SumanSutra

"Am a Vegan and Green to Save the World" twitter: @sumansutra fb:sumansutra LinkedIn: sudarman email: sumansutra@gmail.com

Detoksifikasi

Detoksifikasi


Menurut wikipedia1), detoksifikasi adalah pengeluaran zat beracun dari makhluk hidup (tidak terbatas hanya tubuh manusia). Dalam sistem pengobatan konvensional, detoksifikasi dapat dicapai dengan menelan racun dekontaminasi , menggunakan penangkal,  serta teknik dialisis (pengeluaran sampah dan air yang berlebihan yang terdapat dalam darah). Contohnya : detoksifikasi alkohol, detoksifikasi narkoba, detoksfikasi metabolisme dan ada juga yang menggunakan detoksifikasi dengan metoda alternatif. Dengan metoda alternatif mereka menyatakan bahwa “racun” yang terdapat tubuh dapat dihilangkan dengan ramuan herbal, terapi listrik atau elektromagnetik dan juga Aqua Detox. Proses detoksifikasi itu biasanya disertai dengan kerusakan tubuh dan menyebabkan perasaan tidak enak atau gangguan kenyamanan tubuh yang lain. Beberapa contoh terapi detoks adalah :  pembersihan colon, hidroterapi (mandi air hangat dan dingin bergantian), bantalan detoks (bantalan ini direkatkan pada kaki selama orang tidur dan konon  dapat menarik racun dari tubuh), diet detoks (detoksifikasi dengan mengubah pola makan), terapi minum banyak air dan masih banyak lagi.

 

Kalau benar racun itu bisa keluar dari tubuh dengan berbagai metoda di atas, tubuh tentu menjadi ringan dan akan bekerja dengan lebih efektif. Tetapi, pada link wikepedia tersebut di atas, disebutkan pula bahwa banyak metoda detoksifikasi yang tidak banyak gunanya dan bahkan memberikan efek samping yang tidak menyenangkan dan gangguan kesehatan jangka panjang.

?

 

Suplemen?


Ada seorang teman yang mengkonsumsi suatu suplemen, kepalanya lalu sangat pening menyengat dan tubuhnya pegal-pegal. Tetapi dia tidak risau dan justru melanjutkan mengkonsumsi suplemen tersebut karena dia sudah memperkirakan kejadian itu sebelum mengkonsumsinya. Penjual suplemen mengatakan kejadian itu sebagai proses detoksifikasi atau pengeluaran racun dan, katanya, setelah proses detoks itu usai, tubuh akan segar dan menjadi prima. Penjual itu bahkan menambahkan, kalau tidak melalui proses itu bearti suplemen itu tidak terlalu bermanfaat atau memang tubuh pengkonsumsi dalam kondisi yang benar-benar prima sehingga tidak ada racun di dalam tubuhnya.

 

Begitu pula ketika teman yang lain yang juga mengkonsumsi suatu suplemen yang berlainan. Mulutnya menjadi kemerahan dan mendadak menderita sariawan. Lagi-lagi penjual suplemennya mengatakan itu hal yang bagus karena merupakan proses detoksifikasi.

 

Banyak kejadian yang serupa itu dan para konsumen selalu berhasil diyakinkan para penjual bahwa berbagai gejala yang menyakitkan atau kelainan tubuh pada awal mengkonsumsi adalah suatu proses detoksifikasi. Mereka tidak pernah memikirkan atau ingin tahu  racun apa sebenarnya yang sudah terbuang. Hebatnya, mereka akan merasa mengalami perbaikan begitu selesai dengan apa yang mereka sebut dengan “detoksifikasi” tersebut.

 

Kejadian ini juga dialami oleh perokok dan pengkonsumsi narkoba. Mereka mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan pada awal mereka mengkonsumsinya. Tetapi, apakah mereka juga mengalami proses detoksifikasi? Racun apa yang dikeluarkannya? Mengapa mereka juga merasa nikmat setelah melewati proses yang serupa detoksifikasi pada para pengkonsumsi suplemen itu?

Pikir berkali-kali sebelum mengkonsumsinya ….

. …………….

 

Rokok dan Kopi atau Teh


Ketika racun nikotin dari rokok atau cafein dari kopi atau teh masuk ke tubuh, tubuh melakukan adapatasi, jantung bergerak lebih cepat, tekanan darah meningkat sehingga tidak dipungkiri mereka yang kelelahan atau mengantuk akan tergugah kembali bersemangat. Walau tubuh sudah capai dan perlu memperbaiki diri, racun-racun itu memicunya agar kembali bersemangat dan bekerja seperti sediakala tanpa penambahan nutrisi apapun dan terjadilah ketidakseimbangan. Tak terasa, racun itu berakumulasi terus menerus dalam tubuh sehingga suatu saat meledak menjadi berbagai penyakit. Dan, tidak hanya itu, begitu tubuh makin “tekor” dan terus dipicu, tentu tubuh memerlukan racun-racun itu kian banyak. Tubuh akan makin tergantung pada racun-racun tersebut. Orang mengatakannya, mereka sudah menjadi pecandu rokok atau kopi.

 

Steroid dan Narkoba


Seperti juga narkotik, dalam dunia medis, terkadang penggunaan steroid diperlukan untuk mengobati atau membantu seseorang dalam keadaan sangat terpaksa, misalnya : nyeri menyengat karena rematik atau artritis, lupus, peradangan dst, tetapi itupun dalam pengawasan dokter yang ketat. Namun, banyak suplemen yang mengandung steroid yang beredar di pasaran yang juga mendapat pengesahan dari Departemen Kesehatan terus beredar dan beriklan bahwa bisa menaikkan stamina, meningkatkan libido, menyembuhkan kanker, mempercepat pertumbuhan tulang, menambah berat badan dan “menjadi lebih kuat dan agresif dalam berolah raga”. Rasa sakit, nyeri, pening tak tertahan pada awal mengkonsumsinya menjadi terlupakan dengan bayangan tentang apa yang bakal diperolehnya.

 

Hanya saja, seperti juga rokok dan kopi, semua itu bersifat stimulan atau sintesa belaka. Tubuh terus dipaksa untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya. Oleh karena itu, semua atlit di olimpiade selalu dilarang menggunakan steroid atau mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung ‘anabolic steroid’. Sekitar satu dasawarsa yang lalu, bahkan seorang perenang di Indonesia, yang tidak sengaja mengkonsumsi obat-obat herbal yang mengandung steroid, dilarang ikut pertandingan internasional karena hasil tes urinnya memperlihatkan dia mengkonsumsi steroid. Pelari wanita tercepat di dunia, Florence Friffith-Joyner yang juga dikenal dengan panggilan Flo-Jo, meninggal pada usia 38 tahun karena epilepsi, dan ditenggarai penyebab utamanya adalah steroid.

Pada tahun 2006, pelari Justrin Gatlin dari Amerika Serikat dicopot gelar juaranya karena menggunakan steroid. Tahun 2007, Komite Olimpiade Internasional mencabut 5 medali yang diraih oleh Marion Jones juga karena steroid.  Tahun 2008, pegulat andalan China, Luo Meng, dihukum seumur hidup tidak boleh mengikuti olimpiade Beijing karena terbukti menggunakan steroid. Tahun 2011, pembalap Alexandr Kolobnev juga terdeteksi menerima sangsi karena menggunakan steroid.

 

Bagaimana dengan kemampuan seks? Tubuh akan terangsang untuk memproduksi hormon seks atau material seks lebih banyak, sehingga terlihat memang bisa meningkatkan libido. Tapi, lagi-lagi tubuh dipaksa untuk memproduksinya di luar kemampuannya. Seperti juga yang lain, efek ketergantungan akan makin panjang jika mereka makin rutin mengkonsumsinya. Mereka tak mampu memproduksi lagi tanpa rangsangan steroid karena sesungguhnya tubuh sudah kekurangan zat-zat yang berguna di dalamnya.

 

Walaupun pada awalnya seakan menaikkan libido, tetapi penggunaan steroid dalam jangka panjang justru akan menghentikan produksi testosteron. Mudah berereksi akibat stimulasi testosteron tentu tidak bisa diartikan bahwa terjadi peningkatan kemampuan seks, testis justru menghentikan produksi testosteron ketika steroid digunakan dan akhirnya bisa mengerut dan menyebabkan kemandulan. Dan yang memalukan, penis akan lebih mudah berereksi tanpa sebab yang jelas dan klitoris para wanita akan memanjang jika mereka mengkonsumsinya secara rutin. Terjadi ketidak keseimbangan dalam tubuh, yaitu tingkat testosteron rendah dan tinggi estrogen. Perubahan hormonal ini akan menyebabkan depresi dan ‘mood’ yang tidak menentu dan akhirnya juga menjadi masalah libido sendiri dan ketidakmampuan seksual (impoten)2,3).

 

 

Perubahan Pola Makan

 

Banyak orang yang mengatakan bahwa dengan melakukan perubahan pola makan membuat tubuh sering menjadi bingung serta membuat berbagai ketidaknyamanan, dan konon katanya pula bahwa hal itu merupakan proses detoksifikasi. Itu memang benar, yaitu begitu tekanan osmosis larutan di luar dan di dalam tubuh berubah keseimbangannya maka akan terjadi tukar menukar zat. Jika dalam tubuh banyak mineral zat beracun maka sebagian zat beracun itu keluar. Tetapi, tentu tidak menutup kemungkinan zat-zat yang berguna juga ikut keluar bukan? Bahkan, jika tekanan itu besar maka juga ada kemungkinan jaringan berpori sangat lembut itu sobek atau terluka.

 

Sejumlah orang yang biasanya adalah pemakan daging, seafood,  gorengan, yang rakus dan lalu tiba-tiba melakukan diet ringan seperti vegetarian,  mereka akan sudah merasakan proses yang tidak nyaman tersebut. Beberapa yang menderita kanker dan berbagai keluhan yang lain diceritakan sembuh karenanya. Tetapi, mengapa tidak sedikit mereka yang vegetarian yang juga stroke, menderita batu ginjal, pembengkakan batu empedu, diabetes dan juga kanker?

 

Kanker memang terutama disebabkan oleh produk hewani karena produk hewani sangat bersifat asam dan mengandung banyak hormon pertumbuhan dan akumulasi sampah lingkungan yang begitu besar. Tapi, sampah makanan yang lain juga masih banyak dikonsumsi oleh mereka yang sekedar menjadi vegetarian, misalnya : terlalu banyak mengkonsumsi protein, gorengan, nasi, gula, garam dan/atau penyedap., mudah mengkonsumsi suplemen, antibiotika, obat-obat penghilang rasa sakit dst. Akibatnya, tidak jarang mereka justru menjadi menderita kanker karena mereka tidak taku makan sebanyak-banyaknya asalkan tidak mengandung produk hewani. Mereka mengira bahwa vegetarian adalah segala-galanya bagi kesehatan. Dan bila sudah sakit, lagi-lagi mereka sekedar berobat dan tidak mencari apa yang menyebabkan mereka sakit.

 

Kalau teori detoksifikasi itu benar……,mereka yang sudah lama bervegetarian,  hanya makan tanpa produk hewani bukanlah merupakan suatu perubahan sehingga tidak ada yang memaksa tubuh mengeluarkan sesuatu. Mereka baru memperlihatkan perbaikan setelah mereka meningkatkan tata cara makan mereka, menjadi rawfoodist, misalnya. Betul kan?

 

Efek Detoksifikasi

 

Lagi-lagi kalau kita anggap teori detoksifikasi itu benar, kalau memang benar bisa mengeluarkan racun … , tentu rasa tidak nyaman dan akibat samping dari terapi yang dilakukan berbeda dari satu orang ke orang yang lain, tergantung juga dari perbedaan tekanan kelarutan yang terjadi, tergantung dari kecepatan aliran dan perubahan arah kelarutan, tergantung pada besar, kepadatan zat-zat racun dan zat berguna yang keluar masuk melalui pori-pori superlembut dari bagian tubuh. Kalau tekanan itu terlalu besar atau kecepatannya terlalu tinggi dan pori-pori lembut itu terlalu tipis, bisa-bisa jaringan itu sobek dan terluka. Kalau lukanya cukup serius dan terjadi pada bagian jantung, misalnya, tentu juga bisa berakibat fatal.

 

Oleh karena itu, kalau toh kita mengira bermanfaat,  terapi detoksfikasi yang keras seyogyanya dilakukan hanya bila terpaksa dan dalam pengawasan dokter atau ahli pengobatan yang baik, yang mengerti dan mau mengerti.

 

 

Lalu, apa langkah yang terbaik?

 

Hehehehehe…. , seperti sudah kita duga, langkah terbaik tentu memperbaiki kualitas tubuh. Kalau tubuh sehat, semuanya berjalan dengan lancar bukan? Stamina baik, penampilan juga bagus, dst. Mengapa kita tidak memilih yang aman saja?

 

“Buah manis tanpa lemak, sayuran segar dan sedikit biji, hindari produk hewani, hindari gula, hindari pengawet dan makanan diproses” tentu saja merupakan cara yang lebih bijak daripada mengkonsumsi suplemen atau harus melalui ‘detoksifikasi’ seperti yang mereka kira. Selain lebih aman, yaitu karena kadar racunnya jauh lebih sedikit ketimbang ‘produk hewani’, ketimbang ‘produk-produk olahan yang sarat dengan seasoning dan sudah berubah menjadi racun baru akibat proses pemanasan’, buah segar dan sayur organik segar memang benar-benar menyegarkan. Kerja tubuh akan menjadi ringan dan punya kesempatan memperbaiki dan meregenerasi diri. Jangan terkejut bila sesudah itu tubuh terasa lentur, kulit bersinar, pikiran jernih dan menjadi riang gembira.  Setelah lebih 21 hari melakukan pola makan ini, jangan juga heran bila kita menjadi sadar bahwa 21 hari sebelumnya ternyata kita memiliki begitu banyak penderitaan dan penyakit yang tak kita sadari.

 

Sebanyak dan sesering mungkin makan buah manis tanpa lemak ketimbang makan nasi penuh lauk akan sangat membantu proses transisi menuju pola makan yang lebih sehat tanpa mengalami ‘proses detoksifikasi yang keras (menyakitkan)’ atau bahkan tanpa mengalaminya sama sekali. Kalau sudah terbiasa, tentu kita tidak perlu makan buah manis tanpa lemak sebanyak dan sesering itu dan kita tetap tidak akan ketagihan (“craving”) pada makanan-makanan yang kurang baik.

 

Tidak percaya?  Hehehehe….., silahkan mencoba dan jangan ceritakan hasilnya kepada banyak orang ya?!



 

——————————————

 

 

1) http://en.wikipedia.org/wiki/Detoxification

2) http://www.bodybuildingweb.net/blog/steroid-facts-and-myths/

3) http://www.steroidabuse.com/steroid-myths.html

 


Makanan mentah atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,581 other followers

%d bloggers like this: