SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal


http://print.kompas.com/baca/2015/09/06/Perjalanan-Spiritual-lewat-Musikal

image

Kutipan dari Harian Kompas 6 September 2015

Perjalanan Spiritual Lewat Musikal Cetak | 6 September 2015 

Seandainya aku tahu di mana kau berada

Aku akan berlari mencarimu

Tapi sayang, aku terlahir buta

Tak bisa mendaki ke puncak tertinggi aku

Lebih parah lagi, sebagai orang bisu dan tuli

Aku tak bisa memanggil, atau mendengar suaramu… Tuhan….

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS)Salah satu adegan di gerbong kereta api.

Begitu kira-kira terjemahan lagu dari musikal Loving the Silent Tears. Libreto diangkat dari puisi karya Maha Guru Ching Hai, tokoh spiritual asal Vietnam yang pengikutnya tersebar di sejumlah negara. Pentas Loving the Silent Tears digelar perdana di Shrine Auditorium, Los Angeles, pada 27 Oktober 2012. Videonya kemudian beredar ke seluruh dunia. Pada Minggu (30/8) musikal itu diputar di Jakarta oleh komunitas vegan.

Di belakang musikal ini ada orang- orang hebat. Mereka adalah sutradara Vincent Paterson yang pernah menggarap konser dunia Michael Jackson dan Madonna. Ada Jorge Calandrelli, komposer, penata musik, peraih enam kali penghargaan Grammy yang pernah menggarap musik untuk Placido Domingo, Barbra Streisand, Andrea Bocelli, Tony Bennett, Celine Dion, dan Madonna. Orkestrasi dan konduktor Doug Katsaros. Koreografi dan tari ditangani Lula Washington Dance Theatre.

Musikal melibatkan penyanyi terkenal Jon Secada, Jody Watley, kelompok reggae Black Uhuru. Plus belasan penyanyi pendukung dari Perancis, Arabia, Italia, Vietnam, Irlandia, Korea, Tiongkok, dan lainnya.

Menarik bagaimana menikmati puisi karya tokoh spiritual itu diadaptasi menjadi libreto dan lagu. Seperti kita tahu, libreto merupakan bagian dari elemen penting musikal. Adaptasi digarap dengan pendekatan nge-pop, layaknya lirik lagu pop. Musik digarap melibatkan berbagai genre, seperti pop, rock, jazz, klasik, danreggae.

Koreografi digarap dengan kaidah- kaidah tontonan panggung musikal yang penuh gebyar, cerah. Ada beragam elemen tari, mulai dari gaya kabaret, tari rakyat Rusia, hingga tak kurang dari 16 kultur global. Hasilnya, Loving the Silent Tears ternikmati sebagai musikal segar, menghibur, lewat musik dan tari, tanpa kehilangan spiritualitasnya.

 Indah, mengalir

 Di tengah tontonan musikal yang meriah gemerlap itu, penonton diajak merenung tentang kesejatian hidup. Tentang upaya mencari kedamaian jiwa dan makna cinta. Tokoh-tokoh dalam musikal ini menyebut diri sebagai orang dengan poor soul, jiwa miskin. Mereka berada dalam perjalanan mencari kesejatian itu. While I am athirst in the desert of existence/ You’re drinking nectar somewhere in the heavenly abode…. Ketika aku haus di gurun kehidupan/Kau minum madu di rumah surgawi.

 

Loving the Silent Tears dibangun dengan struktur naratif yang diolah dari puisi. Narasi menyatu dengan komposisi (score) sebagai satu kesatuan ucap. Narasi tidak menjadi pengantar, seperti yang sering dijumpai pada musikal-musikal murahan. Atau dengan kata lain bisa dikatakan, komposisi terintegrasi dengan struktur naratif, dan bukan terpenggal-penggal sebagai medley.

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Penampilan Patti Cohenour

 

(BUKU: LOVING THE SILENT TEARS) Harmoni tiga penyanyi dari Israel, Arab, dan Iran.

 Semua elemen dalam musikal tersebut, termasuk koreografi, digunakan untuk bercerita tentang kebahagiaan lahir batin yang bisa diraih setiap orang. Kebahagiaan yang dibangun dengan cinta, hati damai, kebaikan, dan saling memaafkan.

Musikal disodorkan dengan cerita yang jernih, ringan mengalir. Tokoh utama ”cuma” tiga, yaitu kondektur, dan dua penumpang kereta api, tetapi mereka mewakili tipe-tipe manusia. Setting”cuma” sebuah gerbong kereta, dalam perjalanan semalam, tetapi, kereta menjelajah melintas ke segala penjuru dunia, dan bertemu dengan orang dari berbagai sudut bumi. Ada metafora universalitas persoalan manusia.

Dalam kereta itu ada Conductor yang diperankan aktor Junior Case dan Joy (Patti Cohenour), perempuan yang menulis buku harian tentang kematian putranya dan membawa duka sepanjang hidupnya. Lantas ada Pete (Luke Eberl), pemuda yang menganggap bahwa sukses hidup adalah uang. Sampai-sampai ia berpandangan, ”And who needs God when you have money—siapa yang butuh Tuhan kalau Anda punya uang.”

Ketiganya melakukan perjalanan kereta. Lagi-lagi ini metafor sebuah perjalanan spiritual mencari pencerahan. Seiring perjalanan, mereka saling belajar. Bahwa manusia memerlukan ”asuransi spiritual”, bukan asuransi properti. Termasuk ketika mereka bertiga terlempar dari kereta, dan terdampar di padang gurun. Kala kereta datang kembali mereka telah sampai pada salah satu stasiun pemahaman tentang hidup.

”Semua saling mencinta, semua peduli, dan semua saling memaafkan. Semua menyayangi ciptaan. Ada ruang yang luas di surga di atas sana….”

Seluruh persoalan hidup, permenungan, dan pencerahan itu terjelmakan dalam lagu dan terintegrasi dengan narasi secara mulus dan rapi. Tidak terasa ada sandungan yang memberi kesan bahwa lagu itu hanya ilustrasi.

Seluruh koreografi terancang menyatu dengan narasi. Begitu beragam gerak tarinya, mulai dari samba, tarian persia, skotlandia, hingga rusia. Musik dan tari cukup berimbang dengan narasi. Tidak terasa ada dialog yang panjang, atau musik dan tari yang terlalu panjang. Serba terukur dan seimbang.

Penonton Loving the Silent Tears diajak menikmati perjalanan spiritual lewat musik, nyanyi, dan tari. (XAR)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 September 2015, di halaman 32 dengan judul “Perjalanan Spiritual Lewat Musikal”.

 

%d bloggers like this: