daun-daun yang berbisik, dalam seluruh relung ruang di jagad raya ini: “Saudaraku, kau selalu di dalam diriku, dan aku selalu di dalam dirimu .” Sejak saat itu tak ada lagi diskusi, karena dalam pelukan itu mereka mengerti tanpa mengetahui dan mendapatkan tanpa mencari.

Penderitaan Nenek Kacang

Dahulu terdapat seorang nenek yang sejak kecil hidupnya sudah menderita sekali karena hidupnya sebatang kara tanpa ada sanak dan famili. Nenek ini terkenal dengan sebutan Lo-pakme pengulit kacang atau nenek tua pengulit kacang, karena tugasnya menguliti kacang sebagai penghidupannya . Lo-pakme pengulit kacang walaupun buta huruf tetapi tetap senang menghormati Buddha dan Bodhisattva di vihara dan banyak berbuat amal. Dia tidak bisa menghafal berbagai sutra yang menurutnya rumit sekali, sehingga hanya ada satu mantra yang selalu dihafalnya yaitu mantra “Om Mani Padme Hum” yang dilafalnya sebagai “Hung Mami Pana Hung”.

Begitu senangnya Lo-pakme terhadap mantra tersebut sehingga setiap kali menguliti kacang, dia melafal mantra tersebut dengan senang, melupakan segala penderitaan hidup yang dialaminya. Setelah lebih dari 40 tahun melafal mantra tersebut secara salah tanpa ada yang membetulkan lafalannya tersebut, sampai hal tersebut mengetuk hati para Bodhisattva, hingga suatu hari, diciptakanlah suatu keajaiban, dimana setiap kali Lo-pakme menyebutkan sekali “Hung Mami Pana Hung”, maka kacang yang belum dikuliti akan loncat ke keranjang lainnya dengan kulit yang telah dibuang. Hal ini makin membuat Lo-pakme senang akan mantranya dan segala penderitaan hidupnyapun sudah tidak diingat lagi, yang diingat hanya menguliti kacang sambil membaca “Hung Mami Pana Hung”.

Sampai suatu hari datanglah seorang bhikshu muda pengembara yang melewati rumah tempat tinggal sang Lo-pakme. Mendengar Lo-pakme tersebut membaca mantra yang salah, maka bhikshu muda tersebut berbaik hati untuk membetulkannya dengan berkata, “A-pho (Nenek), mantra yang A-pho baca itu salah, seharusnya ‘Om Mani Padme Hum’……, dengan nada belakang agak panjang, ….Hummmmm………., dan mulutnya ditutup….Hummmmmmm…….”

Lo-pakme yang sangat menghormati Buddha, tentunya senang ada bhikshu yang mengajarinya, dan baru sadar bahwa selama ini dia telah menglafal mantra yang salah, maka setelah beberapa kali melakukan lafalan sebagaimana yang diajarkan bhikshu muda tersebut, akhirnya lafalan tersebutpun telah menjadi benar kembali, sebagai “Om Mani Padme Hummm…..”, tentunya dengan nada belakang yang agak panjang sambil mulut ditutup.

Keesokan harinya, sesudah menjamu bhikshu muda tersebut sarapan pagi karena diajak untuk menginap dan setelah bhikshu muda tersebut meninggalkan tempatnya sambil sekali lagi mengingatkan Lo-pakme untuk melafal mantra secara benar, khususnya penutupan mulut pada saat ‘Hummmm……’ . Kemudian Lo-pakme sudah siap dengan mantra barunya untuk menguliti kacang, diapun melafal, “Om Mani Padme Hummmmm….”, sambil menutup mulut pada suara mantra terakhir. Tetapi kacang tidak melompat sama sekali…., tidak percaya akan penglihatannya, diapun mengulangi kembali sampai beberapa kali, tetap saja tidak terjadi keajaiban kacang yang terkuliti sendiri dan melompat. Akhirnya Lo-pakme menyerah dan pasrah serta memilih untuk melafal mantra yang benar saja karena menghormati nasehat bhikshu muda, dan memulai dari awal lagi menguliti kacang dengan tangannya yang sudah makin bertambah keriput.

Anggota Tubuh Yang Egois

Suatu waktu seluruh anggota tubuh merasa benci terhadap perut. Mereka semua iri karena mereka selalu harus bekerja keras mempersiapkan makanan dan membawanya sampai ke perut, sementara perut sendiri tidak pernah berbuat lain kecuali mencerna hasil jerih payah pekerjaan mereka.


Sehingga mereka mengambil keputusan untuk melakukan demonstrasi dengan mogok membawa makanan ke perut. Pikiran tidak mau memikirkan untuk makan, anggota tangan tidak mau mengambil makanan ke mulut, gigi tidak mau mengunyah, dan tenggorakan tidak mau menelan, itulah kesepakatan mereka. Hal ini, menurut mereka akan memaksa perut untuk bekerja bagi dirinya sendiri tanpa harus tergantung sama mereka.


Tetapi hasil keputusan tersebut menghasilkan pikiran yang lemah, tubuh yang lesuh, tidak bersemangat hingga hampir membuat mereka berada dalam garis kematian. Akhirnya dengan lemah, mereka baru menyadari kesalahan keputusan mereka, dimana mereka sadar bahwa tubuh ini tidaklah murni berdiri sendiri adanya, dimana perasaan ke-aku-an hanya akan menyebabkan penderitaan, dan satu sama lain seharusnya saling bergantungan.

Sang Buddha Mencerahkan

Angulimala, seorang perampok jalanan dan pembunuh yang mempunyai hobby koleksi kelingking manusia yang dibunuhnya, pada suatu saat bertemu Sang Buddha dan bermaksud menggenapkan koleksinya menjadi 1000 buah. Maka diapun menghadang Sang Buddha dan bermaksud membunuhNya. Angulimala yang terkenal lincah dalam bergerak, tetap tidak bisa menyentuh tubuh Sang Buddha yang kelihatan sama sekali tidak bergeming. Karena kecapaian, akhirnya Angulimala bertanya kenapa Sang Buddha bisa bergerak begitu cepat, yang oleh Sang Buddha dijawab, “Wahai Angulimala, Aku sudah dari tadi tidak bergerak, engkaulah yang masih terus bergerak.” Angulimala yang mendengarkan perkataan Sang Buddha ini akhirnya berubah seketika dan menjadi pengikut Sang Buddha yang mampu mencapai tingkat Arahat.

Pemuda Meniru Buddha

Niu-tzu, adalah seorang pemuda yang senang sekali mempelajari meditasi dan dengan rutin belajar bersama seorang Mahabhikshu. Setelah sekian lama belajar dan merasa sudah mencapai tingkat tertentu, maka Niu-tzu terdorong untuk menilai dirinya sendiri , dan diapun bertanya kepada Mahabhikshu , “Suhu, bagaimanakah kemajuan meditasi saya selama ini?” . Mahabhikshu tersebut berkata, “Bagus sekali, bagus sekali….., Anda telah duduk dengan sempurna seperti Sang Buddha.” Niu-tzu senang sekali menerima pujian tersebut dan bangga sekali hatinya.

Mahabhikshu yang mengetahui pemuda ini serta terdorong untuk menguji pemuda tersebut bertanya lebih lanjut, “Menurut Niu-tzu, kalau Suhu meditasinya bagaimana?” Niu-tzu yang merasa sudah lebih maju meditasinya dan memang selama ini sering merasa geli kalau melihat postur meditasi Mahabhikshu tersebut, merasa memiliki kesempatan untuk melepaskan ganjalan hatinya, “Suhu maaf dulu yah, tapi karena saya harus bicara sejujurnya, maka postur meditasi Suhu persis bentuknya seperti tai kerbau.” (tai kerbau yang berbentuk kerucut, kecil di atas dan melebar ke bawah, diumpamakan dengan jubah Mahabhikshu yang bergelai menutupi keseluruhan kaki pada saat duduk meditasi, sehingga berbentuk kerucut).

Hari itu, Niu-tzu dengan riang kembali ke rumah dan menceritakan pengalaman tersebut kepada adiknya, “Ha..ha…ha…, adikku sayang, hari ini kakak senang sekali karena telah berhasil mencapai meditasi seperti Sang Buddha.” Adiknya yang agak bingung menanyakan lebih lanjut dan setelah mengetahui persis cerita dari kakaknya, diapun berkomentar, “Kakak telah keliru besar sekali, kalau di dalam pikiran kakak hanya ada tai kerbau, maka di dalam pikiran Suhu hanya ada Sang Buddha.”

Sang Buddha Menyadarkan Nelayan

Suatu ketika, ada seorang nelayan yang tinggal di dekat gerbang utara kota Savatthi. Suatu hari, melalui kemampuan batin luar biasa, Sang Buddha melihat bahwa telah tiba saatnya bagi nelayan itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Maka dalam perjalanan pulang dari berpindapatta, Sang Buddha bersama dengan para bhikkhu, berhenti di dekat tempat dimana Ariya sedang menangkap ikan. Ketika nelayan itu melihat Sang Buddha, dia melemparkan alat penangkap ikannya kemudian datang dan berdiri di dekat Sang Buddha. Sang Buddha mulai menanyakan nama-nama para bhikkhu di hadapan si nelayan, dan akhirnya, Beliau menanyakan nama nelayan itu.

Ketika si nelayan menjawab bahwa namanya adalah Ariya, Sang Buddha berkata bahwa para orang mulia (Ariya) tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi karena si nelayan membunuh ikan-ikan maka dia tidak layak menyandang nama Ariya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut (Dhammapada, 270), “Seseorang tidak dapat disebut Ariya (orang mulia) apabila masih menyiksa makhluk hidup. Dia yang tidak lagi menyiksa makhluk-makhluk hiduplah yang dapat dikatakan mulia.

Nelayan Ariya mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khobah Dharma Sang Buddha berakhir.

Bendera Atau Angin Yang Bergerak

Mahabhikshu Zen Sesepuh Ke-enam, Hui-neng pada suatu hari tiba di Vihara Fa-hsing dan melihat dua orang bhikshu sedang berbeda pendapat dengan beremosi sekali di depan sebuah tiang bendera.

Salah seorang bhikshu berkata, “Jika tidak ada angin, bagaimana mungkin bendera itu berkibar? Oleh sebab itulah, saya mengatakan bahwa anginlah yang bergerak.”

Bhikshu yang lainnya menimpali dengan emosi juga, “Jika tidak ada bendera, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa angin bergerak? Jadi saya berpendapat bahwa benderalah yang bergerak.” Argumentasi ini akhirnya berubah menjadi debat kusir dimana masing-masing bersikeras pada pendapat mereka masing-masing yang paling benar.

Hui-neng akhirnya menengahi mereka dan berkata, “Sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Saya ingin menyelesaikan masalah ini. Bukanlah angin yang bergerak, juga bukanlah bendera yang bergerak. Pikiran kalianlah yang bergerak.”

Berpikir untuk Tidak Berpikir

Seorang Mahabhikshu Zen sedang melakukan meditasi. Seorang bhikshu muda melintasinya, menungguinya sampai selesai meditasi, dan bertanya, “Suhu duduk di sini dengan diam bagaikan batu. Apakah yang sedang suhu pikirkan?”

Mahabhikshu menjawabnya, “Saya sedang memikirkan untuk tidak berpikir.”

Bhikshu muda bertanya lebih lanjut, “Bagaimana suhu dapat melakukannya?”

Mahabhikshu menjawab, “Dengan tidak berpikir.”

Tidak Berhasil Menemukan Pikiran

Shen-kuang Hui-k’o menemui Bodhidharma dan berkata, “Pikiran saya tidak tenang, tolonglah saya untuk menenangkan pikiran saya yang kacau ini!”

Bodhidharma menjawab, “Mana bawakan ke sini pikiran Anda! Saya akan menenangkannya untukmu!”

Dengan penuh keheranan Hui-k’o berseru, “Saya tidak berhasil menemukan pikiran saya!”

Bodhidharma tersenyum dan berkata, “Saya telah menenangkan pikiran Anda.”

Pada saat tersebut juga Hui-k’o mencapai pencerahan.

Menggosok Genteng Jadi Cermin

Mazu Daoyi (709-788) adalah seorang sesepuh Zen yang membawa pengaruh paling besar sesudah masa sesepuh ke-enam, Huineng (638-713). Mazu meninggalkan rumah pada usia 12 tahun untuk menjadi murid Nanyue Huairang (677-744).

Pada suatu hari, Nanyue melihat Mazu sedang duduk bermeditasi. Nanyue bertanya kepada Mazu, “Untuk apa engkau duduk bermeditasi?” Mazu menjawab, “Aku ingin menjadi Buddha”.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Nanyue keluar mengambil sepotong genteng bata yang kemudian digosoknya di lantai. Mazu merasa tidak mengerti sehingga bertanya, “Anda menggosok genteng bata untuk apa?” Nanyue menjawab, “Aku ingin jadikan genteng bata ini sebagai cermin.” Mazu dengan terheran-heran berkata, “Genteng bata digosok bagaimana bisa menjadi cermin?” Nanyue menjawab, “Kalau genteng bata digosok tidak bisa menjadi cermin, bagaimana pula duduk bermeditasi dapat menjadi Buddha?”

Mazu kemudian bertanya bagaimana caranya agar dapat menjadi Buddha. Nanyue berkata, “Pengertian ini sama halnya seperti orang menghalau gerobak yang ditarik oleh seekor lembu; bila gerobaknya tidak berjalan, apa yang harus dipecut? Gerobaknya atau lembunya? Dalam melakukan meditasi, engkau ingin belajar Zen yang duduk, atau engkau bermaksud meniru Buddha yang duduk? Untuk yang pertama, Zen tidak ada di dalam duduk atau berdiri. Untuk yang kedua, Buddha tidak memiliki posisi tubuh yang tetap. Dharma berjalan terus, dan tidak pernah berhenti di suatu tempat. Engkau karenanya jangan melekat ataupun membenci bentuk-bentuknya. Duduk untuk menjadi Buddha adalah membunuh Buddha. Apabila engkau belajar duduk menjadi Buddha, itu sama halnya mengucilkan Buddha; kalau engkau terikat kepada bentuk duduk, maka selamanya akan jauh dari Kebenaran.”

Tidak Seorangpun Yang Boleh Dibawa

Seandainya dia sedang duduk di sebuah tempat bersama orang yang disayangi, netral, musuh dan dirinya sendiri sebagai orang keempat, kemudian bandit-bandit datang kepadanya dan berkata, “Tuan, berikan salah seorang dari kalian”, dan ketika ditanya mengapa, mereka menjawab, “Agar kita dapat membunuhnya dan menggunakan darah dari tenggorokannya sebagai persembahan”, dan bila dia berpikir, “Biarlah mereka membawa orang ini, atau orang itu”, dia belum menghancurkan penghalang. Dan juga bila dia berpikir, “Biarlah mereka membawa saya dan bukan ketiga orang lainnya”, dia juga belum menghilangkan penghalang. Mengapa? Karena dia mencari celaka dirinya sendiri yang dia harapkan untuk dibawa dan mencari keselamatan dari hanya orang-orang lain. Namun ketika dia tidak melihat seorang pun di antara keempat orang tersebut untuk diberikan kepada bandit, maka dia telah mengarahkan pikirannya secara tidak memihak terhadap dirinya dan ketiga orang lainnya, dan dia telah menghancurkan penghalang.

Tidak Menerima Undangan

Dalam memenuhi suatu undangan untuk menerima dana dari seorang Brahmin, Sang Buddha mendapatkan cacian ‘babi’, ‘orang biadab’, ‘kerbau’ dan kata-kata kotor lainnya. Tetapi Beliau sama sekali tidak terganggu. Beliau tidak membalas, malah justru dengan sopan, Sang Buddha bertanya kepada tuan rumah,

“Apakah para tamu berkunjung ke rumahmu brahmin yang baik?”

“Ya”, jawabnya.

“Apa yang kamu lakukan ketika mereka datang?”

“Oh, kami menyiapkan jamuan yang mewah.”

“Bagaimana seandainya mereka lupa datang, sehingga apa yang akan engkau lakukan dengan jamuan yang telah dipersiapkan tersebut?”

“Mengapa, dengan senang hati kami sendiri akan memakannya.”

“Baik, brahmin yang baik, kamu telah mengundangku untuk menerima dan dan menjamuku dengan caci-maki. Aku tidak menerima apapun. Silahkan mengambilnya kembali.”

Menghidupkan Yang Mati

Kisa Gotami kehilangan bayi tunggalnya, dan ia pergi mencari obat untuk menghidupkan bayi lelakinya yang telah mati. Dengan menggendong jenasahnya, dia menghadap Sang Buddha dan meminta obat.

Sang Buddha setelah mengetahui persoalannya, dengan tenang berkata,

“Baik, saudari, dapatkah kamu membawa sedikit biji lada?”

“Tentu, Bhante!”

“Tetapi, saudari, biji lada tersebut haruslah berasal dari satu rumah dimana tidak seorangpun sanak keluarganya yang pernah mati.”

Gotami pun berangkat dari mencari serta mengetuk ke hampir seluruh seluruh rumah di desa tersebut. Semua rumah yang didatanginya menyimpan biji lada, namun tidak ada satupun penghuni rumah yang dikunjunginya tersebut yang tidak pernah kehilangan sanak keluarganya karena kematian.

Akhirnya Kisa Gotami memahami sifat kehidupan.

Puisi Bau Kentut

Seorang cendekiawan, Zhou Zi, yang telah mempelajari konsep Buddhisme dari gurunya, seorang Mahabhikshu Zen, pada suatu hari membuat suatu puisi yang menurutnya merupakan pencerminan keadaan batinnya yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam puisinya tersebut, dilukiskan bagaimana dia telah mencapai keadaan batin yang damai, kokoh, tidak terpengaruh oleh bahkan delapan mata angin sekalipun.

Sungguh bangga sekali Zhou Zi akan puisi barunya tersebut, sehingga dia berniat untuk mengirimkan kepada gurunya yang tinggal di seberang sungai, dengan harapan akan memperoleh pujian. Zhou Zi segera mengirimkan kurir untuk menyampaikan puisinya tersebut, yang diberi judul ‘Hati yang Tiada Tergoyahkan’. Setelah gurunya menerima kiriman puisi tersebut dan membacanya, dimana oleh kurir cendekiawan dimintakan agar gurunya dapat menuliskan kesannya, maka beliau menuliskan sesuatu di balik kertas puisi tersebut dan diserahkannya kembali melalui kurir.

Zhou Zi menunggu kedatangan kurirnya untuk membaca pujian yang disampaikan oleh gurunya, dan segera dibuka sampul berisi kertas puisinya. Betapa marahnya Zhou Zi menemukan tulisan gurunya berupa tinta merah dengan tiga huruf besar, ‘PUISI BAU KENTUT’. Sungguh geram Zhou Zi, dia menilai gurunya benar-benar tidak mengerti ungkapan yang mendalam dari dia akan konsep Buddhisme tentang keseimbangan batinnya. Zhou Zi memutuskan untuk segera ke seberang sungai menemui gurunya.

Sesampainya di tempat gurunya, Zhou Zi menanyakan dengan emosi yang ditahan, “Kenapa suhu mencela puisi saya, apakah suhu tidak bisa menangkap arti kiasan yang begitu mendalam dari puisi ini?” Mahabhikshu Zen tersebut tertawa dan berkata, “Ha…ha..ha…, lihatlah dirimu sendiri muridku, baru terkena satu angin kentut saja, Anda sudah terbirit-birit ke sini…., apalagi kalau diterpa delapan mata angin sekaligus!”

(satu angin yang dimaksud oleh Mahabhikshu Zen tersebut adalah keadaan batin yang dicela).

Wasiat Keranjang

Terdapat seorang anak yang pada awalnya sangat berbhakti terhadap orangtuanya. Hingga sesudah berumah-tangga dan memiliki seorang anak, kedua orangtuanya masih tinggal bersamanya. Istrinya yang pencemburu dan selalu memiliki prasangka buruk akan rasa bhakti suaminya terhadap mertuanya yang sudah tua tersebut, berulang-kali mempengaruhi suaminya agar dapat menyingkirkan orangtuanya tersebut dari rumah tempat tinggal mereka.

Hingga suatu hari, istrinya mengancam akan menceraikannya apabila tidak memenuhi keinginannya untuk menyingkirkan mertuanya tersebut dari rumah tempat tinggal mereka. Karena sayangnya suami ini terhadap istrinya, akhirnya mereka bersepakat untuk mengantar kedua orangtua mereka ke panti jompo. Merekapun menyiapkan keranjang besar untuk membawa kedua orangtua mereka. Keranjang besar yang dibeli dari pasar tersebut, dibawa pulang ke rumah dan menjadi perhatian anak lelaki mereka yang berumur 10 tahun, sehingga diapun bertanya kepada kedua orangtuanya.

“Papa dan Mama, buat apa keranjang besar ini?”

Ayahnya menjawab, “Keranjang ini dibutuhkan untuk mengangkut Kakek dan Nenek ke tempat yang banyak temannya (maksudnya panti jompo). Karena Kakek dan Nenek akan lebih bahagia tinggal di sana.”

Anaknya yang cukup cerdik dan berbhakti inipun berpikir panjang, dan dengan polos disampaikan permintaanya, “Papa dan Mama, tolong nanti sesudah keranjang ini dipakai jangan dibuang yah!”

Ibunya menjadi heran dan menanyakan lebih lanjut, “Buat apa keranjang ini nak?”

“Akan saya pakai untuk mengangkut Papa dan Mama ke tempat yang bahagia tersebut apabila sudah tua nantinya, sehingga Papa dan Mama dapat hidup lebih bahagia juga.”

Seperti halilintar yang menyambar di siang bolong, ayah dan ibunya menjadi sadar akan perbuatannya. Akhirnya merekapun membatalkan niat untuk memindahkan orangtuanya ke panti jompo. Dan kemudian hidup bahagia bersama sampai orangtua mereka meninggal dunia.

Dua Orang Sahabat Yang Setia

Pada suatu kehidupan sebelumnya, Kelana dan Derma merupakan dua orang sahabat yang sangat setia dimana masing-masing telah berjanji bahwa pada kehidupan berikutnya mereka akan saling mengingatkan agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tanpa mereka sadari, dalam kehidupan saat ini mereka setiap hari bertemu, namun bukan sebagai sahabat karib karena Derma telah menjadi seorang pengusaha yang kaya, sedangkan Kelana adalah seorang tunawisma yang pemabuk dan pemalas. Derma telah mengenal pengemis Kelana ini jauh hari sebelum dia berhasil menjadi seorang pengusaha yang kaya. Pada waktu itu hidupnya masih tidak menentu dan sering bermabuk-mabukan, tetapi setelah bertemu dengan Kelana yang waktu itu meminta sedekah dalam keadaan yang menyedihkan dan sedang dilanda mabuk minuman keras, maka membuat dia tersadar untuk tidak menjadi seorang pemabuk dan pemalas.

Sehingga diapun menjadi bersemangat sekali dalam bekerja, dimana setiap kali semangat kerjanya mulai runtuh, Kelana akan muncul dan dalam keadaan mabuk meminta sedekah yang tentunya diberikan oleh Derma.

Mahabhikshu Menyadarkan

Terdapat seorang anak muda yang terkenal buruk tabiatnya dimana senang menghambur-hamburkan kekayaaan orangtuanya, sampai orangtuanya sendiri tidak mampu untuk menasehatinya supaya menghilangkan sifat buruknya tersebut. Hingga suatu hari, ibunya memutuskan untuk mengundang kakak kandungnya yang telah hidup sebagai seorang bhikshu untuk datang ke rumahnya guna menyadarkan keponakannya tersebut.

Mahabhikshu sesudah menginap tiga hari tiga malam, sama sekali tidak memanggil keponakannya tersebut secara khusus untuk memberikan suatu nasehat yang bermanfaat. Sampai hari terakhir, Mahabhikshu bermaksud kembali ke viharanya, dan sebelum berpisah beliau memanggil keponakannya tersebut, “Ming-zi, saya sudah mau berangkat, bisakah Ming-zi tolong pakaikan tali sepatu saya ini?” Keponakannya menuruti permintaan Mahabhikshu tersebut dan memakaikan tali sepatunya. Sesudah selesai, Mahabhikshu berkata dengan penuh kasih sayang, “Begitulah Ming-zi kalau seseorang itu sudah tua, tangan menjadi bergemetaran sehingga mau berbuat apa saja sudah susah. Jagalah dirimu baik-baik, dan berbuatlah sesuatu yang berguna semasa masih muda.” Sesudah itu berangkatlah Mahabhikshu tersebut.

Semenjak saat itu, Ming-zi berubah menjadi anak muda yang baik dan sama sekali telah menghilangkan kebiasaan buruknya menghambur-hamburkan harta kekayaan orangtuanya, dan menjadi seorang anak yang patuh kepada orangtuanya.

Confucius:

” Hari ini saya telah bertemu Lau Zi dan hanya dapat membandingkannya dengan seekor Naga.”

1 Comment»

[…] (Diambil dari blog Sumansutra) […]

Like


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: