SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Tao ala Lau Zi

Sifat Tao

Sifat Tao tidak terbatas dan meliputi seluruh alam semesta, semua benda dan makhluk dalam kekuasaanNya, karena semua berasal dari Tao dan kemudian setelah tiada akan kembali kepada Tao. Sifat Tao tercermin dalam rangkaian kata yang indah pada kalimat pembuka kitab Tao Tee Cing,

“Tao, Khe’ Tao, Fei Ch’ang Tao;

Ming, Khe’ Ming, Fei Ch’ang Ming”

yang dapat diartikan,

” Tao yang dapat dibicarakan, bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang abadi;

dan nama yang dapat diberikan, bukanlah nama yang sejati.” (Tao Tee Cing I,1)

(“The Way that can be described is not the absolute Way;

the name that can be given is not the absolute name.”)

Tao tidak mempunyai nama, karena sudah ada sebelum terjadinya langit dan bumi. Berapa banyak ‘nama’ yang dapat manusia berikan untuk Yang Mutlak, Yang Tiada Berawal dan Berakhir, Yang Kuasa, Yang Esa, dimana semuanya itu disesuaikan dengan tradisi dan kebudayaan setempat serta tingkat pencapaian spiritual seseorang. Nam, Lok, Brahman, Purusha, Prakriti, Hyang Adi Buddha, Eli, Eloi, Yehovah (YHWH), Yahweh, Iaveh, Kyrios, Adonai, Bapa di Surga, Amitabha di Tanah Suci, Allah, Tuhan, God, Lord, Th’ien, Shang Ti, dan tentunya masih banyak lagi. Dalam kitab Veda Hindu, dikatakan, “Manusia memanggil Tuhan dengan berbagai nama, tetapi orang yang bijaksana mengetahui bahwa Tuhan hanya Satu.” Lau Zi mengakui bahwa nama `Tao‘ terpaksa Beliau berikan sesudah mencapai Kesempurnaan. Kata-kata memiliki keterbatasan sedangkan Kebenaran tidak dapat diungkapkan. Mencoba memahami Kebenaran dengan menggunakan kata-kata yang terbatas tersebut hanya akan menimbulkan penyimpangan. Dengan kebijaksanaan yang tinggi Beliau mengetahui, bahwa Tao sebagaimana nama yang diberikan tersebut, adalah sumber dari segala benda dan makhluk, sebagaimana dinyatakan berikut :

” Wu Ming, Th’ien Ti Ci’ Hsi

You’ Ming, Wan Wu’ Ci’ Mu’ “

yang dapat diartikan :

” Tiada nama, itulah kondisi permulaan terjadinya Langit dan Bumi.

Setelah ada nama itulah sumber dari segala benda.” (Tao Tee Cing I,2).

(“Nameless it is the source of heaven and earth;

named it is the mother of all things.”)

Kedua kalimat pembuka dalam Tao Tee Cing tersebut (Bab I, ayat 1 dan 2) mendapatkan tempat yang sangat istimewa dalam ajaran Lau Zi, dan dianggap sebagai suatu intisari ajaran yang sepantasnya dipahami secara mendalam sebelum melangkah pada uraian berikutnya. Tanpa mengerti inti Tao yang sangat sulit diuraikan tersebut (sulitnya seperti menguraikan pencapaian moksha dalam Hinduisme ataupun pencapaian Nirvana dalam Buddhisme), dan konsep ‘Tiada Nama’ [Wu Ming] yang menyertainya, maka pemahaman berikut akan menjadi bacaan sia-sia belaka. Pendekatan filsafat Barat yang mendekati konsep penjabaran sifat Tao tersebut adalah Logos, suatu prinsip yang mendasari segala sesuatu di dunia ini. Bersatunya manusia dengan Roh Kudus merupakan inti realisasi diri dalam pendekatan ajaran filsafat Barat tersebut. Di dalam Hinduisme dapat dilihat adanya kesamaan dengan doktrin Brahman, dimana realisasinya terwujud dalam tingkat pencapaian moksha, bersatunya Atman (diri) dengan Brahman. Sedangkan dalam Buddhisme, dapat disamakan dengan konsep Dharmakaya, yang mana merupakan sifat Kebuddhaan yang melingkupi segala sesuatu yang eksis di dunia ini, realitas pencapaiannya bercirikan dengan terbebasnya segala bentuk keterikatan terhadap sifat ke-aku-an dan kemelekatan duniawi yang menyebabkan penderitaan, yang dikenal dengan tercapainya Nirvana/Nibbana.

Mengingat banyaknya naskah Tao Tee Cing dari berbagai terjemahan yang dapat dijumpai di kebanyakan toko-toko buku ataupun di kebanyakan situs jaringan (web sites) di internet, maka Penyusun tidak akan menguraikannya semua secara berurutan. Penyusun mencoba mengelompokkan menurut topik yang diuraikan dalam Tao Tee Cing, sehingga dengan demikian akan membantu Pembaca untuk memahami intisari ajaran Lau Zi. Walaupun begitu, tetap disarankan untuk dapat membaca secara lengkap isi dari Tao Tee Cing tersebut.

Kekuatan tak terlihat yang menciptakan dunia ini adalah sesuatu yang paling hakiki. Keberadaannya terdapat dalam setiap derap kehidupan yang dapat kita jumpai dalam setiap kejadian sehari-hari. Setiap metode atau teknik yang terlalu rumit untuk menjelaskan hal ini, hanya akan menyebabkan kekacauan. Tao yang memiliki sifat suci dan kosong tidaklah berwujud, samar, kekal, tiada awal dan tiada akhir, namun merupakan sumber dari Alam Semesta.

” Ada suatu benda yang sifatnya samar, namun menjadi pencipta dari segala benda di seluruh alam semesta ini. Benda itu sudah ada terlebih dahulu sebelum ada langit dan bumi, sifatnya suci dan kosong. Dia berdiri sendiri dan tidak berubah, kekal dan abadi. Mengelilingi dan meliputi semuanya dengan tanpa berhenti dan tidak ada akhirnya, sehingga dapat dikatakan Ibu dari Alam Semesta.” (Tao Tee Cing XXV, 1-2).

Ungkapan sifat Tao tersebut dapat disamakan dengan pengertian Yang Absolut dalam pengertian Buddhisme sebagaimana dinyatakan dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : ” Atti Ajatam Abhutam Akatam Asamkatan ” (artinya : Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak.”)

Lau Zi mengakui bahwa sulit bagi Beliau untuk dapat memberikan suatu nama ataupun julukan kepada hal yang absolut tersebut, namun untuk dapat mengenalNya maka disebut saja ‘Tao‘. Dengan demikian, ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa kita janganlah terpaku pada kata-kata, sebagaimana jari yang menunjuk bulan, janganlah kita terpaku pada jari telunjuk tersebut, melainkan arah yang ditunjuk yaitu cahaya bulan itu yang harus kita temukan sendiri.

” Aku tidak mengetahui namaNya, aku catat dan menyebutNya `Tao’.” (Tao Tee Cing XXV, 3 ).

Keterpaksaan penamaan tersebut juga terbesit dalam pengertian Buddhisme mengenai penjabaran arti kosong yang disebut ‘Sunya ‘, sebagaimana disebutkan dalam Madhyamika-Shastra XV, ” Tidak dapat disebut kosong atau tidak kosong atau dua-duanya, atau bukan dua-duanya. Tetapi untuk mencirikannya disebut saja ` Sunya ‘.”

Angka `satu’ dapat diindentikkan dengan Yang Maha Esa yang dalam ajaran Lau Zi disebut Thay Chi’. Dan dari `satu’ terciptalah `dua’ yang disebut Yin dan Yang atau sifat wanita dan pria atau sifat energi negatif dan positif. Dari penggabungan dua sifat ini lantas melahirkan sifat ketiga, dan dari ketiga ini akan tercipta sifat keempat, kelima dan seterusnya.

“Tao menciptakan satu, satu menciptakan dua, dua menciptakan tiga dan tiga menciptakan segala benda dan makhluk yang berwujud dan terhampar di alam semesta ini. ” (Tao Tee Cing, Bab 42, 1).

Sifat ‘Satu’ adalah Chi’, yang berarti energi asal, atau roh yang dapat dikonotasikan dengan pengertian kata dalam Yahudi, Ruach, dimana berarti nafas atau roh, baik berasal dari Tuhan ataupun dari manusia. Sifat ‘Satu’ ini merupakan kekuatan hidup yang melingkupi dan memberikan gerak kehidupan kepada semua makhluk, suatu energi dunia yang membawa alam semesta ini ke dalam bentuk kehidupan, dan terus bertahan selamanya.

Chi’ dalam pengertian Hinduisme dan Buddhisme dapatlah diidentikan dengan karma atau gudang kesadaran [alayavijnana] sebagaimana konsep yang dikembangkan dalam ajaran Yogacara [Vijnanavada/Wei Shih Cung] yang dirintis oleh Asanga (hidup sekitar abad ke-4 sesudah masehi) dan saudara keduanya, Vasabhandhu (th. 316-396) di India. Asanga mempercayai telah menerima doktrin Yogacara dari Buddha Maitreya secara langsung dari langit. Ajaran Yogacara ini kemudian dibawa ke daratan Tiongkok oleh Maha Acarya Tripitaka, yang terkenal sebagai bhikshu penjiarah ke India, Hsuan Tsang (th. 602-664). Kemudian Hsuan Tsang mendirikan sekte Ch’eng Wei Shih Lun, dimana ajaran pokoknya mengatakan bahwa benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran [alayavijnana] merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu.

Chi’ yang senantiasa mengalir bersama kehidupan setiap makhluk hidup seperti aliran listrik , dimana tidak akan berhenti walaupun bola lampunya telah mati. Sehingga sifat ‘Satu’ ini dapatlah disebut sebagai energi murni [yuan chi’]. Sifat ‘Dua’ merupakan pencerminan kekuatan kembar Yin (energi negatif) dan Yang (energi positif). Perwujudan utama dari sifat ‘Dua’ ini adalah Langit dan Bumi. Sedangkan sifat yang ‘Tiga’ adalah manusia, dan secara bersama disebut ‘Sang Tiga’. Dari ‘Sang Tiga’ inilah terwujud segala bentuk kehidupan. Ungkapan dalam bahasa China untuk ini adalah Wan Wu, yang diterjemahkan secara hurufiah sebagai ‘sepuluh ribu benda atau makhluk’ , dimana secara harfiah berarti ‘terlalu banyak untuk dihitung’, karena meliputi seluruh isi dunia.

Untuk dapat mengenali sifat keberadaan Tao, maka Lau Zi senantiasa meniadakan keinginan duniawi yang dapat menyebabkan keterikatan. Lau Zi yang telah mencapai Kesempurnaan memungkinkannya untuk bersatu dengan Tao karena Beliau telah mengalahkan hawa nafsu dan terbebas dari keterikatan duniawi.

” Maka dengan selalu meniadakan keinginan aku melihat keberadaan Tao.” (Tao Tee Cing I,3).

Ajaran Lau Zi sesuai dengan sifat alam yang dapat diumpamakan dengan sinar matahari yang menyinari seisi alam tanpa membeda-bedakan kaya dan miskin, kecil dan besar, suka dan tidak suka. Segala sesuatu di dunia ini berimbang, apabila ada positif akan timbul negatif, ada kaya maka akan diketahui ada miskin, ada cantik maka dapat dikenali jelek. Semua itu adalah pencerminan sifat Tao yang senantiasa berpasangan. Segala sesuatu adalah apa adanya, dan tiada memiliki perbedaan antara baik dan buruk. Tetapi karena tindakan kita memberi nama dan membeda-bedakan, sehingga burung merak dikatakan indah dan menarik, dan babi dikatakan jelek dan kotor. Tetapi apakah benar babi menyadari dirinya jelek dan kotor? Untuk dapat mengerti inti dari setiap hal, kita harus dapat menempatkan posisi diri kita pada sudut pandang yang benar. Setiap keberadaan memiliki inti dari segala sesuatu karena ia berhubungan dengan segala sesuatu yang lain. Meskipun kelihatannya muncul dan berdiri sendiri, tetapi ia mengalir bersama derap langkah kehidupan dan tiada terpisahkan secara keseluruhan.

” Di dunia ini, segala sesuatu yang indah dan baik, bilamana telah diketahui oleh manusia, disamping itu pasti ada yang jelek dan jahat.” (Tao Tee Cing II,1).

Lau Zi juga menjelaskan, bahwa sifat Tao luhur adanya, hal ini tercermin dari ekspresi kagum Beliau atas keberadaan Tao yang tidak diketahui telah ada sejak kapan.

” Aku tidak tahu anak siapakah Tao itu, rupanya Dia sudah ada lebih dahulu.” (Tao Tee Cing IV,6).

Sifat dan kegaiban alam semesta kelihatan kosong, tetapi justru di dalam kekosongan tersebut terdapat sesuatu yang tiada batasnya. Manusia dalam berbuat, tidaklah perlu takut akan kehilangan. Semakin kita berbuat kebajikan, maka semakin cepat kita terisi kembali dengan kebahagiaan. Itulah sifat Tao yang senantiasa mengisi kembali yang telah digunakan untuk kebajikan.

” Alam semesta seperti alat yang menghasilkan angin (pompa), walaupun kosong tetapi tidak pernah berakhir. Makin banyak dipompa makin banyak menghasilkan angin.” (Tao Tee Cing V, 3).

Menurut Lau Zi, sifat Tao sesuai dengan air, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sifatnya lunak dan lentur, dimana selalu dapat menyesuaikan diri. Merupakan suatu unsur yang terpenting dalam kehidupan di dunia, dapat berdiam di tempat yang bersih maupun tempat yang kotor. Demikian juga dengan kebajikan yang diperbuat manusia, tiada memperhatikan perbedaan, itulah yang akan membawa kebahagiaan. Perbedaan merupakan sumber malapetaka di dunia ini. Berbagai perang antar negara dan suku yang terjadi dari sejak dahulu kala, hanya karena disebabkan perbedaan yang mementingkan sifat ke-aku-an masing-masing pihak. Garis perbedaan yang lebar antara kaya dan miskin, akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial. Sifat Tao pada intinya tidak membedakan, hanya manusialah yang membuat perbedaan berdasarkan daya pikir masing-masing individu atau kelompok sosial tertentu, sehingga persaingan selalu terjadi di alam maya ini, dimana akhirnya menyebabkan makin banyak penderitaan.

” Kebajikan bagaikan air. Air menguntungkan semuanya dan tidak pernah bersaing. Air senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah, bahkan di tempat yang kotor sekalipun, sehingga air seperti sifat Tao.” (Tao Tee Cing VIII, 1).

dikutip dari buku “Tiga Guru, Satu Ajaran” Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: