SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Apakah Tumbuhan Memiliki Kesadaran?

Apakah Tumbuhan Memiliki Kesadaran?

Pada pembahasan tentang “Meraih Kebijaksanaan & Pesan Moral dari Tumbuhan”1) yang lalu, kita melihat bagaimana tumbuhan bersimbiose dengan makhluk hidup di sekitarnya. Mereka menyediakan makanan “hanya dan hanya” untuk spesies tertentu saja (“bukan semua spesies”) yang mungkin diajaknya bekerja sama di alam semesta ini. Makanan itu sangat enak, sangat cocok bagi kesehatan spesies terpilihnya, yaitu supaya kelangsungan hidup mereka menjadi harmonis dan berkelanjutan dengan sehat serta sangat indah dan damai.

Hal ini membuat teringat beberapa hal yang kami (saya dan isteri) sering perhatikan. Ketika bawang-bawang dan jahe yang sudah dipotong, dimasukkan ke dalam plastik, disimpan di kulkas, kami melihat mereka tetap berusaha tumbuh. Beberapa tunasnya keluar. Rasa haru menyentak membuat keinginan  untuk melanjutkan mengkonsumsinya terhenti.

Rasa pedas dan menyengat tentu merupakan salah satu cara (antibodi, racun?) bagi bawang dan jahe untuk bertahan dari para predatornya. Tapi, toh kita sering berusaha untuk beradaptasi memanfaatkannya menjadi bumbu merangsang nafsu makan. Apapun, “nafsu” tentu tidak baik dan tidak harmonis bukan?

Bila nasibnya terasa terancam, lepas dari antibodi yang dikeluarkannya, tidak hanya hewan, tanaman pun punya perasaan. Isteri saya selalu berusaha berbicara dengan tanaman yang dirawatnya. Tanaman itu seakan menunjukkan rasa terima kasih kepadanya dengan tumbuh lebih baik. Tapi, itu juga bisa merupakan kebetulan belaka, karena tanaman itu mendapat perhatian dan tentu perawatan yang lebih baik.

Di rumah, kami punya pohon intaran2). Sudah lama pohon ini menyandar pada pagar rumah dan kami selalu berpikir untuk memotongnya agar pagar itu tidak rusak. “Pagar itu tentu tidak lama lagi akan rusak karena tidak kuat menahan pohon Neem kami yang kian membesar”, tapi terngiang dengan tunas-tunas bawang dan jahe potong yang tetap tumbuh di dalam plastik di tempat yang sangat dingin di dalam kulkas, kami juga tidak pernah tega memotongnya hingga pada suatu hari ketika kami akan pergi agak lama, isteri saya mencoba memotongnya sambil berkata minta maaf karena terpaksa harus melukainya. Pohon itu terlalu keras, parang kami tidak cukup besar dan tajam untuk memotongnya sehingga akhirnya isteri saya membiarkannya dengan luka menganga sambil sekali lagi berkata “maaf, tak berhingga maaf”.

Anehnya, pulang dari bepergian lama, sekitar 12 hari lamanya kami pergi, luka pohon neem itu masih berbekas, tapi dia sudah berdiri tegak, tidak bersandar lagi ke pagar, padahal sudah bertahun-tahun dia selalu menyandar. Rupanya dia mengerti apa yang kami pikirkan, atau setidaknya “begitulah anggapan kami”.

Peristiwa ini juga serupa dengan cerita dari seorang teman yang dipublikasinya dalam sebuah majalah intern (untuk kalangan sendiri)3)………

Sekitar 30 tahun yang lalu “saya” (“teman” itu) pernah membaca buku karya Cleve Backster tentang kemampuan tanaman yang dapat merasakan emosi manusia. Saya menceritakan tentang hal ini kepada rekan kerja saya yang juga sangat tertarik sehingga kami memutuskan untuk membuat percobaan setelah istirahat makan siang kami selesai.

Di dalam kantor terdapat sebatang tanaman hijau yang kami gunakan sebagai objek percobaan. Kami meletakkannya di atas meja untuk diukur kekuatan elektris di antara kedua daun dengan menggunakan alas handuk basah pada setiap daun, serta sebuah ohm-meter digital.

Menurut prosedur Backster, langkah selanjutnya adalah kita harus membakar salah satu daun tanaman agar dapat mengukur reaksinya. Akan tetapi, siapa yang akan menjadi sukarelawan? Kami kemudian saling berpandangan. Saat itu, meskipun tidak ada seorang pun di antara kami 
yang mengikuti jalur rohani, tidak seorang pun di antara kami yang ingin melukai tanaman tersebut. Ketika kami sedang berpikir, meteran itu tidak berubah banyak.

Akhirnya, salah seorang dari kami mengajukan diri dan berkata, “Beri 
saya korek api, saya akan membakarnya…” Tetapi, sebelum ia sempat bangun dari kursinya, alat ukur itu melonjak dua kali lipat dari catatan sebelumnya! Tentu saja kami menghentikannya dan mengatakan bahwa kasus itu telah terbukti dan tidak perlu melukai tanaman itu. Meteran itu dengan perlahan-lahan kemudian kembali merosot turun ke tingkat sebelumnya.

Setelah memikirkan hal ini, saya kemudian menyadari,  tanaman dapat memberikan perlawanan persis seperti apa yang diharapkan. Bagi sebatang tanaman, api mungkin merupakan sesuatu hal yang paling ditakuti. Tanaman tidak dapat melarikan diri, jadi ia menarik daya-hidup dari daun-daun yang terancam tersebut. Dengan berkurangnya kadar air di daun maka arus listrik berkurang, dan hal ini tercatat di meteran.

Setidaknya tumbuhan merupakan makhluk hidup. Sekalipun tidak memiliki saraf perasa seperti pada hewan, tetapi tumbuhan memiliki dinding-dinding sel selulosa yang tidak dimiliki oleh hewan. Hewan dapat merasa terluka, bahagia dan berbagai emosi yang lain karena adanya sistem saraf. Otak dan sistem saraf penting untuk kesadaran diri.

Tumbuhan bereaksi atas perubahan fisika dan kimia, tapi tidak berarti kita bisa menyimpulkan bahwa tanaman bisa memberikan perhatian atau sadar pada perubahan tersebut. Tanaman memiliki DNA dan ikut serta dalam seleksi alam. Beberapa tanaman juga kelihatan cerdas, tetapi mengatakan bahwa tanaman memiliki kecerdasan atau bahkan memiliki saraf biologis, tentu masih sulit diterima oleh kalangan ilmiah.

Cleve Backster mencoba mengamati dan mempublikasikannya dalam jurnal ilmiah4). Cleve menemukan bahwa tanaman bereaksi terhadap pikiran dan ancaman. Tapi, benarkah tanaman punya perasaan? Bagaimana ia bisa bereaksi terhadap pikiran atau gangguan di sekitarnya?

Apapun analisanya, entah secara alami atau memang punya semacam saraf sensor atas bahaya, tanaman dapat memilih dan memberikan perlawanan, perlindungan diri atau menghindari dari serangan atau ancaman yang diberikan kepadanya. Tanaman juga memberikan yang terbaik kepada spesies yang baik dan berguna kepadanya.

Buah matang adalah buah yang sudah ikhlas diberikan kepada spesies tertentu yang menyukainya. Rasanya manis dan membangkitkan selera pada spesies tertentu saja. Sekalipun kita menyukai buah mangga matang pohon yang manis segar rasanya, toh tak ada (atau hanya sedikit) kucing yang menyukainya bukan?

Sekalipun banyak orang mengatakan dirinya suka pada lombok, apakah kita bisa dan suka mengunyahnya mentah-mentah tanpa disertai bahan yang lain?

Buah matang manis lokal dan gratis (karena ditanam sendiri) tentu merupakan yang terbaik. Mereka mempersembahkan kepada spesies-spesies tertentu di sekitarnya. Kita tidak akan pernah bisa berhenti mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Kalau Dr. Masaru Emoto5) mengatakan bahwa kita dapat berbicara melalui air, tentu segala sesuatu yang penuh air itu akan mengantarkan ucapan terima kasih kita kepada lingkungan sekitar dan alam semesta.

Rasa syukur tak berhingga kita perlihatkan dengan bertindak (makan, berpikir, tidur, melamun dst) harmonis dengan alam. Kalau benar orang lalu tertarik berbuat yang sama karena kita menjadi lebih sehat, lebih segar, lebih ceria dan selalu berbahagia serta makin keren, dapatkah kita menyalahkan mereka?

Kuncinya selalu sama : buah segar matang manis tak berlemak murah lokal dan kalau bisa gratis ditambah dengan sayuran segar organik yang berwarna hijau.

Salam sehat segar bugar dan bahagia!

—————————————————-

1) Bisa didapatkan di Loving Hut, Pertokoan Sudirman Agung B12A, Depasar, Bali, atau di Loving Corner, Jl. Gading Griya Lestari D1/23, Jakarta Utara

2) Pohon intaran atau pohon Neem dikenal sebagai pohon yang dapat melindungi banyak masalah ligkungan dan masalah kesehatan. Pohon ini juga dikenal sebagai pohon yang dapat menyembuhkan lebih dari 100 macam penyakit.

http://www.neemfoundation.org/neem-articles/about-neem-tree/contemporary-importance.html

3) David R. Brooks, Perth, Australia, “Sebuah Bukti Ilmiah dari Pengaruh Sikap” (asli dalam bahasa Inggris), Majalah Berita 163, Asosiasi Internasional Maha Guru Ching Hai, 25 Juli 2006.

http://kontaktuhan.org/news/news171/ref_58.html

4) Cleve Backster, “Evidence of a Primary Perception in Plant Life”, International Journal of Parapsychology vol. 10, no. 4, Winter 1968, pp. 329-348, 1968.

5) Masaru Emoto, translated by David A. Thayne, “The Hidden Messages in Water”, Beyond Words Publishing Inc., 2004.

 

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: