SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Benarkah Vegetarian adalah Cara Menghindar dari Kanker dan Penyakit Degenerasi?

Kematian Steve Job membuat kita bertanya,  “Benarkah Vegetarian adalah Cara Menghindar dari Kanker dan Penyakit Degenerasi?” , 


Berita kematian dini Steve Job , seorang penemu, pendiri perusahaan komputer Apple sungguh mengejutkan banyak orang. Steve Job meninggal karena kanker  pankreasnya menjalar ke paru-paru. Sejak ditemukan tumor pada pankreasnya pada tahun 2003, Steve sebenarnya sudah berjuang keras melawan kanker yang dideritanya, yaitu antara lain dengan menjadi vegetarian dan pada awalnya menolak untuk dikemoterapi dan mendapatkan pengobatan dengan cara radiasi.

 

Tidak hanya Steve, Patrick Swayze (aktor film Ghost) juga meninggal karena kanker pankreas tahun 2009, dan tidak sedikit para vegetarian yang menderita stroke, kanker dan berbagai penyakit degenarasi yang lain., serta juga meninggal muda. “Ternyata, menjadi vegetarian tidak dapat melindungi seeorang dari kanker”, begitu kesimpulan banyak orang. Dan…, para vegetaris lalu menyanggah, “Steve mungkin tidak murni vegan dan mungkin dia juga merokok atau sekurangnya keluarganya adalah perokok berat dan rokok memang sangat berpengaruh pada kesehatan pankreas. Kalau untuk Patrick, dia jelas terlambat mencoba menjadi vegetarian” .Tapi bagaimana dengan yang lain, yang sudah vegan dan tidak juga merokok tetapi toh juga stroke, kanker, diabetes dst?

 

Menarik sekali perdebatan ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Mari kita tinjau alasan mereka menjadi vegan atau rawfoodist. Sebagian karena masalah keyakinan, sebagian karena sakit ( seperti Steve Job dan Patric),  sebagian ingin menjaga agar tetap sehat, sebagian ingin menurunkan berat badan dan sisanya adalah campuran di antara atau semua hal itu. Yang paling lucu adalah alasan untuk menurunkan berat badan karena ternyata justru banyak para vegetarian atau vegan yang gemuk, bahkan juga tidak jarang rawfoodist yang juga terlihat masih bergelimang lemak…

 

Dari masalah kesehatan, banyak dari mereka mengira bahwa pola vegan atau vegetarian adalah sistem pengobatan. Padahal, tidak makan daging, susu, telur dan ikan serta segala produk hewani adalah sekedar mengurangi resiko terjadinya kanker dan berbagai penyakit degenerasi yang lain. Masih banyak faktor lain yang menimbulkan berbagai masalah degenerasi bagi para vegetaris dan rawfoodist.

 

Protein


Masalah yang tak kalah penting adalah cara berpikir. Tentang protein, misalnya.  Sejak kecil sebagian besar orang di dunia mendapat pengajaran bahwa protein adalah unsur terpenting untuk pertumbuhan badan, kesehatan otak dan pemulihan sel jika kita menderita sakit. Menurut mereka, agar tetap sehat, agar pintar, agar sembuh dari penyakit, mereka harus mengkonsumsi banyak protein. Mereka juga mengira bahwa sumber protein terbesar adalah dari produk hewani sehingga begitu mereka berhenti mengkonsumsi produk hewani dengan alasan apapun, obsesi tentang protein itu masih menghantui mereka sehingga mereka mencari pengganti protein. Mereka lalu mengkonsumsi banyak makanan non hewani yang mengandung protein tinggi, misalnya : kedelai  dan produk kedelai (tempe, protein nabati dst). Dan mereka lalu terlalu banyak mengkonsumsi tanpa pernah berpikir resiko akan “kelebihan protein” (membuat pusing, ‘mulut, tenggorokan dan bibir terasa terbakar’, alergi, deprresi, sulit tidur, kekurangan vitamin D, kekurangan vitamin B2, kekurangan asam folat (B6), atritis, hingga sakit ginjal, parkinson, demensia, kanker dan obesitas1) atau protein itu tidak cocok untuk tubuh mereka . Mereka juga tak pernah berpikir bahwa dengan hanya berhenti mengkonsumsi produk hewani saja, resiko kerusakan sel tubuh mereka menjadi jauh berkurang sehingga kebutuhan protein mereka pun menjadi jauh berkurang. Karena memang tidak cocok untuk tubuh manusia, walaupun bisa tumbuh besar akibat mengkonsumsi produk hewani, produk hewani tidak pernah bisa membuat orang benar-benar sehat dan bahkan cenderung justru mengakibatkan banyak sekali penyakit yang seharusnya tidak usah dialami. Daging dan ikan mengandung racun alami akibat sel-sel inti di dalam dagingnya membusuk dan juga racun yang dikeluarkan hewan secara otomatis ketika mereka menderita atau dibunuh. Produk hewani mengandung banyak sekali pestisida dan zat tambahan seperti : methoxychlor, chlordane, heptachlor, toxaphene, lindane, benzene, hexachloride, aldrin, dieldrin, DDT, sex hormones, stilbestrol, nitrates, nitrites dst. Kadar pestisida yang terakumulasi di dalam daging, telur dan susu lebih besar dari 10 kali lipat kadar pestisida yang terdapat pada buah dan sayuran yang disemprot.  Selain itu, semua produk hewani adalah pendukung utama masalah kolesterol bagi kesehatan tubuh.

 

Kembali kepada masalah protein….Tidak hanya mereka yang awam, tetapi banyak dari mereka yang merasa ahli nutrisi juga terpaku pada hitung-hitungan kadar protein suatu rangkaian bahan yang mereka anggap sebagai makanan sehat. Mereka juga terobsesi bahwa manusia memerlukan protein begitu banyak dan mereka juga melupakan bahwa protein itu harus dipecah dulu menjadi asam amino dan diubah kembali menjadi protein yang diperlukan tubuh. Mereka juga lupa bahwa sesungguhnya apapun yang kita makan selalu mengandung protein, apakah itu sayur,  kacang, beras dan bahkan juga buah.  Tidak satupun yang tidak mengandung protein.

 

Hanya 6% dari kalori yang terdapat dalam ASI yang berupa protein3) dan itulah yang dibutuhkan oleh tubuh pada saat-saat penting untuk berkembang dan tumbuh dengan cepat. Adalah aneh kalau orang yang sudah tidak tumbuh, sudah matang atau dewasa dan sehat memerlukan protein lebih tinggi dari bayi.

Banyak orang yang membedakan antara “asam amino” dan “asam amino utama”. Mereka mengatakan bahwa asam amino utama tidak dapat diproduksi dan disimpan oleh tubuh manusia dan, karenanya, harus didapatkan dari asupan makanan (produk hewani) atau suplemen. Tetapi, bagaimana dengan simphanse dan gorila? Mereka toh mendapat kecukupan protein walaupun mereka hanya banyak makan buah saja bukan? Yahh…, manusia toh bukan gorila.., mungkin gorila bisa dan manusia tidak. Lalu, bagaimana orang yang hanya makan buah saja (fruitarian), mereka yang menjalani diet makanan mentah, bahkan mereka yang breatharian (hanya mengkonsumsi udara, tidak makan dan tidak minum sama sekali), dari mana mereka mendapat asam amino utamanya? Mengapa mereka justru nampak jauh lebih sehat, segar dan bugar? …….

 

Konsep asam amino utama itu pertama kali dikemukakan oleh William Cumming Rose dkk pada tahun 19524). Jika kita mengkonsumsi makanan mentah dan menghitung jumlah tiap jenis asam amino seperti disebutkan oleh Rose, baik yang berupa kombinasi maupun satu jenis makanan saja (satu jenis buah atau satu jenis sayur), kita sudah mendapatkan semua asam amino utama itu secara lengkap.

 

Saat ini, perbedaan antara asam amino utama dan asam amino tidak utama menjadi tidak jelas. Sejumlah asam amino yang dikatakan “utama” bisa saling berubah menjadi asam amino utama yang lain5). Asam amino dikatakan atau menjadi utama hanya untuk beberapa kasus belaka.

 

Sementara perdebatan tentang konsep asam amino utama masih terus berlanjut,  para fruitarian rawfoodist makin kelihatan bugar walau mereka tidak mengkonsumsi obat dan suplemen….. Mereka tahu bahwa orang yang lain justru cenderung kelebihan protein. Mereka yang kekurangan protein adalah mereka yang kurang makan, asupan kalorinya  (bukan protein) kurang. Jika kita kurang makan maka tubuh juga kekurangan semua nutrisi (macro-nutrients, micro-nutrients, phyto-nutrients dst). Jika protein yang terdapat di dalam makanan itu dimasak maka akan menjadi sumber nutrisi yang tidak cocok (misalnya: daging, telur, dan juga biji-bijian), protein itu sendiri sulit diuraikan menjadi asam amino sederhana dan menjadi tidak berguna dan bahkan justru berbahaya bagi tubuh manusia.

 

Kebutuhan protein juga tidak meningkat jika kita banyak melakukan kegiatan fisik atau bahkan menjadi atlit  bina raga atau atlit angka berat, kecuali jika kita masih sibuk dengan makanan yang dimasak atau diproses6). Berapa banyak pun melakukan kegiatan fisik, peningkatan kebutuhan protein tidaklah terlalu besar atau bahkan bisa diabaikan. Yang kita perlukan adalah energi dan bukan protein. Dengan kata lain, tanpa menyebutkan racun yang terdapat di dalamnya atau efek kelebihan yang mungkin terjadi, tambahan suplemen protein tidak lah ada gunanya.

 

Jika kita mau mencoba melakukan pola makanan mentah sekurangnya 30 hari maka kita tak akan pernah berpikir lagi tentang kekurangan protein dan kita akan melihat peningkatan kebugaran yang luar biasa. Steve Job dan Patrick Swayze tidak perlu meninggal dini jika dulu mereka mau melakukannya.

 

Mari kita mencoba melakukan pola makan makanan mentah!

 

 

(bersambung)

 

1) Wai Genriiu, http://www.13.waisays.com/protein.htm

2) http://www.theredpillprogram.com/foods-causing-depressions-and-sleeplessness/

3) Frederic Patenaude, http://www.fredericpatenaude.com/blog/?p=80

4)William Cumming Rose and Amino Acids (1887-1985), American Chemcial Society.

http://acswebcontent.acs.org/landmarks/landmarks/noyes/rose.html.

5) The distinction between essential and non-essential amino acids is somewhat unclear, as some amino acids can be produced from others. The sulfur containing amino acids, methionine and homocysteine, can be converted into each other but neither can be synthesized de novo in humans. Likewise, cysteine can be made from homocysteine but cannot be synthesized on its own. So, for convenience, sulfur-containing amino acids are sometimes considered a single pool of nutritionally-equivalent amino acids as are the aromatic amino acid pair,phenylalanine and tyrosine. Likewise arginineornithine, and citrulline, which are interconvertible by the urea cycle, are considered a single group. http://en.wikipedia.org/wiki/Essential_amino_acid.

6) Nutrition and Athletic Performance – Position of the American Dietetic Association, Dietitians of Canada, and the American College of Sports Medicine. J Am Diet Assoc 2000;100:1543-56.

 


Makanan mentah atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.


No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: